Tulungagung, radar96.com – Ada yang berbeda pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD dan SMP Al Azhaar Kedungwaru, Tulungagung. Di sini, MPLS bukan sekadar baris-berbaris atau ceramah motivasi. Namanya diganti: Masa Orientasi Santri (MOS). Isinya: tadabur alam, outbound kepemimpinan, dan bakti sosial.
MOS berlangsung dua hari, Kamis dan Jumat (16-17/7/26). Lokasinya di Dusun Ngelo, Desa Jengglungharjo, Tanggunggunung, Tulungagung. Bertempat di MI Tahfidz Ngelo, sekolah kecil di dusun terpencil. Kini dusun itu sudah terhubung Jalur Lintas Selatan. Untuk outbound, dipilih Pantai Ngalur. Pantai indah, tersembunyi, hanya bisa dicapai dengan sepeda motor atau jalan kaki.




Mengapa jauh-jauh ke dusun terpencil? Menurut Heru Syaifudin, Kepala SMP Al Azhaar, MOS harus segar, ramah, aman, dan nyaman. “Santri diberi pengalaman bermasyarakat lewat bakti sosial. Kepemimpinan dilatih dengan outbound yang menyenangkan dan interaktif,” ujarnya.
KH Imam Mawardi Ridlwan, pengasuh Pesantren Al Azhaar, menambahkan lewat pesan WhatsApp: MOS dirancang sesuai karakter santri era modern. Partisipatif, aktif, dan empatik.
“Life skill dilatih lewat permainan. Santri belajar keterampilan sosial dasar, kerja sama tim, dan kepedulian,” jelas Abah Imam.
Lebih jauh, Abah Imam menekankan kemandirian. Santri berpisah dari orang tua dua hari satu malam. Mereka diajak tadabur alam di Pantai Ngalur. Di sana, mereka belajar kerja tim, kepemimpinan, dan manajemen waktu.
Alhamdulillah, Kepala Dusun Ngelo, Sutrisno, menyambut hangat. “Dusun kami jadi berkah. Santri tampak mandiri, bisa berinteraksi dengan masyarakat. Pemuda desa ikut menjaga keselamatan mereka di pantai,” ujarnya.
MOS ala Pesantren Al Azhaar Kedungwaru bukan sekadar pengenalan sekolah. Ia adalah latihan kepemimpinan, disiplin waktu, dan empati sosial. Outbound, tadabur alam, hingga bakti sosial menjadi satu paket. Kreatif, inovatif, dan relevan dengan zaman.



