Stop Menjadi Setengah Nahdliyyin

Ilustrasi - Indonesia = PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945). (*/NUO)
Bagikan yuk..!

Oleh: Ahmad Dardiri Zubairi *)

Paska aksi 212, FPI sebagai motor aksi menyita perhatian umat Islam di Indonesia. Di media massa, apalagi di media sosial FPI menjadi trending topik. Setiap hari nyaris tak ada pemberitaan tanpa FPI. FPI sebagai motor aksi telah memunculkan banyak spekulasi yang mengakibatkan sikap pro-kontra.

Sayup-sayup FPI tiba juga di Madura. Kebetulan organ yang memfasilitasi di Madura sudah siap, yaitu AUMA (Aliansi Ulama Madura), sebuah ormas baru yang lumayan keras. Karena itu dengan mudah FPI tinggal dikloning. Setidaknya ini yang terjadi di Sumenep, meski di daerah lain seperti Bangkalan FPI jauh lebih dulu berdiri ketimbang AUMA.

Sebagai ormas baru AUMA, yang 2-3 tahun kemarin didirikan, sepertinya mau mengulang peran Bassra yang ketika pemerintah ORBA kritis kepada penguasa, terutama berkaitan dengan rencana pembangunan jembatan Suramadu, meski saya melihat perannya sangat beda. Di samping fokus isunya berbeda, AUMA sepertinya memiliki jaringan kuat dengan ormas senafas di Jakarta, makanya setali tiga uang dengan FPI, bahkan dalam kasus Sumenep tokoh AUMA terlibat memfasilitasi berdirinya FPI. Ini berbeda dengan Bassra yang fokus pada isu lokal.

Bagi saya kehadiran ormas apapun sah didirikan. Selama dibutuhkan dan bisa memperkuat cita kemerdekaan dan bisa diharapkan menjadi corong Islam rahmatan lil alamin tak jadi masalah. Cuma ketika kehadirannya mengusik NU dan warga Nahdiyin serta visi kebangsaan maka penting ormas baru ini disikapi. Tulisan ini hanya hendak merespon usikan terhadap NU tersebut.

Setidaknya dalam usaha merekrut massa, ada tiga isu yang sengaja diwacanakan FPI dalam pertemuan-pertemuan umum yang mengusik NU. Tiga isu ini penting direspon agar tidak menimbulkan kesalahpahaman terutama kepada warga nahdliyin.

Pertama soal isu bahwa petinggi FPI di Madura (setidaknya kasus di Sumenep ) selalu mengatakan dalam ceramahnya, “saya ini ikut NU-nya kyai Hasyim Asy’ari, NU “se kona” (yang dulu)”. Mafhum mukhalafahnya, sama NU sekarang kurang mengakui.

Bagi saya pernyataan seperti itu patut direnungkan. Pertanyaannya, bagaimana mau ikut KH. Hasyim pada hal tidak sezaman? Dari mana kita bisa meyakini bahwa NU kita sama dengan kyai Hasyim? Barangkali bisa dijawab bahwa pengikut FPI berpegangan terhadap kitab peninggalan kyai Hasyim. Tapi kalau pun mengacu kepada kitab kyai Hasyim, bukankah kita tidak bisa sepenuhnya mengatakan bahwa penafsiran atas teks kitab kyai Hasyim sama dengan kehendak kyai Hasyim?

Dengan kasus beda, hal ini mirip dengan kelompok Islam yang mengatakan ikut Nabi dengan berpegangan kepada Alqur’an dan Hadis sambil nenolak ijma’ dan qiyas. Dalam tradisi NU cara beragama seperti ini kurang bisa dipertanggungjawabkan karena tanpa sanad yang jelas.

Sama dengan ber-NU, kalau mengikuti NU-nya kyai Hasyim dengan menolak NU sekarang berarti NU-nya kurang bisa dipertanggungjawabkan karena tanpa sanad yang jelas. Pada hal sanad inilah yang menbedakan NU dengan kelompok lain.

Di samping sanad keilmuan, di NU juga dikenal sanad perjuangan. Secara kelembagaan, tentu saja sanad ini tak bisa diperoleh dengan meloncat ke masa kyai Hasyim tetapi bisa kita peroleh melalui sanad yang sudah terlembagakan melalui pesantren sekaligus NU dari masa ke masa hingga sekarang. Jadi, sanad ibarat mata rantai tak bisa digunting, tak bisa diputus.

Saya faham, sikap seperti di atas salah satunya dipicu oleh sikap dislike sebagian tokoh NU terhadap kyai Said Aqil. Kebetulan ada skenario besar yang terus-menerus mengeroyok kyai Said dengan informasi hoax sejak isu liberal, syiah, Ahoker, dsb yang sayangnya tanpa bertabayyun langsung dianggap sebagai kebenaran oleh sebagian warga NU yang nyeberang ke FPI.

Tetapi jika tidak suka ketua umum PBNU tak perlu menyerang NU. Apalagi sampai nyeberang ke organisasi lain. Apalagi lepas suka atau tidak kyai Said terpilih dalam muktamar NU, ini hasil ijma’ pengurus NU se Nusantara, Jika beliau dianggap salah sekalipun, ada mekanisme organisasi yang mengatur bagaimana masalah ini bisa diselesaikan. Bukan malah gabung ke organisasi lain sambil terus memojokkan NU apalagi hanya untuk merebut hati warga NU.

Dalam konteks inilah pernyataan bahwa “saya pengikut NU-nya kyai Hasyim” tidak ada dasarnya dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bagaimana mungkin bilang pengikut NU kyai Hasyim, sementara pada saat bersamaan justru memojokkan jamiyyah yang beliau dirikan?

Isu kedua yang sering dinyatakan pendukung FPI adalah, “amar ma’ruf ikut NU, nahy munkarnya ikut FPI”. Pernyataan ini seolah hendak menegaskan bahwa NU lembek, tidak tegas dan adem. Sementara FPI sebaliknya; tegas, lantang, dan berani.

Tapi ijinkan saya menjelaskan bahwa NU dalam menjalankan dakwahnya memiliki jalan dan cara sendiri, dan tentu saja NU tak perlu mengikuti jalan dan cara ormas lain. Jalan dan cara NU ini merupakan hasil dari endapan proses panjang yang sudah ditempuh sejak walisongo. Hasilnya bisa kita rasakan hingga sekarang.

Setidaknya ada tiga ciri dakwah NU. Pertama, tadriji dimana dakwah ditempatkan dalam proses panjang, tidak buru – buru, perlahan dan bertahap. Kedua, taklitut taklif yaitu tidak memberatkan masyarakat atau tidak memaksa. Ketiga, ‘adamul haraj yaitu tidak mengancam siapapun. Makanya dakwah wali songo yang menjadi sanad biologis NU selalu menempuh jalur kultural, sehingga dakwahnya berhasil, ibarat menangkap ikan, ikannya ditangkap tanpa mengeruhkan airnya.

Kedua, amar ma’ruf nahi munkar ibarat 2 sisi mata uang yang tak bisa dipisah. Ketika NU lebih mengedepankan amar ma’ruf sebenarnya include di dalamnya juga ada nahi munkar. Jika secara gradual mengajak orang agar shalat, hakikatnya mengajak orang itu agar tidak meninggalkan shalat. Tentu sesuai langgam dakwah NU, ajakan agar shalat dilakukan dengan lembut sebagaimana prinsip di atas. Dalam konteks ini, fiqhul ahkam dimodifikasi secara cerdas menjadi fiqhuddakwah dan fiqhussiyasi.

Sekali lagi NU memiliki jalan sendiri yang sering disebut “alaa thariqati Nahdlatil Ulama”. Jika tidak sama dengan ormas lain ya wajar. Nah, kalau ada orang NU mencampur aduk strategi dakwah NU dengan ormas lain menurut saya tidak tepat.

Isu ketiga yang sering saya dengar dihembuskan oleh pengikut FPI bahwa, ” yang penting aswaja, meski tidak ikut NU”. Pernyataan seperti di samping lemah, juga berbahaya. Persis seperti semboyan anak muda, “spirituality yes religion no” atau “spiritualitas yes, agama no”.

Kesalahan pertama menurut saya, pernyataan di atas ibarat seorang salik mau menggapai hakikat dan ma’rifat dengan melampaui syariat. Ia hanya butuh roh tanpa butuh jasad. Tentu dalam konteks Indonesia, apalagi pernyataan ini sengaja dihembuskan di lingkungan warga nahdliyin tentu sangat berbahaya.

Kesalahan kedua, beraswaja dan ber-NU bagi warga nahdliyyin mutlak diperlukan. Karena aswaja tanpa ada organisasi yang menopangnya akan mudah dihancurkan. Ingat aswaja di timur tengah dengan mudah bisa dipecah belah oleh kelompok lain karena tidak ada wadahnya.

NU dibangun oleh para kyai dulu dalam rangka “litauhidi shufufil ulama”, menyatukan shaf para ulama dalam meneguhkan dan memperjuangkan aswaja sekaligus melawan para penjajah. Maka jika ada pengikut aswaja tidak ber-NU hakikatnya ia tidak mau merapat dalam barisan ulama. Dan saya meyakini mereka akan mudah menjadi santapan kelompok lain yang bahkan tidak senafas dengan aswaja, misalnya salafi-wahabi atau HTI.

Mari rapatkan lagi barisan pengikut dan pendukung aswaja. Agar kuat masuklah kembali dalam barisan, beraswaja dan ber-NU. Jika ada yang tidak cocok baiknya tabayyun dan bermusyawarah. Bukan malah menyeberang ke organisasi lain sambil memojokkan NU. Kalau misalnya tetap tidak mau ber-NU, jangan mengajak warga nahdliyin sambil menyebar berita tidak benar dan atau memprovokasi dengan alasan-alasan yang bisa menimbulkan pertentangan di masyarakat.

Mari, stop menjadi setengah nahdliyyin.

Lima Pedoman Sukses Bagi Pengurus dan Warga NU

Terlampir tambahan dari Ahmad Fathoni Roda Mas (PW LTNNU Jatim), yang mengutip dari buku “KH. Ali Ma’shum; Perjuangan dan Pemikiran-pemikirannya”:

Bekal bagi pengurus dan warga NU dalam meraih sukses organisasi, Bekal itu adalah :

  1. Ats-Tsiqatu bi Nahdlatul Ulama.

Maksudnya, setiap warga NU harus yaqin dan percaya penuh terhadap NU sebagai satu-satunya tuntunan hidup yang benar. Sebagai satu keyaqinan yang timbul dari sikap batin, tentulah sekaligus menuntut adanya realisasi yg bersifat lahiriyah. Jadi bukan sekedar percaya. Sebab “percaya” belum memastikan adanya realisasi lahiriyah. Setelah menyadari dan meyaqininya, perlu mempertanyakan pada diri masing-masing sudahkah sikap dan perilaku lahiriyah kita tercermin dari ajaran-ajaran NU? Sudahkah tingkah laku kita saban hari sesuai dengan bimbingan NU? Sudahkah ibadah serta pengabdian terhadap bangsa dan Negara sesuai dengan rumusan NU? dan seterusnya.

  1. Al-Ma’rifat wal istiqon bi Nahdlatul Ulama’.

Maksudnya, setiap warga NU harus membekali diri dengan ilmu-belajar (ngilmoni) tentang NU secara sungguh-sungguh. Faktor ini penting sekali, terutama dalam proses pembentukan keyaqinan warga terhadap NU. Sebab keyaqinan yang wujudnya hanya bersifat alami (bukan berdasar ilmu), akan mudah digoyahkan dan kabur dimakan arus zaman.

  1. Al-Amalu bi ta’limi Nahdlatul Ulama

Maksudnya, warga NU harus mempraktekkan ajaran dan tuntunan NU. Tuntunan NU adalah tuntunan Islam yang murni bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi, yang dijabarkan menurut tata cara yang benar, yakni dijabarkan menurut bimbingan mahdzab, tidak sekedar menurut kemampuan akal manusia yang selamanya tidak benar itu.

Dalam bermahdzab akal manusia akan diberi kesempatan seluas-luasnya, dengan diimbangi bimbingan yang tertib dan sempurna. Disini, praktis harus diawali dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang nampaknya ringan semisal alat membaca tahlil, manaqib, istighotsah, burdah, sholawatan, yasinan, waqi’ahan, sema’an Al Qur’an membaca do’a iftitah dengan INNI WAJJAHTU, dzikir tahlil, menghormati ulama’ ad-dien dsb, dimana kesemuanya itu mempunyai dasar hukum yang jelas dan kuat.

Walaupun hanya ibadah sunnah, namun perbuatan-perbuatan tersebut tidak sedikit andilnya dalam membawa panji-panji Islam. Ia mampu membikin kemasyhuran syiar Islam dari tahun ke tahun dan bahkan dari abad ke abad. Kalau usaha penggalakkan ibadah-ibadah diatas ditinggalkan oleh sebagian manusia-manusia dengan sikap tidak bertanggungjawab, maka dari itu tidaklah berlebihan jika sholawatan, yasinan, tahlilan dll dipertahankan keberadaannya oleh NU yang sekaligus sebagai ciri khas NU dan salah satu langkahnya dalam mempertahankan kelanggengan Jam’iyyah secara utuh.

  1. Al-Jihadu Fi Sabili Nahdlatul Ulama

Maksudnya, memperjuangkan NU agar tetap lestari dan berkembang pesat. Dalam mengabdi terhadap NU hanya dikenal adanya pengabdian dan perjuangan NU (hobi), tidak mengenal apa itu SUKSES atau GAGAL. Kalau kita telah tenggelam dalam NU, haruslah berjuang pantang mundur dengan menelusuri benang-benang NU dibawah restu Ulama’.

Dalam surat At Taubah ayat 105 Allah berfirman “Dan berkatalah: berbuatlah kamu sekalian, maka Allah dan Rosulnya, serta kaum mukminin akan menilai perbuatanmu itu”, ayat itu memerintahkan agar kita berbuat dan berbuat terus.
Adapun mengenai penilaiannya tergantung Allah, Rasul serta kaum mukminin seluruhnya.

Jadi, Allah hanya menilai kwalitas usaha kita saja. Bukan menilai seberapa besar keberhasilan yang kita peroleh. Salah satu bukti Allah mengangkat Nabi Nuh termasuk ulul azmi, akan tetapi Nabi Sulaiman tidak diangkatNya. Padahal Nabi Nuh AS tergolong Nabi yang kurang sukses dalam membawa misi kenabian, selama 950 tahun beliau hanya mampu menggaet 12 orang dari manusia-manusia yang hidup di zaman Nabi Nuh AS.

Sedangkan Nabi Sulaiman AS adalah Nabi yang sukses, dimana hanya membawa misi kenabian hanya sekitar kurang dari 200 tahun, beliau mempunyai pengikut dalam jumlah yang menggembirakan. Hal ini berkaitan dengan satu kaidah yang menyatakan “pahala itu seukur
dengan kualitas kepayahannya”

Dalam perjuangan NU, hanya dikenal BUAH PERJUANGAN yang ihdal husnayaini, termaktub dalam ayat yang (artinya) berbunyi: ………”Yakni, seandainya sukses dalam perjuangan, maka akan dapat hasanah di dunia dan hasanah di akherat. Dan bila gagal dalam perjuangan, maka hasanah akherat pasti akan diperolehnya”.

  1. Ash-Shobru fi sabili Nahdlatul Ulama

Yakni sabar dalam ber-NU, baik sabar dalam melakukan tugas, dalam menghadapi rintangan kegagalan atau sabar ketika berhadapan dengan rayuan-rayuan manusia yang non-NU, serta pihak- pihak yang memusuhi ajaran Nabi.

Allah berfirman (artinya) : ……………………… “Dan demikianlah kami jadikan tiap-tiap Nabi itu musuh. Yaknii setan-setan dari jenis manusia dan jin sebagian mereka membisikkan kepada yang lain dengan perkataan yang manis untuk menipu manusia”.

Menurut ayat diatas ada 2 musuh. Yaitu setan jin dan setan manusia. Setan jenis jin bisa tertumpas dengan keampuhan ayat kursi. Sedangkan setan yang berjenis manusia tidaklah semudah itu. Kedua setan itu selalu mempengaruhi manusia dengan perkataan dan janji-janji yang manis, agar manusia menyimpang dari ajaran agama Islam.

Mereka pintar sekali menyulap manusia. Apabila manusia (termasuk kita) tidak selalu waspada dan sabar, kita akan hanyut dalam buaiannya. Pengabdian terhadap agama bagaikan orang yang memegang bara api, kalau dipegang panas dan kalau dibuang mati yang sesuai dengan hadits nabi SAW tentang beragama dizaman akhir.

Dalam mengemban amanat jam’iyah, ada beberapa hal yang khususnya harus dimengerti oleh pengurus NU lebih-lebih untuk mengembangkan kerjasama dengan pemerintah. Hal ini sangat perlu karena merupakan modal dasar dalam ikhtiar mewujudkan kemaslahatan bangsa dan negara. Bagaimanapun NU itu dilahirkan oleh, dari, dan untuk bangsa Indonesia.

Tak mengherankan jika menurut kiai Ali program-program NU harus sejalan dengan program-program pemerintah, sepanjang tidak bertentangan dengan aqidah Islam. Salah satu ciri sikap ASWAJA adalah tidak memisah-misahkan antara Iman, Islam dan Ihsan.

Dengan kata lain, dalam rumusan modern bisa disebutkan bahwa antar keyakinan, pelaksanaan, dan peningkatan kualitas pelaksanaan itu adalah satu kesatuan, tidak berdiri sendiri. Pola sikap seperti ini tentu saja sangat diperlukan di saat-saat pembangunan tengah digalakkan dimana menuntut kerja keras dan kesanggupan yang tinggi ini. Nabi sendiri tidak membenarkan sikap pasif dan menunggu hasil hanya dengan lamunan.

Demikianlah menurut kiai Ali Maksum, makin jelas tugas dalam berkhidmah (hobi) ini. Yaitu: berbuat dan berbuat. Membanggakan kejayaan masa silam baru ada manfaatnya, jika kita berbuat untuk untuk melestarikan kejayaan itu atau mengembangkannya untuk lebih jaya. Nilai seseorang, lebih-lebih di era pembangunan ini, adalah sepenuhnya terletak pada hasil prestasinya sendiri. Dan jika memang harus berbangga, maka prestasi kita sendirilah yang patut dibanggakan. Hal itu sangat penting agar warga NU tidak buta terhadap perkembangan politik yg terjadi.

“Memang kita tidak perlu berpolitik praktis, tetapi tidak boleh buta terhadap politik,” kata kiai Ali. Kiai Ali sering mengutip sabda Nabi Muhammad SAW : “sesungguhnya Allah menolak (keburukan, kerusakan) melalui tangan-tangan penguasa apa yang tidak ditolakNya dengan Al Qur’an”, maka mengerti politik itupun wajib, agar tidak termakan politik. (*)

*) Penulis Ahmad Dardiri Zubairi adalah Wakil Ketua PCNU Sumenep
*) Sumber:
*) https://www.halaqoh.net/2017/06/stop-menjadi-setengah-nahdliyyin.html
*) https://www.halaqoh.net/2019/06/inilah-lima-pedoman-sukses-bagi.html

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.