Surabaya, Radar96.com – Wakil Panglima Aliansi Nahdliyyin Bergerak (NABRAK) Abdul Hamid Rozak menyayangkan tokoh-tokoh “NU naturalisasi” menenggelamkan tokoh-tokoh “NU tulen” dalam percaturan Pilpres 2024.
“Tenggelamnya tokoh-tokoh NU tulen, saya sedih, padahal figur-figur NU tulen itu sama sekali tidak kalah dalam kualitas dibandingkan NU naturalisasi itu,” katanya dalam diskusi NABRAK di Surabaya, Senin.
Didampingi relawan Aliansi NABRAK Edi Santoso, ia menyampaikan contoh figur yakni Erick Thohir maupun Sandiaga Uno yang disandingkan dengan Mahfud MD atau Khofifah.
“Ya, mereka belum tentu lebih unggul. Mahfud MD, misalnya, pernah menjadi anggota DPR RI, pernah menjadi menteri, pernah menjadi Ketua MK, dan hari ini adalah Menkopolhukam. Masak kalah berkualitas dengan mereka?,” katanya.
Atau, Khofifah Indar Parawansa, tokoh NU tulen lainnya. Pernah menjadi menteri, Gubernur Jawa Timur hari ini, ketua Umum PP Muslimat NU, organisasi sayap NU yang anggotanya puluhan juta emak-emak. Atau, Muhaimin Iskandar, Yenny Wahid, KH Said Aqil Siradj, Gus Yahya Tsaquf, Gus Yaqut, Gus Saifullah Yusuf, dan banyak lagi figur NU tulen yang berkualitas dan berpengalaman.
“Saya sedih kalau figur-figur NU tulen yang berkualitas itu ditenggelamkan dengan nama-nama NU Naturalisasi seperti yang saya sebut sebagai contoh diatas,” katanya.
Menurut dia, semua komponen aspek kepemimpinan, pengalaman, bahkan integritas mereka unggul. “Atau mau diadu yang paling NU, apakah mereka atau nama-nama yang kami sebut diatas?,” katanya
Bahkan, katanya, warga NU yang waras pasti mengatakan tokoh NU tulen tidak bisa dibandingkan dengan NU hasil naturalisasi. Pengabdian yang panjang pada NU, tidaklah cukup sepadan dibandingkan dengan tokoh yang menjadi NU ketika menjelang Pilpres.
“Mungkin, satu-satunya kekalahan tokoh NU tulen adalah uangnya. Mereka tidak punya dana sebanyak Erick Thohir dan Sandiaga Uno. Padahal kalau mau melihat sejarah Pilpres, kontestan yang ada tokoh NU tulennya, perolehan suaranya selalu signifikan,” katanya.
Ia menambahkan contoh lama dari NU tulen yakni JK dan Makruf Amin, yang tampaknya ketokohan mereka di NU dimarginalkan. Padahal, 110 juta anggota NU patut diperhitungkan. (*/pna)


