Jakarta, radar96.com – Tiga buku yang mengangkat tema Qanun Asasi Nahdlatul Ulama resmi diluncurkan di Gedung Nusantara MPR RI, Jakarta, dalam rangkaian Sosialisasi Empat Pilar MPR RI dalam acara Kebangsaan dan Qanun Asasi.
Tiga buku tersebut yakni Syarah Kitab Al-Qanun Al-Asasi karya KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Terjemah Al-Qanun Al-Asasi karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, serta Transformasi Nilai-Nilai Qonun Asasi NU: Mengembangkan SDM Pesantren untuk Indonesia Emas 2045 karya Dr. Hj. Lelly Lailiyah Hakim MM.

Peluncuran ini menjadi momentum penting untuk kembali mengenalkan Qanun Asasi sebagai warisan intelektual Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang tetap relevan dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan.
Karya Syarah Kitab Al-Qanun Al-Asasi menjadi bagian dari ikhtiar Gus Kikin dalam menjaga dan meneruskan tradisi keilmuan yang diwariskan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.

Melalui buku tersebut, Gus Kikin tidak sekadar menghadirkan kembali teks Qanun Asasi, tetapi berusaha memberikan penjelasan agar kandungan dan pesan di dalamnya dapat dipahami oleh generasi saat ini.
Bagi Gus Kikin, Qanun Asasi bukan sekadar dokumen sejarah NU. Di dalamnya terdapat prinsip penting tentang persatuan, ukhuwah, keadilan, perdamaian, kemaslahatan, serta tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Karena itu, menyusun syarah atas Qanun Asasi merupakan bagian dari perjuangan intelektual untuk menghubungkan warisan pemikiran ulama terdahulu dengan tantangan generasi masa kini.
Qanun Asasi untuk Kehidupan Kebangsaan
Nilai-nilai yang terkandung dalam Qanun Asasi memiliki relevansi dengan semangat kebangsaan dan Empat Pilar MPR RI. Keduanya sama-sama menekankan pentingnya persatuan, kebersamaan, tanggung jawab, dan menjaga kehidupan bangsa.
Peluncuran tiga buku ini sekaligus menunjukkan kesinambungan antara warisan pemikiran Hadratussyaikh, upaya Gus Kikin merawat dan menjelaskannya, serta agenda pengembangan SDM pesantren menuju Indonesia Emas 2045.
Momentum di Gedung Nusantara MPR RI tersebut menjadi pengingat bahwa warisan ulama tidak cukup hanya dikenang. Warisan tersebut harus terus dikaji, dipahami, dan dihidupkan agar tetap menjadi sumber kekuatan bagi umat dan bangsa.
Melalui Syarah Kitab Al-Qanun Al-Asasi, Gus Kikin meneguhkan ikhtiar untuk menjaga mata rantai keilmuan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari agar tetap tersambung kepada generasi NU hari ini dan generasi yang akan datang. (*/tbi)



