Surabaya, radar96.com – Badan Pengelola (BP) Masjid “Baitul Muttaqien” Islamic Center Pemprov Kalimantan Timur, melakukan kunjungan studi banding untuk mempelajari Manajemen Pengelolaan Masjid kepada Badan Pelaksana Pengelola (BPP) Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS).
Dalam studi banding itu, pengurus Masjid Islamic Centre Pemprov Kaltim yang dipimpin Ketua BP Masjid “Baitul Muttaqien” Islamic Center Pemprov Kaltim DR Ir HM Iriyanto Ramli itu diterima oleh Ketua BPP MAS DR KHM Sudjak MAg, Bendahara BPP MAS H Soedarto, dan jajarannya di Ruang Multazam MAS, Rabu.
“Selain melakukan silaturrahmi, Kami ingin melakukan studi banding dari pengalaman manajemen yang dilakukan pengelola Masjid Al-Akbar, karena masjid kami itu merupakan masjid pemerintah, sedangkan Masjid Al-Akbar merupakan satu-satunya masjid nasional,” kata Iriyanto Ramli.
Menanggapi harapan dari pengurus Masjid Islamic Centre Pemprov Kaltim itu, Ketua BPP MAS DR KHM Sudjak MAg mengatakan MAS ditetapkan sebagai masjid nasional pada 2003, karena pembangunannya memang “patungan” pemerintah dan swasta yang dipimpin mantan Wapres Try Sutrisno setelah melakukan peletakan batu pertama.
“Jadi, Masjid Al-Akbar sejak awal memang bukan hanya milik pemerintah, tapi juga ada peran swasta yang dirangkul mantan Wapres Try Sutrisno, karena Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim saat itu sudah merasa tidak mampu membangun Masjid Al-Akbar karena biaya yang dibutuhkan cukup besar, sehingga Al-Akbar jadi masjid nasional,” katanya.
Sebagai masjid nasional, kepengurusannya melalui SK Gubernur Jatim dengan masa kepengurusan selama 5 tahun, namun Pemprov Jatim juga siap membantu anggaran yang ada untuk MAS melalui hibah, terutama bantuan untuk sarana dan prasarana/fisik yang diajukan melalui proposal, seperti proposal 2020 untuk kubah yang mengalami kerusakan saat itu. Jadi, pemerintah membantu untuk sarana fisik.
“Untuk biaya operasional itu sepenuhnya dari infaq yang digagas oleh para muassis/pendiri MAS dengan mendirikan BUMM (Badan Usaha Milik Masjid) guna menggali sumber dana melalui sejumlah kemandirian, seperti Menara 99m, dua gedung sewa untuk akad/resepsi pernikahan, yang untuk bulan Dzulhijjah ini cukup ramai dengan pernikahan, Mini Soccer, dan sebagainya,” kata Bendahara BPP MAS H Soedarto.
Tentang program Masjid Al-Akbar, Ketua BPP MAS Sudjak mengatakan masjid yang diurus 213 pegawai (guru, kebersihan, satpam, kesekretariatan, dan sebagainya) itu mencanangkan sebagai Masjid Ramah Untuk Semua, terutama Generasi Z Islami (GenZI) agar suka ke masjid, diantaranya Majelis Subuh GenZI dan Ngaji Soccer.
“Majelis Subuh GenZI itu diupayakan mendatangkan penceramah yang juga disukai anak-anak muda, seperti Hanan Attaqy, Habib Jakfar, dan pendakwah milenial lainnya. Untuk Ramah Lansia, pengelola Masjid Al-Akbar juga mengadakan Ngaji Tartil dan senam lansia sebanyak tiga kali seminggu,” katanya.
Selain itu, BPP Masjid Al-Akbar juga memiliki sekolah berbasis masjid yakni KBRA, MI, MTs, STAI, tinggal MA yang masih menyesuaikan lokasi, bahkan MI dan MTs MAS menjadi ikon masyarakat karena ada kelas internasional dan hafalan/hafidz.
Ditanya tentang Yayasan pendidikan untuk badan hukum lembaga pendidikan yang ada, Sudjak menjelaskan Yayasan dibentuk adalah Yayasan Pendidikan Masjid dengan ketua, sekretaris, dan bendahara dari BPP MAS, sehingga yayasan pendidikan itu tidak terpisah dengan BPP MAS, karena bukan Yayasan mandiri. (*/mas)

