By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: “Tebuireng Institute” Serukan NU Kembali ke Qanun Asasi
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Nahdliyyin > “Tebuireng Institute” Serukan NU Kembali ke Qanun Asasi
Nahdliyyin

“Tebuireng Institute” Serukan NU Kembali ke Qanun Asasi

14/02/2026
SHARE

Jombang, radar96.com – Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, dan “Tebuireng Institute” mengadakan Roundtable Discussion bertajuk “Membedah Genealogi dan Transformasi Al-Qānūn Al-Asāsī” di aula Lantai 3 Gedung KH. Yusuf Hasyim Tebuireng, Sabtu (14/2), yang menyerukan pentingnya NU kembali ke spirit “Qanun Asasi” karya Rais Akbar KHM Hasyim Asy’ari.

Diskusi yang bertepatan hari kelahiran KHM Hasyim Asy’ari itu dipandu Ketua Tebuireng Institute, Dr KH Achmad Roziqi, yang juga Mudir V Pesantren Tebuireng, dan menghadirkan para pakar yakni Prof Dr H Abdul A’la MAg, DR KH Mustain Syafi’i, HM Nasruddin Anshoriy, DR H Rijal Mumazziq, Prof Masdar Hilmy, DR Ahmad Ginanjar Sya’ban, Prof DR Muhibin Zuhri, dan H Nur Hidayat.

Forum yang dihadiri puluhan peserta diskusi itu dibuka pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Machfudz, yang juga Ketua PWNU Jatim. “NU lahir saat Indonesia dalam era pemerintahan Belanda yang melahirkan masalah mengenai ordonansi pernikahan dan guru liar,” kata KH Abdul Hakim Mahfudz yang akrab disapa Gus Kikin.

Cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari itu menegaskan bahwa Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari menunjukkan komitmen perjuangan lewat pendidikan melalui pesantren dan madrasah, bahkan Hadratussyeikh juga memotivasi rakyat untuk lepas dari belenggu penjajahan Belanda melalui spirit “Al-Qānūn Al-Asāsī” yang dapat menjadi landasan nilai dan arah gerak organisasi yang relevan di sepanjang zaman.

“Kalau kembali ke Qanun Asasi itu menekankan pentingnya umat Islam bersatu untuk memcari ridha Allah. Kalau ada ridha Allah, maka akan dianugerahi Allah dengan bimbingan langsung untuk keluar dari setiap masalah. Jadi, Qanun Asasi itu modal historis dari NU. Presiden Prabowo saat menghadiri Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Malang (8/2) sempat mengomentari peran strategis NU dalam kemerdekaan,” katanya.

Dalam paparannya, Guru Besar UINSA Prof DR H Abd A’la menegaskan bahwa NU sejak awal konsisten terhadap mazhab, namun Qanun Asasi secara operasional organisasi masih mengalami pasang surut atau belum menjadi “jiwa” organisasi.

“Tahun 1945-1952, NU berfusi ke Masyumi saat menjadi parpol, lalu NU tidak diberi peran hingga menjadi parpol sendiri. Tahun 1973, terjadi fusi ke PPP dan lagi-lagi NU tidak diberi peran, sehingga mulai ada upaya kembali ke Khittah 1926 yang puncaknya pada 1984, namun program sosial masih belum maksimal,” katanya.

Sementara DR KH Mustain Syafi’i dari Dewan Masyayikh Tebuireng menjelaskan NU sebagai organisasi ulama seharusnya memang dipimpin ulama, bukan “tujjar” (pedagang/non-ulama), karena itu Hadratussyeikh saat merumuskan kewajiban resolusi jihad juga menggunakan dasar fiqih (fardlu kifayah dan fardlu ain), sehingga umat tahu bahwa melawan penjajah itu jihad.

Pandangan senada juga disampaikan tokoh muda NU DR Rizal Mumazziq bahwa Qanun Asasi itu mirip Statuta atau UUD yang menjadi sumber Ideologis/Organisatoris/Teologis, karena Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari menyusun Muqoddimah Qanun Asasi dengan merujuk 44 ayat Al-Qur’an, enam hadits, dan lima qoul/pendapat Sahabat Nabi.

“Muqoddimah Qanun Asasi yang disampaikan dalam Muktamar di Masjid Ampel Surabaya pada 11 Oktober 1928 itu intinya Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’arin menekankan lima poin atau lima sila yang penting bagi NU yakni persatuan, persaudaraan, sanad keilmuah, pentingnya madzhab, dan kemaslahatan umat,” katanya.

Masalahnya, lima sila penting itu belum maksimal dalam tataran praktis, kecuali jumlah warga NU yang banyak saja. “Karena itu, saya sepakat dengan Gus Kikin agar pengurus NU itu mengurangi seremonial dan lebih fokus aksi sosial untuk menghabiskan energi pada hal-hal responsif, evolutif, dinamis, dan adaptif,” katanya.

Hal yang sama juga diakui Wasekjen PBNU H Nur Hidayat. “Muqoddimah Qanun Asasi memang sungguh mulia tapi secara operasional masih menjadi pertanyaan, bahkan hari-hari ini pemahaman NU sebagai jam’iyah juga mulai menipis, karena peran ulama pelan-pelan bergeser dalam tiga muktamar terakhir,” katanya. (*/fpnu)

Iklan.

You Might Also Like

KHM Chizni Umar Burhan “Penjaga Rumah Arsip NU” Wafat

PWNU Jatim gagas “Gerakan NUConomic” berbasis tiga pilar pemberdayaan ekonomi warga NU ala “Nahdlatut Tujjar”

Jelang Muktamar, PWNU Jatim Usulkan “Aswaja Center” jadi Lembaga/Badan Khusus NU

PCNU Surabaya Ajak Pemerintah Eksekutif dan Legislatif Bersinergi Atasi Permasalahan Ummat

Rais Aam PBNU: Muktamar ke-35 NU pada tanggal 1-5 Agustus

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Tumbuh Pesat di Tahun Ketiga, Aset Dikelola BMTNU Sidoarjo Capai Rp 15 Miliar
Next Article Gubernur Khofifah Bagikan Apem saat Megengan “Healing Ramadhan” di Masjid Al-Akbar

Advertisement



Berita Terbaru

Fenomena “Ghosting Berkedok Lupa: Seni Menghilang Tanpa Rasa Bersalah” dalam Perspektif Relasi Sosial dan Etika Keislaman
Kolom
KPK rekomendasikan 7 solusi cegah 8 potensi korupsi program MBG
Sospol
Tiga Hari, Menu SPPG Kedungwaru Dipilih BGN sebagai Contoh Nasional
Sospol
Petani Tembakau Madura Keluarkan Tritura
Ekraf

You Might also Like

Nahdliyyin

Muskerwil di Tuban, PWNU Jatim Ingatkan Pentingnya Tradisi Silaturahmi dan Qanun Asasi

11/04/2026
Nahdliyyin

Jelang Muktamar NU, PWNU Jatim Siapkan Muskerwil di Pesantren Sunan Bejagung, Tuban

08/04/2026
Nahdliyyin

Halalbihalal, KMNU Unair: Silaturahmi jadi Jalan Kebersamaan di Tengah Gejolak Dunia

05/04/2026
Nahdliyyin

LKK PWNU Jatim dan RS Siloam Surabaya Jalin Kerja Sama Strategis

04/04/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?