Dakwah di Era Digital di mata Al-Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al-Jufri

Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al-Jufri berkunjung ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta, Rabu (24/8/2022). (*/NUO)
Bagikan yuk..!

Jakarta (Radar96.com/NUO) – Dalam webinar bertajuk “Dakwah di Era Digital Dalam Menghadapi Tantangan Religiusitas: Antara Yang Nyata dan Maya” di Gedung PBNU Jakarta, Rabu (24/8/2022), ulama muda asal Jeddah, Arab Saudi, Al-Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al-Jufri menuntaskan tema ini dengan penjelasan berbasis data dan pengalaman kiprah dakwahnya di Eropa.

Dalam acara yang juga menampilkan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dan Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa itu, Habib Ali Al Jufri yang berdakwah keliling lima benua itu bicara tentang tantangan berdakwah mengajak ke jalan Allah di era digital serta dalam beragama di dunia nyata dan dunia maya itu, dengan statement pembuka:

في العصر الرقمي أكاذيب وخدعات

“Digital ada banyak kebohongan dan tipuan”

Habib Ali menyampaikan data bahwa di Facebook saja ada 2 miliar akun palsu. Dari akun palsu inilah mampu menggerakkan banyak orang di dunia nyata. Bagi para pemangku kepentingan duniawi, seperti ekonomi dan politik, alat ini sangat penting untuk digunakan. Dari sinilah antar perorangan berubah menjadi benci. Antar bangsa saling bertengkar.

Habib Ali pun mencontohkan kasus ‘kartun Nabi’ di Denmark pada 2006. Karena beliau turut serta dalam upaya meredam isu tersebut, beliau menjelaskan bahwa gambar yang menghina Nabi itu diterbitkan di sebuah koran kecil yang tidak terkenal. Setelah 6 bulan kejadian ada seorang Muslim yang baru tahu berita itu, lalu menyebarkan berita tersebut di media sosial.

Kabar itu tersiar ke banyak negara, unjuk rasa terjadi di mana-mana, Indonesia, Pakistan dan negara lainnya. Kedutaan Denmark didemo, dituntut meminta maaf. Kita pun menjadi marah lantaran yang dihina adalah Manusia yang paling kita cintai, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Tapi kita tidak pernah tahu akar persoalannya. Padahal itu semua terjadi untuk kepentingan bisnis dan politik menjelang pemilihan di Denmark. Isu agama adalah senjata yang paling ampuh menjadi simpatik.

Beliau berpesan agar tidak menjadikan digital sebagai sumber ilmu utama, melainkan sebagai media informasi saja. Mencari ilmu tetap di majelis para ulama dan lembaga pendidikan, sembari memegang penuh adab mencari ilmu dari kitab Pendiri NU, Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari.

Pesan penting Habib Ali itu digarisbawahi oleh Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, mengingat dakwah di era digital sangat luar biasa. Era digital ini telah menggeser tradisi keilmuan klasik turots (kitab kuning) yang sangat mementingkan ketersambungan sanad. Kini, orang-orang ingin cepat mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan dari internet dan media sosial seperti youtube, facebook, dan instagram. (*/NUO)

Sumber: https://www.nu.or.id/nasional/habib-ali-al-jufri-baca-kitab-kh-hasyim-asy-ari-di-pbnu-PdIP1

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.