Oleh Dr. ROMADLON SUKARDI, MM.
Ketika Akar Tetap di Tanah, Tetapi Pikiran Terbang Menembus Batas Dunia
Dalam sejarah panjang Nahdlatul Ulama, kepemimpinan tidak pernah hadir dalam satu warna. Ada kiai yang memilih duduk dekat dengan masyarakat, mendengar keluhan petani, menemui santri di pelosok, menguatkan masjid dan pesantren, serta menjaga tradisi keilmuan agar tidak tercerabut dari kehidupan sehari-hari. Ada pula tokoh yang membawa gagasan NU ke ruang akademik, diplomasi, forum internasional, dan percakapan tentang masa depan umat manusia.
Keduanya bukan dua jalan yang saling bertentangan.
Justru di sanalah keindahan tradisi kepemimpinan NU: ada yang menjaga akar, ada yang mengembangkan sayap; ada yang memperdalam nilai, ada yang memperluas pengaruh; ada yang bekerja dari desa ke dunia, dan ada yang membawa suara dunia kembali untuk kemaslahatan umat.
Karena itu, pergantian kepemimpinan NU hari ini menarik dibaca bukan dengan kacamata siapa menang dan siapa kalah, melainkan dengan perspektif yang lebih panjang: bagaimana sebuah organisasi besar membagi energi khidmahnya agar tetap berakar kuat di bumi sekaligus mampu berbicara kepada dunia.
Di titik inilah kita dapat merenungkan tiga spektrum kepemimpinan: KH Miftachul Akhyar dan Gus Yahya, dengan refleksi historis KH M. Ahmad Sahal Mahfudz dan Gus Dur, serta jejak penting KH Hasyim Muzadi—Abah Hasyim—yang menunjukkan bahwa seorang pemimpin NU dapat berangkat dari akar umat, tetapi kemudian berdiri di panggung kemanusiaan dunia.
Dari Pesantren ke Panggung Dunia: NU Tidak Boleh Kehilangan Salah Satunya
NU lahir dari pesantren.
Denyut nadinya hidup di masjid-masjid, madrasah, majelis taklim, rumah-rumah kiai, desa-desa, kampung-kampung, wilayah pegunungan, dan masyarakat pesisir.
Di sanalah NU menemukan kekuatannya.
Tetapi NU juga hidup di tengah perubahan dunia yang luar biasa cepat. Globalisasi, teknologi, kecerdasan buatan, perubahan geopolitik, konflik antarnegara, krisis kemanusiaan, perubahan iklim, migrasi, ekstremisme, ketimpangan ekonomi, dan fragmentasi sosial menghadirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang tidak cukup dijawab hanya dengan bahasa lokal.
Karena itu, NU membutuhkan akar yang semakin kuat dan cakrawala yang semakin luas.
Kita membutuhkan kiai yang memahami bahasa umat di desa.
Tetapi kita juga membutuhkan tokoh yang mampu menjelaskan Islam kepada dunia.
Kita membutuhkan orang yang memahami problem nelayan dan petani.
Tetapi kita juga membutuhkan pemikir yang mampu berbicara dengan pemimpin negara, intelektual, akademisi, diplomat, dan tokoh agama dunia.
Bukan karena salah satunya lebih tinggi.
Tetapi karena medan khidmah memang berbeda.
Rais ‘Aam Menjaga Kedalaman, Ketua Umum Memperluas Jangkauan
Dalam konstruksi kepemimpinan NU, Rais ‘Aam memiliki posisi strategis sebagai penjaga otoritas keulamaan, nilai, tradisi, sanad keilmuan, dan arah moral jam’iyyah.
Sementara Ketua Umum memiliki ruang yang lebih luas dalam menggerakkan organisasi, membangun jejaring, merumuskan strategi, mengembangkan program, dan membawa NU berinteraksi dengan negara serta dunia internasional.
Tentu pembagian ini bukan sekat yang kaku.
Seorang Rais ‘Aam dapat memiliki wawasan global.
Seorang Ketua Umum juga harus memiliki kedalaman keulamaan dan kepekaan terhadap umat.
Namun secara konseptual, kita dapat membaca adanya dua spektrum besar:
Rais ‘Aam menjaga kedalaman.
Ketua Umum memperluas jangkauan.
Rais ‘Aam menjaga akar.
Ketua Umum mengembangkan sayap.
Rais ‘Aam menjaga marwah dan sanad.
Ketua Umum memperkuat strategi dan jejaring.
Jika keduanya berjalan harmonis, NU tidak hanya kuat secara internal, tetapi juga berpengaruh secara eksternal.
Refleksi KHMA. Sahal Mahfudz–Gus Dur: Ketika Dua Karakter Menjadi Kekuatan
Sejarah NU pernah memperlihatkan konfigurasi kepemimpinan yang menarik antara Kiai Sahal Mahfudz dan Gus Dur.
Kiai Sahal memiliki kedalaman keulamaan, tradisi fiqh, pesantren, fiqh sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Beliau dekat dengan persoalan nyata umat. Pemikirannya tumbuh dari realitas masyarakat dan pesantren.
Gus Dur memiliki karakter intelektual yang sangat luas. Ia bergerak dalam ruang kebangsaan, demokrasi, pluralisme, dialog antaragama, kemanusiaan, dan percakapan global.
Keduanya berbeda.
Tetapi justru perbedaan itu menjadi kekayaan.
Kita belajar bahwa kepemimpinan tidak harus seragam untuk menjadi solid.
Tidak semua orang harus berdiri di panggung yang sama.
Tidak semua kiai harus melakukan pekerjaan yang sama.
Yang diperlukan adalah kesadaran bahwa setiap orang memiliki medan khidmah masing-masing.
Kiai Sahal memperlihatkan bagaimana keulamaan dapat menjadi energi pemberdayaan masyarakat.
Gus Dur memperlihatkan bagaimana pemikiran seorang kiai dapat melampaui batas negara dan zaman.
Yang satu memperkuat fondasi.
Yang lain memperluas cakrawala.
Akar dan sayap.
Abah Hasyim Muzadi: Dari Akar Umat Menuju Diplomasi Kemanusiaan
Dalam spektrum ini, kita tidak boleh melupakan sosok KH Ahmad Hasyim Muzadi—Abah Hasyim.
Abah Hasyim adalah contoh menarik bagaimana seorang pemimpin NU dapat berangkat dari tradisi pesantren, memahami denyut kehidupan umat, mengurus jam’iyyah, tetapi pada saat yang sama memiliki keberanian membawa NU ke ruang internasional.
Beliau memahami bahwa Islam tidak boleh hanya berbicara kepada dirinya sendiri.
Islam harus hadir dalam percakapan kemanusiaan.
Melalui berbagai forum internasional, Abah Hasyim membawa suara Islam Indonesia, khususnya tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan pengalaman NU, ke ruang dialog antaragama dan perdamaian dunia.
Di tangan beliau, NU tidak hanya diposisikan sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. NU diperkenalkan sebagai kekuatan masyarakat sipil yang memiliki kontribusi bagi perdamaian dan kemanusiaan global.
Inilah salah satu warisan penting Abah Hasyim yang relevan untuk direnungkan kembali hari ini.
Bahwa lokalitas tidak harus menjadi keterbatasan.
Justru karena memiliki akar yang kuat di bumi Nusantara, NU memiliki legitimasi moral untuk berbicara kepada dunia.
Kiai Miftah dan Gus Yahya: Dua Energi, Satu Horizon
Dalam konteks kekinian, kita dapat membaca relasi KH Miftachul Akhyar dan Gus Yahya dengan perspektif yang sama—tentu tanpa menyamakan karakter, zaman, maupun perjalanan masing-masing tokoh dengan Kiai Sahal, Gus Dur, atau Abah Hasyim.
Kiai Miftah memiliki kekuatan pada otoritas keulamaan, kedalaman tradisi, sanad keilmuan, pesantren, dan penjagaan nilai.
Sementara Gus Yahya memiliki pengalaman panjang dalam komunikasi lintas agama dan jejaring internasional.
Dan menariknya, setelah purna tugas dari struktur PBNU, sebagaimana diberitakan JAPOS, Gus Yahya menyatakan akan kembali berkonsentrasi pada dialog antaragama, Humanitarian Islam, Center for Shared Civilizational Values (CSCV), R20, serta Bayt ar-Rahmah.
Di sinilah kita menemukan sebuah kemungkinan pembacaan yang menarik:
ketika satu pintu struktural tertutup, pintu khidmah yang lain justru terbuka lebih lebar.
Purna tugas bukan berarti selesai. Pergantian jabatan bukan berarti hilangnya peran.
Justru seorang tokoh yang telah memiliki pengalaman panjang di tingkat nasional dapat membawa pengalaman tersebut ke medan yang lebih luas.
Dari Kampung ke Gedung Putih, Dari Pesantren ke Panggung Global
Ada satu ungkapan yang mungkin sederhana, tetapi sangat manusiawi:
Ada yang harus mengurus umat di kampung-kampung. Ada yang harus berbicara kepada dunia. Keduanya sama penting.
Bayangkan seorang kiai yang pagi harinya mendengar keluhan petani tentang harga pupuk, siangnya menerima santri yang kesulitan biaya pendidikan, sorenya menghadiri pengajian di kampung, dan malamnya membahas masa depan pesantren.
Di tempat lain, seorang tokoh NU mungkin sedang duduk bersama pemimpin agama dunia, akademisi, diplomat, atau pemimpin negara membicarakan konflik kemanusiaan, perdamaian, dan masa depan peradaban.
Apakah yang satu lebih penting daripada yang lain?
Tidak. Karena peradaban memang dibangun dari dua arah sekaligus: dari bawah dan dari atas, dari akar dan dari cakrawala.
Bahkan orang-orang yang hidup berkelimpahan secara material pun tetap membutuhkan nilai, moralitas, spiritualitas, dan makna kehidupan.
Dunia modern memiliki teknologi yang semakin canggih.
Tetapi kecanggihan teknologi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan.
Dunia memiliki kekayaan yang luar biasa. Tetapi kekayaan tidak otomatis menghadirkan ketenteraman. Manusia dapat memiliki kecerdasan buatan.
Tetapi tetap membutuhkan kecerdasan moral.
Di sinilah Humanitarian Islam menemukan relevansinya.
Islam bukan hanya berbicara tentang bagaimana manusia beribadah kepada Tuhan, tetapi juga bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.
Dari “Politik Organisasi” Menuju “Politik Peradaban”
Ada perbedaan mendasar antara mengelola organisasi dan mengelola gagasan peradaban.
Organisasi membutuhkan struktur.
Peradaban membutuhkan visi.
Organisasi membutuhkan program.
Peradaban membutuhkan nilai.
Organisasi membutuhkan kepemimpinan.
Peradaban membutuhkan keteladanan.
Karena itu, seorang tokoh yang telah selesai menjalankan tugas struktural masih dapat memberikan kontribusi yang sangat besar melalui gagasan dan jaringan yang telah dibangunnya.
Inilah yang membuat purna tugas Gus Yahya menarik untuk dibaca.
Bukan sebagai cerita tentang seseorang yang kehilangan jabatan.
Tetapi sebagai transformasi medan pengabdian.
Dari organizational leadership menuju civilizational leadership.
Dari mengurus struktur menuju memperluas gagasan.
Dari ruang internal menuju ruang global.
Dari jam’iyyah menuju diplomasi peradaban.
NU Harus Memiliki “Akar dan Sayap”
Jika kita ingin NU tetap relevan untuk satu abad ke depan, barangkali formula sederhananya adalah:
Akar tetap di pesantren.
Hati tetap bersama umat.
Sanad tetap terjaga.
Jam’iyyah tetap kokoh.
Pikiran terbuka kepada dunia.
Dan langkah diarahkan kepada kemanusiaan.
Kita tidak boleh kehilangan kampung karena terlalu sibuk mengejar dunia.
Tetapi kita juga tidak boleh kehilangan dunia karena terlalu sibuk mengurus persoalan internal.
NU harus hadir di masjid dan forum internasional.
Di pesantren dan universitas.
Di desa dan pusat kebijakan.
Di tengah petani dan di tengah pemimpin dunia.
Di ruang spiritual dan ruang intelektual.
Inilah NU yang memiliki akar sekaligus sayap.
Tidak Perlu Dipertentangkan: Semuanya Adalah Khidmah
Karena itu, barangkali sudah waktunya kita mengubah cara membaca kepemimpinan.
Jangan selalu bertanya:
“Siapa lebih hebat?”
Tetapi bertanyalah:
“Siapa sedang mengisi ruang khidmah yang dibutuhkan zamannya?”
Ada kiai yang kekuatannya berada di pesantren.
Ada yang kuat di masyarakat.
Ada yang kuat dalam pemikiran.
Ada yang kuat dalam organisasi.
Ada yang kuat dalam diplomasi.
Ada yang kuat dalam membangun ekonomi umat.
Ada yang kuat dalam pendidikan.
Ada yang kuat dalam mengembangkan jejaring internasional.
Semua diperlukan.
Sebab NU bukan monumen satu orang. NU adalah orkestrasi banyak manusia yang bekerja dalam medan berbeda untuk tujuan yang sama: kemaslahatan umat dan kemanusiaan.
Estafet Peradaban: Yang Satu Menanam, Yang Lain Memperluas
Pada akhirnya, kita harus melihat kepemimpinan NU sebagai sebuah estafet.
Ada generasi yang menanam.
Ada generasi yang merawat.
Ada generasi yang memperluas.
Ada generasi yang memanen.
Dan ada generasi yang kembali menanam untuk anak cucunya.
Kiai Sahal memberikan pelajaran tentang kedalaman keulamaan dan pemberdayaan.
Gus Dur memberikan pelajaran tentang keluasan pemikiran dan keberanian menembus batas.
Abah Hasyim Muzadi memberikan pelajaran bahwa kepemimpinan NU dapat bergerak dari akar umat menuju panggung diplomasi kemanusiaan.
Kiai Miftah memperlihatkan pentingnya otoritas ulama, sanad, dan kedalaman spiritual.
Gus Yahya menunjukkan bahwa pengalaman NU dapat dibawa ke ruang dialog peradaban global.
Dan kepemimpinan NU berikutnya memiliki tugas untuk mengorkestrasikan seluruh warisan tersebut menjadi energi baru.
Epilog — Akar di Bumi, Sayap ke Langit
Mungkin inilah gambaran paling sederhana tentang NU masa depan.
Akarnya tetap di bumi.
Sayapnya terbang ke langit.
Kiai tetap dekat dengan umat.
Pemikir tetap membuka cakrawala.
Pesantren tetap menjadi sumber nilai.
Organisasi tetap menjadi kendaraan khidmah.
Dan panggung global menjadi ruang untuk memperkenalkan bahwa Islam yang lahir dari tradisi pesantren Indonesia mampu menawarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan dunia: agama yang membawa kedamaian, kemanusiaan, keadilan, dan peradaban.
Karena itu, kita tidak perlu mempertentangkan Kiai Miftah dengan Gus Yahya.
Tidak perlu mempertentangkan Kiai Sahal dengan Gus Dur.
Tidak perlu pula mempertentangkan Abah Hasyim dengan generasi setelahnya.
Setiap zaman mempunyai tantangannya.
Setiap tokoh mempunyai medan khidmahnya.
Dan setiap generasi mempunyai tugas sejarahnya.
Yang mengurus desa bukan berarti berpikiran kecil.
Yang berbicara kepada dunia bukan berarti meninggalkan umat.
Justru keduanya harus bertemu.
Sebab dunia yang besar membutuhkan akar yang dalam.
Dan akar yang dalam membutuhkan sayap agar nilai-nilainya dapat terbang jauh.
Pada akhirnya, ukuran kepemimpinan bukanlah seberapa lama seseorang duduk di kursi.
Bukan pula seberapa tinggi panggung yang pernah didudukinya.
Tetapi seberapa luas kemaslahatan yang ditinggalkannya setelah ia selesai menjalankan amanah.
Jabatan boleh berganti.
Panggung boleh berpindah.
Generasi boleh datang dan pergi.
Tetapi khidmah harus terus menyala.
Rais ‘Aam menjaga kedalaman.
Ketua Umum memperluas jangkauan.
Pesantren menjaga akar.
Pemikiran mengembangkan sayap.
Dan kemanusiaan menjadi horizon bersama.
Inilah wajah NU yang kita harapkan:
berakar di Nusantara, berwawasan dunia, berjiwa pesantren, berpikiran terbuka, dan berkhidmah untuk seluruh umat manusia.
Faṣbir ṣabran jamīlā.
“Maka bersabarlah dengan kesabaran yang baik.”
Sebab dalam perjalanan panjang sebuah peradaban, tidak semua orang harus berjalan di jalan yang sama. Yang terpenting, semuanya bergerak menuju kemaslahatan yang sama.
Menjaga NU dengan akal sehat, hati yang teduh, keberanian yang beradab, dan kesetiaan kepada amanah para muassis.
Menurut saya, kalimat “Yang mengurus desa bukan berarti berpikiran kecil. Yang berbicara kepada dunia bukan berarti meninggalkan umat” sangat kuat dijadikan pull-quote utama. Ia merangkum sisi human interest sekaligus filosofi besar tulisan ini: desa dan dunia bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan dua medan khidmah yang harus saling menguatkan.
Wallahu A’lamu Bisshawab.



