Surabaya, Radar96.com – Aktivis NU yang tergabung dalam NUSA BANGSA (NBI) menyuarakan aspirasi dan dukungan kepada tokoh NU tulen yang dianggap layak maju sebagai Calon Presiden atau Calon Wakil Presiden pada Pilpres 2024.
Juru Bicara NBI Anas Toha kepada media di Surabaya, Kamis, menjelaskan sebagai kader NU dirinya bersama teman-teman di NBI memiliki keinginan agar kader-kader terbaik NU dan benar-benar NU (Tulen) bisa maju sebagai Capres atau Cawapres.
“Jadi kita tidak sedang mendukung satu orang kader NU, tapi ini beberapa kader NU yang dari hasil diskusi kami memang merupakan kader NU yang potensial, memiliki rekam jejak pengabdian kepada NU dan Bangsa Indonesia, bukan yang “tiba-tiba” NU,” tegas Cak Anas.
Gerakan yang dimulai dengan aksi penyampaian aspirasi di depan kantor PWNU Jatim (4/5/2023) itu, kata
Anas Toha, mencatat ada tujuh kader NU Tulen dan potensial untuk maju sebagai Capres atau digandeng sebagai Cawapres.
“Misalnya ada KH. Yahya Cholil Staquf, beliau saat ini Ketua Umum PBNU, pernah menjadi juru bicara Gus Dur. Jadi secara pengalaman dan kemampuan tidak diragukan lagi,” paparnya.

Berikutnya, ada Khofifah Indar Parawansa, saat ini menjabat Gubernur Jawa Timur, Ketua Umum PP Muslimat NU, dan Ketua PBNU. Selanjutnya, ada Mahfud MD yang saat ini menjabat sebagai Menko Polhukam, juga dikenal sebagai kader Gus Dur, mantan Menteri di Era Gus Dur.
Selain itu, mantan Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siraj juga sangat layak untuk maju dalam Pilpres, kemudian sosok Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB, Yenny Wahid (Putri Gus Dur/Ketua PBNU), dan Ali Masykur Musa yang saat ini menjabat Ketum PP ISNU dan pernah menjadi Anggota BPK RI.
“Tujuh nama itu kita berharap ada yang digandeng oleh para Capres atau Cawapres yang akan maju dalam Pilpres mendatang,” tandasnya.
Saat disinggung soal nama Erick Thohir yang saat ini menjabat sebagai Menteri BUMN dan sudah menjadi anggota Banser, Anas hanya menjawab dengan diplomatis.
“Sebagai kader NU, yang mengikuti proses kaderisasi di NU, kita juga berharap tokoh NU yang benar-benar berproses di NU sejak awal yang maju Pilpres, bukan kader dadakan,” pungkas Anas. (*/pna)


