Bondowoso, radar96.com – Festival Jejak Purba Bondowoso yang digelar di Museum Terbuka Megalitik Bondowoso pada 19-29 Juni 2026, tidak hanya menjadi panggung seni budaya, tetapi juga sarana edukasi untuk memperkenalkan kekayaan warisan megalitik kepada generasi muda. Kegiatan yang berlangsung melalui Parade Budaya dan Penampilan Seni Budaya tersebut melibatkan pelajar, akademisi, komunitas budaya, serta masyarakat umum.
Melalui festival tersebut, peserta diajak mengenal lebih dekat jejak peradaban masa lalu yang tersebar di berbagai wilayah Kabupaten Bondowoso. Selain menikmati pertunjukan seni tradisional, pengunjung juga mengikuti kegiatan kunjungan situs megalitik dan seminar kebudayaan.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Bondowoso, I Gede Budiawan, S.Sos., M.Si., di Bondowoso, Jumat (19/6/2026),
mengatakan Festival Jejak Purba Bondowoso sejak awal dirancang sebagai ruang pembelajaran budaya yang mudah diakses masyarakat.
“Ini lebih kepada mengedukasi sebenarnya acara ini. Makanya di dalam acara ini kita menampilkan kesenian lokal Bondowoso selama dua hari, terus ada juga seperti trip untuk mengenalkan Megalit di sekitar museum terbuka ini, terus juga ada seminarnya juga,” ujarnya.
Menurut Gede, pelibatan pelajar SMA dan SMK dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menanamkan kesadaran sejarah sejak dini. Para siswa tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga diajak berdiskusi mengenai perkembangan dan potensi megalit yang dimiliki Bondowoso.
Ia menilai edukasi budaya menjadi langkah penting mengingat Bondowoso memiliki kekayaan peninggalan megalitik yang sangat besar. Berdasarkan data yang dimiliki pemerintah daerah, jumlah benda cagar budaya megalitik yang telah terdata mencapai 1.423 objek.
“Kalau memang itu dikatakan terbanyak ya bisa dikatakan paling banyak di kita, itu yang terdata di kami,” kata Gede.
Menurutnya, keberadaan ribuan peninggalan megalitik tersebut selama ini dijaga oleh para juru pelihara dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Trowulan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Bondowoso yang secara rutin melakukan pemeliharaan.
Meski memiliki kekayaan budaya yang melimpah, Gede mengakui bahwa megalit Bondowoso masih belum dikenal luas sebagaimana potensi yang dimilikinya. Karena itu, promosi secara berkelanjutan menjadi salah satu prioritas pemerintah daerah.
“Itu memang tantangan kita, PR kita sebenarnya. Makanya kita giat untuk mempromosikan ini. Tahun kemarin kita juga sudah buat Festival Megalit, tahun ini kita coba buat ini, artinya kami berharap betul bahwa Megalit ini berkelanjutan untuk promosinya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Museum Terbuka Megalitik Bondowoso sengaja dibuka secara gratis sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam memperluas akses edukasi budaya. Pemerintah juga menggandeng Dinas Pendidikan, Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, dan Kementerian Agama agar museum dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran sejarah bagi peserta didik.
Konsep museum terbuka yang diterapkan juga menjadi pembeda dibanding museum pada umumnya. Sebab, koleksi megalitik tidak hanya berada di dalam area museum, tetapi juga tersebar di lingkungan masyarakat sehingga pengunjung dapat melihat langsung keterkaitan antara warisan budaya dan kehidupan warga sekitar.
Sementara itu, mewakili Bupati Bondowoso, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Bondowoso, Dra. Nunung Setianingsih, M.M., mengatakan bahwa Bondowoso memiliki kekayaan sejarah yang tidak kalah penting dibandingkan potensi alam yang dimiliki.
“Jejak peradaban masa lalu mulai dari situs megalitik, tradisi leluhur hingga kesenian rakyat merupakan identitas dan warisan berharga yang wajib kita jaga bersama. Warisan budaya bukanlah sekadar peninggalan masa lampau untuk dikenang, melainkan sumber inspirasi dan kekuatan untuk membangun masa depan,” ujarnya.
Nunung juga memberikan apresiasi kepada komunitas budaya, pelaku seni, pegiat budaya, dan akademisi yang selama ini aktif menjaga kelestarian warisan leluhur. Ia berharap generasi muda dapat mengambil peran lebih besar dalam mendokumentasikan, mengembangkan, dan mempromosikan budaya lokal melalui pemanfaatan teknologi digital.
“Ke depan, saya berharap generasi muda dapat terlibat aktif secara kreatif. Mari kita dokumentasikan, kembangkan, dan promosikan situs budaya serta pengetahuan lokal melalui inovasi digital agar Bondowoso semakin dikenal sebagai daerah yang maju namun tetap kukuh menjaga warisan budayanya. Semoga melalui kegiatan ini lahir gagasan baru dan komitmen kuat untuk merawat jejak purba Bondowoso demi generasi masa depan,” pungkasnya. (*/Rif)



