Surabaya, radar96.com – Menteri Agama (Menag) Prof Nasaruddin Umar yang juga Presiden “International Grand Imams Conference” (IGIC) mengapresiasi “Istighotsah dan Tabligh Akbar” menjelang IGIC 2026 yang dilaksanakan tim pengarah (SC) IGIC 2026 bersama Pemprov Jatim di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Minggu (2/8).
“Doa itu merupakan energi spiritual yang penting dalam membangun bangsa dan negara menjadi lebih baik, apalagi kita akan kedatangan tamu terhormat 400-an grand imams (imam besar masjid) dari 50 negara di dunia dalam IGIC 2026. Rangkaian IGIC sudah dilaksanakan di Kalimantan, Sulawesi, Banten, dan sekarang di Jatim,” katanya dalam acara yang dihadiri Gubernur Jatim Hj Khofifah dan belasan ribu imam/takmir masjid se-Jatim itu.
Dalam acara yang diawali dengan istighotsah yang dipimpin imam besar MAS KH Abdul Hamid Abdullah itu, Menag yang juga Ketua Umum “Ittihad Persaudaraan Imam Masjid” (IPIM) dan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta itu menjelaskan masjid di Indonesia sudah menjadi rumah kemanusiaan yang dikagumi dunia.
“Karena Masjid Istiqlal telah menjadi rumah ibadah yang pertama mendapat penghargaan Bank Dunia, maka masjid di Indonesia sekarang menjadi contoh terbaik di dunia. Masjid Istiqlal mendapat award yang pertama untuk rumah ibadah di dunia karena terbesar dan terhemat, karena satu tetes air wudhu akan masuk kolam bawah tanah, lalu terjadi recycle, sehingga bisa diminum. Selain itu, ada panel solar system untuk listrik, juga kebersihan terjaga,” katanya.
Dalam acara yang juga dihadiri Ketua SC IGIC Irjen Pol Dr HM Sabilul Alif dan Kepala Kanwil Kementerian Agama Jatim Akhmad Sruji Bahtiar itu, Menag menegaskan bahwa masjid di zaman Rasulullah juga hanya 20 persen untuk ibadah dan 80 persen justru untuk fungsi pemberdayaan dan pencerahan masyarakat.
“Fungsi di luar ibadah itu antara pendidikan agama, latihan bela diri, baitul mal (pampasan perang, zakat, infaq, sedekah), penginapan untuk tamu daerah, pengadilan/penegakan hukum, rumah sakit/kesehatan, balai pertemuan lintas agama, kebaktian umat agama lain yang belum memiliki rumah ibadah, menara masjid juga bukan gagah-gagahan tapi karena Bilal selama ini menggunakan rumah orang untuk azan, menara bisa untuk mempererat solidaritas sosial, balai keterampilan, dan banyak fungsi lain,” katanya.
Dari aspek bahasa, Menag menyatakan masjid itu berasal dari akar kata “sajadah” yang berarti menundukkan mahkota tertinggi manusia (kepala) ke lantai yang merupakan tempat paling rendah. “Kalau sajad itu bukan tunduk kepada Allah, tapi ke mal. Itu berbeda dengan sujud yang bermakna menunduk totalitas kepada Allah, tapi sujud itu kata jamaknya adalah assajid. Assajid atau sujud itu lebih penting daripada masjid, karena sujud bisa di luar masjid,” katanya.
Oleh karena itu, fungsi masjid itu untuk memberdayakan umat atau sebagai rumah besar kemanusiaan, masjid itu untuk pencerahan, bukan untuk provokasi masyarakat, bahkan Rasulullah sempat memperbolehkan umat Yahudi membangun sinagog (rumah ibadah Yahudi), karena lokasi tanah yang dimiliki kebetulan di dekat masjid.
“Beberapa sahabat Nabi sempat memprotes, tapi Nabi memperbolehkan dengan alasan kepemilikan itu. Akhirnya, pemeluk Yahudi itu tertarik dengan azan yang berbunyi ‘Hayya alal Falah’ (ayo menuju kemenangan/keberuntungan), karena fungsi itu sama dengan sinagog, sehingga umat Yahudi itu pun mengizinkan sinagog untuk perluasan lokasi masjid, karena fungsi/tujuan yang sama. Itulah manfaat sikap Nabi yang tidak menerima protes pada saat itu. Itu seperti arti kata ‘imam’ dari Bahasa Ibrani yang bermakna kasih sayang,” katanya. (*/mas)



