Surabaya. Radar96.com. Lantai dasar Masjid Al-Akbar Surabaya tadi pagi dipenuhi kaum muslimin dan muslimat berbusana putih. Mereka adalah jamaah haji asal Kota Surabaya yang baru datang kemarin dan juga mereka yang sudah lama berhaji. Sengaja dikumpulkan oleh Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kota Surabaya agar mereka dapat saling bersinergi. Jamaah haji yang baru datang kemarin sebanyak 1.300 orang, sedangkan yang sudah haji lama dan hadir di masjid Al-Akbar 5.000 orang lebih. Makanya mereka terlihat memenuhi masjid.
“Bagi yang baru datang kemarin, saya syukuri, slameti, dan doakan, semoga hajinya mabrur, diterima oleh Allah SWT. Bagi yang hajinya sudah lama, semoga setrum spiritualnya naik lagi setelah ketemu para jamaah haji yang baru datang,” kata Dr KH Syukron Djazilan Badri, MAg, Ketua IPHI Surabaya dalam sambutannya.
“Sebab aki itu kalau lama tidak dipakai kan strumnya bisa habis. Dengan ketemu para jamaah haji yang baru pulang begini, semoga strumnya cepat naik secara drastis kembali,” lanjut Kiai Syukron.



Pertemuan para jamaah haji yang dikemas dalam acara Tasyakuran dan Tabligh Akbar Jamaah Haji Kota Surabaya itu dimulai pukul 08:00 hingga pukul 11.00. Beberapa tokoh penting hadir, di antaranya Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, KH Imam Hambali sebagai penceramah, Hj Lailah Mufidah (Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya), Kakan Kemenag Surabaya Dr Supardi, Ketua Badan Pelaksana Masjid Al-Akbar Dr Sujak, Ketua IPHI Kota Surabaya Dr KH Syukron Djazilan Badri, MAg, Ketua Pelaksana Kegiatan Dr H Siswanto. Juga dihadiri ibu-ibu tokoh masyarakat, seperti Hj Sringatin, Hj Hani’ah (Ketua MTP IPHI Kota Surabaya) dan Hj Nasrul Nasehati, SE. Perwakilan dari Pemkot Surabaya, NU, Muhammadiyah, dan LDII juga tampak hadir di tengah acara.
Kiai Syukron mengaku tidak menyangka jamaah bisa hadir sebanyak itu. Ribuan konsumsi yang disediakan oleh panitia langsung ludes. Tapi akhirnya Ketua MUI Kota Surabaya itu memaklumi, setelah dua tahun tidak ada haji akibat pandemi, kini masyarakat rindu akan suasana Tanah Suci. Makanya mereka segera berbondong-bondong hadir saat ada undangan.
Sedangkan KH Imam Hambali dalam ceramahnya, selain memberikan nasehat, juga melontarkan pertanyaan kepada para jamaah. “Kalau sudah naik haji, terus mau apa? Apa terus jadi bangga-banggaan, pakai baju putih dan kopiah putih, terus untal-untul, ngalor-ngidul tanpa manfaat, begitu?” pancing Kiai Imam.
Tapi Kiai Imam akhirnya menjawab sendiri pertanyaan yang memang tidak membutuhkan jawaban itu. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Jihad Surabaya itu mengajak kepada semua jamaah untuk meningkatkan kualitas hati. Hatinya harus bagus, tidak boleh busuk.
“Tanda hati busuk itu pelit, dan bersikap tidak baik pada mertua,” kata Kiai Imam.
Tak lupa Kiai Imam mengajak kepada jamaah untuk naik peringkat menjadi agak baik. Tidak usah langsung baik, menjadi agak baik saja sudah bagus. Karena itu berarti sudah ada peningkatan.
Kunci kehidupan itu, menurut Kiai Imam Hambali, ada dua, yaitu sabar dan selalu berbuat baik kepada sesama. Semoga semua yang hadir dirahmati oleh Allah SWT, ditambah rizkinya, dan diberkahi hidupnya.



