Surabaya, radar96.com – Penganugerahan Pahlawan Nasional kepada Syaikhona Muhammad Kholil dari Bangkalan, Madura, menjadi momentum penting bagi masyarakat melakukan demitologisasi tokoh pejuang pendidikan pada abad ke-19 dan 20 itu.
“Gelar Pahlawan itu bisa menjadi momen penting bagi Generasi Z untuk mengenal pemikiran Syaikhona Kholil sebagai pejuang pendidikan pesantren,” kata Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jatim Riadi Ngasiran di Surabaya, Selasa.
Dalam jurnal televisi bertajuk “Penganugerahan Pahlawan Nasional Syaikhona Muhammad Kholil dan Peran Kebangsaan Pesantren”, Riadi mengaku gelar itu merupakan pengakuan resmi negara yang juga menjadi demitologisasi Sang Tokoh.

“Artinya, eksistensi Syaikhona Muhammad Kholil adalah pejuang di bidang pendidikan pesantren pada abad ke-19 dan abad 20,” kata Riadi yang dalam acara itu juga hadir bersama Penulis Sejarah Perjuangan Syaikhona Muhammad Kholil, DR Muhaimin.
Menurut Sejarahwan Santri itu, Syaikhona Muhammad Kholil memiliki santri yang tersebar di berbagai daerah di Jawa, bukan hanya Jatim dan Jateng, tapi juga Jawa Barat, seperti KH Muhammad Tajul Arifin yang menjadi pengasuh Pesantren Suryalaya yang memiliki “nama besar”.
“Di Surabaya, misalnya, secara khusus murid-murid Syaikhona Kholil, seperti Kiai Ahmad Dahlan Kebondalem, KH Ridlwan Abdullah, KH Mas Alwi bin Abdul Aziz, dengan motor utama KH Abdul Wahab Hasbullah, mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar sebagai tangki pikiran kaum santri dalam menanamkan nilai-nilai Kebangsaan dan cinta tanah air,” katanya.
Sementara itu, penulis sejarah yang juga dosen Institut Agama Islam Syaikhona Kholil, Bangkalan, DR Muhaimin menjelaskan eksistensi Syaikhona Muhammad Kholil digali dari data dan sumber primer, seperti surat-surat, naskah risalah keagamaan, dan dokumen se-zaman.
“Kami mempelajari 9 kitab terkait Syaikhona Muhammad Kholil, yang kami temukan rata-rata terkait karomah dan kelebihan spiritualnya. Tapi, kami tetap berusaha hingga berdarah-darah, bukan hanya berkeringat, sehingga berhasil memperoleh sumber primernya,” katanya. (*/fpnu)

