Malang, radar96.com — Semangat toleransi dan persaudaraan antarumat beragama kembali ditunjukkan Kota Malang menjelang pelaksanaan Mujahadah Kubro Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) pada 7–8 Februari 2026. Salah satu wujud nyata datang dari Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel (Katedral Ijen), yang melakukan penyesuaian jadwal misa demi mendukung kelancaran agenda besar keagamaan tersebut.
“Kebijakan ini diambil setelah adanya koordinasi intensif dengan Pemerintah Kota Malang melalui pihak kecamatan. Koordinasi dilakukan menyusul penutupan sejumlah ruas jalan di kawasan Ijen yang menjadi salah satu ring utama pelaksanaan Mujahadah Kubro,” kata Romo Paroki Katedral Ijen, Petrus Prihatin, di Malang, Selasa.

Selain itu, Pemerintah Kota Malang melalui camat sudah berdiskusi dengan Romo terkait kedatangan Presiden pada Mujahadah. “Mereka menyampaikan permohonan kerja sama dan toleransi karena ada 12 ruas jalan yang ditutup, termasuk kawasan Ijen,” ujar Romo Petrus.
Ia menjelaskan, secara teknis misa sebenarnya tetap bisa dilaksanakan. Namun, penutupan jalan berdampak pada akses umat menuju gereja, terutama terkait jarak parkir yang jauh dan keharusan berjalan kaki cukup lama.
“Kalau misa tetap digelar, risikonya umat harus parkir jauh dan berjalan kaki cukup jauh. Setelah itu kami berdiskusi internal dengan pengurus gereja dan juga para uskup untuk meminta pertimbangan,” ungkapnya.
Hasil dari koordinasi dan pertimbangan tersebut, Gereja Katedral Ijen memutuskan untuk meniadakan sebagian besar jadwal misa selama dua hari pelaksanaan Mujahadah Kubro. Dari biasanya enam kali misa pada akhir pekan, hanya dua misa yang tetap dilaksanakan, yakni pada Minggu sore pukul 16.30 WIB dan 18.30 WIB.
“Kami putuskan misa tetap ada, tetapi hanya pada Minggu sore dan malam. Pada jam itu kegiatan Mujahadah Kubro sudah selesai dan kondisi lalu lintas mulai kembali normal,” jelas Romo Petrus.
Dengan keputusan tersebut, misa Sabtu pagi dan sore, serta Minggu pagi dan siang, untuk sementara ditiadakan. Pihak gereja juga telah menyampaikan pengumuman resmi kepada umat melalui misa pada akhir pekan sebelumnya, serta disebarluaskan melalui flyer dan grup komunikasi umat.
“Respons umat sangat baik dan dewasa. Mereka menerima keputusan ini dengan penuh pengertian. Inilah bentuk toleransi yang nyata dalam kehidupan beragama,” imbuhnya.
Sebagai solusi, pihak gereja juga mengimbau umat yang ingin tetap mengikuti misa pada waktu yang ditiadakan agar beribadah di gereja lain yang tidak terdampak penutupan jalan, seperti Gereja Tidar, Langsep, Landungsari, maupun Sengkaling.
Tidak hanya menyesuaikan jadwal ibadah, Gereja Katedral Ijen juga memberikan dukungan fasilitas bagi jamaah Mujahadah Kubro. Area samping gereja dibuka sebagai tempat transit dan istirahat jamaah, lengkap dengan fasilitas toilet yang dapat digunakan.
“Bagian samping gereja kami buka untuk transit dan istirahat jamaah. Toilet kami sediakan, ada empat unit. Yang ditutup hanya bagian dalam gereja karena memang tidak ada kegiatan ibadah,” tegas Romo Petrus.
Sementara itu, Ketua Panitia Lokal Mujahadah Kubro Harlah Satu Abad NU PCNU Kota Malang, Edy Hayatullah, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas sikap Gereja Katedral Ijen tersebut.
“Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Gereja Katedral Ijen. Ini adalah teladan toleransi dan persaudaraan yang sangat mulia. Sikap ini memperkuat pesan bahwa Harlah Satu Abad NU adalah momentum kebersamaan seluruh elemen masyarakat,” ujar Gus Edy.
Menurutnya, dukungan lintas iman yang ditunjukkan gereja menjadi energi moral bagi panitia dan jamaah. Ia menegaskan bahwa NU sejak awal memosisikan Mujahadah Kubro sebagai agenda keagamaan yang membawa pesan kedamaian dan persatuan.
“Apa yang dilakukan Gereja Katedral Ijen menunjukkan bahwa perbedaan iman tidak menghalangi kita untuk saling menghormati dan saling membantu. Inilah wajah Islam dan Indonesia yang ingin terus kami rawat,” tegasnya.
Sebagai informasi, penutupan jalan selama pelaksanaan Mujahadah Kubro (7-8/2) meliputi 12 ruas jalan di kawasan Ijen dan sekitarnya, diantaranya Jalan Besar Ijen, Jalan Retawu, Jalan Wilis, Jalan Pahlawan Trip, Jalan Semeru, Jalan Lawu, Jalan Welirang, Jalan Merapi, Jalan Taman Slamet, Jalan Sumbing, Jalan Guntur, dan Jalan Buring.
“Penyesuaian jadwal misa dan dukungan fasilitas dari Gereja Katedral Ijen ini menjadi bagian penting dari mozaik toleransi di Kota Malang. Sebuah praktik nyata persaudaraan lintas iman yang menguatkan pelaksanaan Mujahadah Kubro Harlah Satu Abad NU secara aman, tertib, dan penuh kedamaian,” katanya.
Panitia menyebutkan acara Mujahadah Kubro PWNU Jatim adalah sholawatan (21.00-24.00), khotmil Qur’an (00.00-01.00), sholat malam (01.00-02.00), mujahadah dan ijazah kubro (02.00-04.00), sholat subuh dan sholwatan (04.00-06.30), dan resepsi (06.30-09.00).
Acara resepsi pada Mujahadah Kubro yang juga dihadiri PWNU dari luar Jatim adalah sambutan Ketua PWNU Jatim, sambutan Gubernur Jatim, Taujihad Mustasyar PWNU Jatim, Sambutan Presiden, dan Doa.
(*/fpnu)

