Jombang, radar96.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengusulkan “Aswaja Center NU” menjadi salah satu lembaga di NU dalam Muktamar ke-35 NU di Pesantren Tambakberas, Jombang, Jatim, 27-31 Agustus 2026.
Usulan itu disampaikan Koordinator Aswaja Center NU Jatim KH Ma’ruf Khozin dan Wakil Ketua PWNU Jatim KH Balya Firjaun Barlaman dalam Silatnas Aswaja Center NU di Masjid Jamik Pesantren Tambakberas, Sabtu.

Dalam Silatnas Aswaja Center NU yang dihadiri utusan/delegasi Aswaja Center NU dari Jatim, Makassar, Gorontalo, Jabar, dan sebagainya itu, Koordinator Aswaja Center NU Jatim KH Ma’ruf Khozin menjelaskan usulan itu masih dibahas dalam forum muktamar dan belum ada keputusan.
“Yang jelas, PWNU Jatim sudah punya Pokja Aswaja Center NU sejak 2011 dan beberapa cabang juga sudah punya. Hal itu sejalan dengan nilai Aswaja sebagai ruh NU,” katanya.

Dalam silatnas itu, KH Ma’ruf Khozin juga meluncurkan “Buku Induk Aswaja NU” yang berisi Tiga Prinsip Aswaja, Dalil Yasin/Tahlil/Tawassul/Haul, dan
Sejarah NU (Inisiator KHA Wahab Hasbullah, KH Ridlwan Abdullah, KH Mas Alwi Abdul Aziz).
Sementara itu, Wakil Ketua PWNU Jatim KH Balya Firjaun Barlaman menjelaskan Aswaja itu tidak lepas dari tiga prinsip Agama Islam yang diajarkan Malaikat Jibril kepada Rasulullah yakni iman, islam, dan ihsan.
“Tiga prinsip itu diterapkan NU dalam tiga serangkai ajaran KHM Hasyim Asy’ari, yakni akidah (Imam Asy’ari dan Maturidi); syariah (4 madzhab); dan tasawuf (Imam Junaid Al-Baghdadi dan Imam Ghozali). Tiga serangkai itu di Mesir diajarkan Universitas Al-Azhar, di Syuria diajarkan personal/ulama,. Hanya di Indonesia yang diajarkan organisasi (NU),” katanya.
Menjawab pertanyaan peserta silatnas tentang relevansi Aswaja Center dengan Ukhuwah Islamiyah, Wakil Ketua Aswaja Center PWNU Jatim Dr KH Faris Khoirul Anam menjelaskan prinsip Aswaja itu tidak bermusuhan Salafi/Wahabi, tapi pembelaan diri dari pandangan Salafi/Wahabi yang menuduh sesat/kafir.
“Aswaja itu Ilmu dan mental/karakter (tawassut, tawazzun, i’tidal, tasamuh) yang bersifat problem solver, misalnya dengan qiyas sebagai jalan tengah,” katanya.
Sementara itu, komunitas Nahdlatur Turots menggelar pameran sekitar 2.000 turots atau naskah peninggalan ulama dan karya keislaman klasik. Sebagian koleksi tersebut telah melalui proses digitalisasi.
Selain itu, Jaringan Penulis dan Penggerak Literasi (JPPL) serta LTN PWNU Jatim menyemarakkan Muktamar 35 dengan merumuskan Buku Sejarah Berbasis Dokumen yang merupakan kontekstualisasi buku sejarah NU yang sudah ada saat ini.
Lain halnya dengan Majelis Alumni IPNU dan IPPNU, yang menyampaikan pernyataan agar muktamar tidak hanya berfokus pada persoalan kepemimpinan, tetapi juga membahas program NU Abad Kedua untuk periode 2026-2031, khususnya terkait abad digital. (*/fpnu)



