By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Perundungan masih Tinggi di Sekolah, ISNU-Unusa Gelar Workshop Deteksi Dini
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Sospol > Perundungan masih Tinggi di Sekolah, ISNU-Unusa Gelar Workshop Deteksi Dini
Sospol

Perundungan masih Tinggi di Sekolah, ISNU-Unusa Gelar Workshop Deteksi Dini

12/01/2026 Sospol
SHARE

Surabaya, radar96.com – Kasus bullying (perundungan) di sekolah hingga kini masih tinggi. Data dari KPAI dan Kemen PPPA sejak 2021-2025 menyebutkan tingkat kekerasan anak dan perundungan di Indonesia terus meningkat. Kemen PPPA menyebutkan setidaknya pada awal tahun 2025 sudah ada 4.664 kasus kekerasan anak.


Melihat kondisi ini Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Surabaya bersama Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengadakan workshop nasional pada Senin (12/1) pagi di Gedung Unusa Tower, Jl Jemursari Surabaya. Mengajak guru-guru Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Surabaya untuk melakukan deteksi dini bullying di sekolah menggunakan analisa sosiometri.


Dalam sambutannya Rektor Unusa, Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono, DEA, IPU, ASEAN.Eng menuturkan tentang pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang nir-kekerasan. Sebagai akademisi harus sadar bahwa sekolah adalah sebuah mikrososial. Di sinilah analisa sosiometri menjadi krusial.


Pertama, dari reaktif menuju prediktif. “Selama ini penanganan kasus bullying sering kali bersifat pemadam kebakaran, ditindak setelah ada laporan,” beber Prof Tri Yogi.


Namun di perguruan tinggi kita belajar bahwa data adalah kekuatan. Sosiometri memungkinkan kita untuk beralih dari metode reaktif menjadi prediktif. Dengan memetakan hubungan antara siswa, kita bisa melihat siapa yang terasing sebelum menjadi korban. Serta siapa yang mendominasi secara negatif sebelum menjadi pelaku.
Kedua, sosiometri sebagai radar psikososial. Menurutnya dengan data kita bisa melihat siapa siswa yang tidak dipilih oleh rekannya dan terisolasi, yang mana merupakan sinyal bahaya.


“Tugas kita bukan hanya mengajar matematika atau sejarah, namun memastikan tidak ada satu pun anak-anak kita yang merasa sendirian di tengah keramaian,” imbuhnya.


Rektor juga menegaskan bahwa analisa sosiometri memiliki tiga kekuatan dalam mengatasi kasus perundungan. Yakni mengidentifikasi risiko dini, memahami struktur kekuasaan, juga memungkinkan intervensi cerdas.


Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr H A Sruji Bahtiar menjelaskan penyebab perundungan dari sisi agama. Menurutnya, perbaikan hati atau memiliki hati yang baik dan sejahtera merupakan kunci dalam menjauhi perundungan. Namun, ilmu pengetahuan juga merupakan poin penting yang perlu diperhatikan. Pasalnya tidak semua kebaikan itu didasari oleh kesadaran, namun juga dipengaruhi pengetahuan serta regulasi yang ada.


Menurut Bahtiar, setiap hal yang kita pikirkan akan mengeluarkan kata-kata sesuai dengan cara kita berpikir. Ketika memiliki pikiran yang baik, maka ucapan atau kata-kata yang keluar dari mulut seseorang juga akan baik.


“Tindakan itu terus berulang, dan akan membentuk habit atau kebiasaan. Apabila itu berulang maka akan membentuk karakter, dan membentuk mentalitas,” tuturnya.


Dengan mengenali diri sendiri, seseorang tersebut akan mengenali Tuhan-nya. Apapun itu harus dimulai dengan perbaikan hati yang bersih, serta terus membangun mentalitas yang baik pada siswa.


Sementara itu Pakar Sosiologi Universitas Negeri Jember (Unej), Dr Rojabi Azharghany melakukan penelitian pada boarding school tingkat SMP dan SMA, dan menemukan akar dari perundungan yang terjadi di sekolah. Yakni beban aktivitas dan mental yang berlebihan pada anak.


“Biasanya pengasuh atau pengurus menumpahkan satu tanggung jawab besar kepada satu anak untuk membuat keputusan,” jelasnya.


Dari tanggung jawab inilah yang sering kali menjadi awal mula perundungan terjadi. Ketika salah satu siswa melakukan kesalahan, dengan ‘tanggung jawab’ yang dimiliki satu anak tersebut dia membuat keputusan yang didasari dengan memberikan pendidikan mental.


Padahal di usia itu anak yang memberikan ‘pendidikan mental’ juga masih berada di usia yang perlu dididik mentalnya. Mirisnya, banyak pula orang dewasa di lingkungan tersebut yang menganggap tindakan perundungan itu sebagai ‘pendidikan mental’.


Rojabi menegaskan, sosiometri fokus penanganan pada yang terlibat baik pelaku maupun korban. Dengan mengakui sebuah tindakan perundungan adalah salah secara tegas jadi langkah awal. Tidak ada cara instan dalam menangani perundungan. Menumbuhkan empati pada anak didik, jadi poin yang perlu diperhatikan oleh setiap pengajar

Iklan.

You Might Also Like

IPNU-IPPNU dan LBH Ansor Perkuat Advokasi dan Kesadaran Hukum Pelajar

100-an Santri Ikuti “Ngaji Soccer II” di Masjid Al-Akbar

Pemuda Asal Hongkong Resmi Memeluk Islam di Kota Probolinggo

Masjid Al-Akbar Surabaya Sembelih Sapi Presiden, Gubernur, dan Puluhan Sapi-Kambing

Prof.Dr.KH. Nazaruddin Umar, Menteri Agama RI Menyerahkan Sapi Qurban kepada PWNU Jawa TImur

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article PWNU Jatim Ajak GenZINU Semarakkan “Satu Abad NU” lewat festival
Next Article Muslimah Masjid Al-Akbar Bantu Rp61 Juta untuk penyintas bencana Aceh – Sumatera

Advertisement


Iklan.

Berita Terbaru

OPOP Jatim Hadiri Silaturahmi dan Temu NU Sedunia, Dorong Penguatan Ekonomi Warga Nahdliyin
Nahdliyyin
PBNU “Roadshow” 4 Provinsi, Gaungkan Gerakan Nasional “Pesantren Ramah Anak”
Nahdliyyin
Luncurkan GISNU, LAZISNU PCNU Sidoarjo Targetkan Manfaat Lebih Luas dan Merata
Nahdliyyin
603 Siswa Ikuti Seleksi Beasiswa PWNU Jatim bersama 17 PTN/PTS/PTNU
Nahdliyyin

You Might also Like

Sospol

Di hadapan 40.000 Jamaah Masjid Al-Akbar, Prof Halim Soebahar: Idul Adha Ajarkan Kesabaran Paling Tinggi

27/05/2026
Sospol

PWNU Jatim Terima Sapi Kurban 1,1 ton dari Gubernur Jatim

26/05/2026
Sospol

Pertajam Fokus Kerja, Departemen Media PDUF MUI Jatim Bentuk 4 Divisi

26/05/2026
Sospol

DMI Jatim Siagakan 1.000 Jagal Hewan Kurban Masjid se-Jatim

25/05/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?