Bondowoso, radar96.com – Rektor Universitas At-Taqwa Bondowoso, Dr. Agus Fawaid, M.Pd.I, secara terbuka mengajak mahasiswa baru untuk aktif dalam organisasi ekstra kampus. Ajakan tersebut disampaikan dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PK2MB) Universitas At-Taqwa Bondowoso pada 4–6 September 2026.
Di hadapan mahasiswa baru, Agus Fawaid menegaskan bahwa kehidupan mahasiswa tidak seharusnya hanya berputar pada ruang kelas. Menurutnya, organisasi menjadi salah satu ruang penting untuk mengasah kemampuan, membangun pengalaman, sekaligus mempersiapkan mahasiswa menghadapi kehidupan sosial setelah lulus.
Ia mendorong mahasiswa mengikuti organisasi intra maupun ekstra kampus dengan tetap menjaga keseimbangan terhadap kewajiban akademik.
“Proses ketika Anda ada di kampus ini, pertama, ikuti perkuliahan dengan baik dan benar. Yang kedua, Anda perlu di situ membangun kemampuan diri melalui bergabung dengan kegiatan-kegiatan organisasi, baik itu intra ataupun ekstra,” ujar Agus Fawaid.
Saat menjelaskan organisasi ekstra, Agus Fawaid kemudian secara terbuka menyebut Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai bagian dari proses mahasiswa di Universitas At-Taqwa Bondowoso.
“Ketika berbicara ekstra, Yayasan At-Taqwa Bondowoso beberapa kali saya mendengarkan itu dan saya menyaksikan itu, yang diridai di Universitas At-Taqwa Bondowoso, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Ini adalah bagian-bagian dari proses,” ungkapnya.
Ia bahkan mengingatkan mahasiswa baru agar tidak hanya menjadi mahasiswa yang datang ke kampus, mengikuti kuliah, lalu pulang tanpa mengembangkan kemampuan lain di luar akademik.
“Jangan Anda kemudian menjadi mahasiswa kupu-kupu, datang kampus pulang selesai. Tidak demikian. Tapi asah kemampuan Anda melalui organisasi intra ataupun ekstra,” tegasnya.
Meski mendorong mahasiswa aktif berorganisasi, Agus Fawaid mengingatkan agar kegiatan organisasi tidak mengorbankan perkuliahan. Menurutnya, mahasiswa harus mampu menempatkan pendidikan dan organisasi secara seimbang.
Bagi Agus Fawaid, proses menjadi mahasiswa juga harus dimulai dari niat. Ia meminta mahasiswa baru tidak menjadikan kuliah semata-mata sebagai jalan untuk memperoleh pekerjaan setelah lulus.
“Datang ke kampus ini bukan untuk mencari pekerjaan di masa depan. Tapi tolong datang ke kampus ini, niat yang pertama adalah niatkan untuk mengabdi, yang kedua adalah untuk menghilangkan kebodohan,” katanya.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga memiliki semangat pengabdian.
“Hari ini yang dibutuhkan di Indonesia adalah bukan hanya sekadar orang yang cerdas secara logika, tapi orang yang gemar mengabdi,” ujarnya.
Ia juga meminta mahasiswa menjaga proses selama menempuh pendidikan di Universitas At-Taqwa Bondowoso. Proses tersebut mencakup kesungguhan mengikuti perkuliahan sekaligus keberanian mengembangkan diri melalui organisasi.
Agus Fawaid juga menegaskan bahwa mahasiswa tidak perlu merasa rendah diri karena berada di Universitas At-Taqwa Bondowoso. Ia menyebut sejumlah alumni yang telah berkiprah di berbagai bidang setelah menyelesaikan pendidikan.
“Anda jangan berkecil hati karena ada di Universitas At-Taqwa Bondowoso. Tapi Anda harus bangga. Inilah kami, mahasiswa Universitas At-Taqwa Bondowoso, yang tidak hanya akan unggul dalam bidang intelektual, tapi kita juga unggul dalam bidang spiritual dan integritas,” tuturnya.
Ajakan tersebut kembali disampaikan Agus Fawaid melalui sebuah video yang beredar pada 6 September 2026. Dalam video tersebut, ia secara langsung mengajak mahasiswa baru untuk bergabung dengan PMII.
“Saya selaku Rektor Universitas At-Taqwa Bondowoso mengajak kepada seluruh mahasiswa baru Universitas At-Taqwa Bondowoso untuk bergabung bersama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Jika kalian ingin hebat, ingin sukses, ingin keren, bergabunglah bersama PMII. Insya Allah PMII akan mengantarkanmu sehebat mimpimu. Salam pergerakan,” ucapnya.
Agus Fawaid juga mengungkapkan bahwa dirinya memiliki pengalaman sebagai kader PMII. Ia mengakui pernah berproses di PMII Komisariat At-Taqwa ketika institusi tersebut masih bernama STAI At-Taqwa.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan dirinya dalam berorganisasi. Karena itu, organisasi dipandang bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan salah satu ruang pembentukan kapasitas mahasiswa.
Semangat tersebut turut ditegaskan Presiden Mahasiswa Universitas At-Taqwa Bondowoso, Fionaldo Alfindani, yang merupakan kader PMII Rayon Rabi’ah Al-Adawiyah Komisariat RBA Universitas At-Taqwa Bondowoso. Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah Angkatan I asal Kabupaten Pamekasan, Madura, tersebut menegaskan identitas Universitas At-Taqwa sebagai kampus pergerakan.
Menurut Fionaldo, mahasiswa tidak cukup hanya rajin mengikuti perkuliahan. Mahasiswa juga harus memiliki keberanian untuk melihat persoalan masyarakat dan mengambil sikap terhadap ketimpangan.
“Menjadi mahasiswa bukan hanya rajin kuliah, tapi juga berani bersuara, berani menegakkan keadilan, ikut andil dalam setiap isu kemasyarakatan, harus sakit hati ketika melihat ketimpangan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa harus siap menjadi bagian dari perjuangan masyarakat.
“Harus selalu siap sedia menyambung lidah rakyat, berpihak kepada masyarakat yang tertindas. Kampus At-Taqwa ini kampus pergerakan,” tegas Fionaldo.
Menurutnya, memasuki perguruan tinggi bukan sekadar mengejar gelar sarjana. Mahasiswa sedang memasuki proses pembentukan jati diri, intelektualitas, moral, profesionalisme, serta kepemimpinan.
Semangat pergerakan tersebut juga ditekankan agar berjalan bersama nilai kemanusiaan. Mahasiswa didorong untuk peduli terhadap lingkungan, menjunjung keadilan, serta tidak takut memiliki mimpi besar dan mengambil peran di tengah masyarakat.
Namun, Agus Fawaid mengingatkan bahwa keberanian berorganisasi harus dibarengi tanggung jawab. Mahasiswa Universitas At-Taqwa Bondowoso merupakan representasi almamater ketika berada di masyarakat maupun ruang digital.
“Anda ini adalah cerminan Universitas At-Taqwa Bondowoso di masyarakat, jaga nama baik almamater. Alma mater perlu kita jaga, bukan hanya di dunia nyata, tapi dunia maya juga perlu kita jaga,” pesannya.
Ia menilai media sosial juga memiliki konsekuensi. Karena itu, mahasiswa harus berhati-hati ketika menyampaikan sesuatu yang membawa nama Universitas At-Taqwa Bondowoso.
Rangkaian PK2MB 2026 pun menjadi momentum penting bagi mahasiswa baru untuk memahami bahwa kehidupan kampus tidak berhenti pada persoalan akademik. Ada proses panjang untuk membangun kapasitas, karakter, spiritualitas, integritas, serta kepedulian sosial.
Penegasan mengenai PMII sebagai bagian dari proses organisasi ekstra di Universitas At-Taqwa Bondowoso sekaligus memperkuat identitas kampus sebagai ruang pendidikan dan pergerakan.
Bagi mahasiswa baru, pesan yang disampaikan cukup jelas: kuliah harus serius, organisasi harus berjalan, pengabdian harus tumbuh, dan keberanian memperjuangkan nilai kemanusiaan harus tetap hidup.
Sebab, kampus pergerakan bukan hanya tempat mencetak sarjana, tetapi ruang untuk membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, berintegritas, mengabdi, dan mengambil peran dalam perubahan sosial. (*/Rif)



