Menagih Janji Regenerasi Pasca Muktamar 35 Jombang
Oleh : H Muzammil Syafii
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang telah usai. Namun bagi kader-kader muda NU, terutama yang lahir dan dibesarkan dari rahim IPNU-IPPNU, muktamar bukan sekadar seremoni lima tahunan yang berhenti pada pemilihan pengurus. Muktamar adalah momentum untuk menagih janji: janji regenerasi, janji keberlanjutan, dan janji bahwa organisasi ini benar-benar menghargai proses panjang kaderisasi yang telah ditempuh para kadernya. Pertanyaannya sederhana namun mendasar—setelah dokumen transformasi kaderisasi disahkan di atas kertas, akan sejauh mana ia diterjemahkan menjadi kebijakan nyata dalam pengisian struktur kepengurusan PBNU?
Organisasi sebagai Sekolah Kepemimpinan
Tidak semua kader tumbuh dari ruang kelas. Sebagian besar kader NU justru ditempa melalui pengalaman panjang di lapangan: mengorganisasi kegiatan, memimpin rapat, menyusun program, mengelola sumber daya yang serba terbatas, membangun jaringan, menghadapi perbedaan pendapat, menyelesaikan konflik, dan yang tak kalah penting, mempertanggungjawabkan amanah yang diembannya. Semua itu adalah proses pendidikan kepemimpinan yang sesungguhnya—sebuah kurikulum yang tidak tertulis di silabus mana pun, tetapi terpatri dalam pengalaman.
Dalam konteks inilah IPNU dan IPPNU menempati posisi istimewa sebagai salah satu sekolah kepemimpinan NU yang paling awal menyentuh generasi muda. Di organisasi inilah banyak anak muda NU untuk pertama kalinya mengenal dunia keorganisasian: belajar Aswaja, tradisi NU, musyawarah, komunikasi, administrasi, pengelolaan kegiatan, sekaligus menyerap satu nilai yang menjadi ruh dari seluruh gerak NU—khidmah.
Perjalanan itu biasanya dimulai dari tingkat komisariat atau ranting, merangkak naik ke PAC, PC, hingga PW. Sebagian kader melanjutkan pengabdiannya di GP Ansor, Fatayat, atau badan otonom lain. Sebagian lagi menyebar ke dunia pendidikan, akademik, profesi, usaha, pemerintahan, politik, dan berbagai ruang pengabdian masyarakat lainnya. Jejak inilah yang semestinya tidak hilang begitu saja dari radar organisasi induknya.
Khidmah sebagai Ujian yang Sesungguhnya
Kaderisasi tidak berhenti pada apa yang dipelajari di forum-forum pelatihan. Ia baru menemukan maknanya yang utuh ketika ilmu dan pengalaman itu dipergunakan untuk berkhidmah kepada umat dan bangsa.
Ada kader yang barangkali tidak terlalu menonjol dalam forum-forum formal, tetapi bertahun-tahun menghidupkan organisasi di akar rumput tanpa banyak sorotan. Ada yang membangun madrasah. Ada yang mengembangkan pesantren. Ada yang menjadi guru yang setia mengajar generasi demi generasi. Ada yang mengabdi di perguruan tinggi, memberdayakan ekonomi masyarakat, atau bergerak di ranah pelayanan sosial. Ada pula yang mengabdikan keahliannya untuk kepentingan NU tanpa pernah menuntut pengakuan publik. Mereka mungkin tidak selalu berada di pusat perhatian, tetapi merekalah yang sesungguhnya memiliki rekam jejak khidmah yang paling otentik—dan sayangnya, paling sering luput dari pandangan struktur di atasnya.
Dari Patronase Menuju Meritokrasi
Di sinilah letak urgensi sebuah sistem talent mapping dan talent scouting di tubuh PBNU. Rekrutmen pengurus di jajaran Lembaga, Lajnah, maupun Badan Khusus PBNU perlu bertransformasi dari pola kedekatan personal (patronage system) orang yang berdarah darah sebagai Tim pemenangan kandidat atau kelompoknya, menuju sistem yang berbasis kinerja dan kualifikasi (merit system).
Ini bukan soal menghapus kepercayaan personal dalam berorganisasi—itu tetap penting dalam tradisi NU yang menjunjung tinggi sanad dan silaturahmi. Tetapi kepercayaan personal semestinya berjalan beriringan dengan objektivitas rekam jejak, bukan menggantikannya sepenuhnya. PBNU hari ini mengelola portofolio organisasi yang luar biasa luas: ribuan pesantren dan lembaga pendidikan, rumah sakit, jaringan ekonomi umat, hingga diplomasi kebudayaan di panggung global. Kompleksitas sebesar ini menuntut kehadiran kader yang tepat di tempat yang tepat—the right person in the right place—bukan sekadar kader yang dekat secara personal dengan pengambil keputusan.
Jika pola ini dibiarkan berlanjut tanpa pembenahan, yang terjadi adalah kebocoran talenta atau brain drain kader. Banyak alumni IPNU-IPPNU yang memiliki kapasitas mumpuni—akademisi unggul, teknokrat, profesional digital, pakar hukum dan ekonomi—akhirnya tidak terakomodasi di struktur PBNU. Bukan karena mereka tidak layak, melainkan karena organisasi tidak memiliki kanal penelusuran rekam jejak (cadre tracking system) yang memadai dan objektif.
Membangun Rekam Jejak sebagai Basis Penilaian
Jenjang kaderisasi formal—MAKESTA, LAKUT, hingga LAKNAS—tetap penting sebagai pijakan dasar ideologis dan komitmen loyalitas organisasi. Namun penilaian terhadap seorang kader tidak boleh berhenti di situ. Penilaian yang lebih substantif harus melihat portofolio: bagaimana rekam jejak kepemimpinannya ketika memimpin cabang atau wilayah? Apa karya nyata atau program monumental yang berhasil ia eksekusi? Bagaimana konsistensi kontribusinya setelah lulus dari badan otonom muda?
Sertifikat pelatihan hanyalah pintu masuk. Integritas dan keberlanjutan khidmah setelah pelatihan itulah yang menjadi pembuktian sesungguhnya.
Menyambung Mata Rantai yang Terputus
Semangat ini sejatinya telah termaktub dalam Program Transformasi Kaderisasi yang menjadi salah satu materi Muktamar ke-35. Penguatan redesigne kurikulum adaptif, penatakelolaan data base terpadu ( profile – perkembangan – potensi ) dan perlu menegaskan bahwa kaderisasi tidak boleh berhenti pada tahap pendidikan dan pelatihan semata (input-proses), tetapi harus berlanjut pada pendistribusian dan pendayagunaan kader (output-outcome). Sayangnya, mata rantai antara “proses kaderisasi” dan “distribusi kader” inilah yang selama ini paling sering terputus.
Untuk menyambungnya, PBNU perlu mewujudkan basis data kader terintegrasi secara digital—semacam PBNU Talent Bank—yang memungkinkan talent mapping berjalan secara nasional. Lebih jauh, PBNU juga perlu mengambil peran aktif melalui talent scouting: bukan menunggu kader datang melamar, melainkan secara proaktif menjemput dan mengundang alumni IPNU-IPPNU yang telah teruji dan memiliki spesialisasi tinggi untuk turut mendesain serta mengelola lembaga-lembaga strategis PBNU, seperti LPTNU, Lakpesdam, Lembaga Kesehatan, atau Lembaga Perekonomian.
Ruang bagi Alumni IPNU-IPPNU
Ada dua ranah yang bisa segera dibuka bagi alumni IPNU-IPPNU yang telah menyelesaikan proses kaderisasinya. Pertama, posisi eksekutif atau pelaksana program di Lembaga dan Lajnah yang membutuhkan kompetensi teknis, daya analitis, dan fleksibilitas kerja khas generasi muda. Kedua, jajaran eksekutif dan kesekretariatan PBNU, tempat kematangan administrasi keorganisasian alumni IPNU-IPPNU dapat memperkuat tata kelola kesekretariatan agar lebih akuntabel, rapi, dan modern.
Kedua ranah ini bukan hadiah atau balas jasa, melainkan konsekuensi logis dari investasi panjang yang telah ditanamkan organisasi kepada kader-kadernya sejak dari komisariat hingga hari ini.
Alumni IPNU yang kemarin sudah berdarah darah dalam mensukseskan Muktamar dan mereka mempunyai kualifikasi cukup semacam Prof. Dr. Asrorun Niam Sholeh saya rasa layak untuk diberikan tugas sebagai Sekertais Jenderal PBNU. Ini bukan tuntutan melainkan memberikan tempat yang layak bagi kader yang layak.
Penutup: Legacy Kepemimpinan Abad Kedua
Membuka pintu PBNU berbasis talent mapping dan talent scouting bukanlah proyek jangka pendek untuk menyenangkan sebagian kalangan muda. Ia adalah investasi jangka panjang bagi keberlangsungan jam’iyah itu sendiri. Ketika PBNU sungguh-sungguh menjelma menjadi Rumah Besar Talenta—tempat setiap potensi kader terdata, terkelola, dan didistribusikan secara presisi—maka dengan sendirinya alumni IPNU-IPPNU yang teruji dan berkualitas tinggi akan menempati posisi-posisi strategis untuk turut menggerakkan roda jam’iyah di abad kedua Nahdlatul Ulama.
Pasca Muktamar 35 Jombang, inilah saatnya PBNU membuktikan bahwa khidmah para kadernya tidak berhenti dipuji dalam pidato, melainkan diakomodasi secara layak dalam struktur.
Terimakasih
Pasuruan 31 Agustus 2026
Mantan Ketua Presedium MA IPNU Jatim



