By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Nama Jalan untuk Gombloh, Bagaimana Seniman Lain?
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Opini > Nama Jalan untuk Gombloh, Bagaimana Seniman Lain?
Opini

Nama Jalan untuk Gombloh, Bagaimana Seniman Lain?

07/10/2026 Opini
SHARE

Oleh Nonot S mono

Jika disetujui nama jalan Gombloh, bagaimana tokoh lainnya yang punya kontribusi di dunia musik seperti Slamet Abdul Sukur, Buby Chen dan seterusnya?

Pertanyaan kritis ini sangat valid dan sering menjadi bahan diskusi hangat dalam tata kota dan pengelolaan warisan budaya. Usulan penyematan nama Jalan Gombloh oleh komunitas Memories of Gombloh (Mogers) di Surabaya memang memicu diskusi tentang keadilan bagi maestro musik legendaris lainnya asal Kota Pahlawan, seperti  Slamet Abdul Sukur dan Buby Chen.


Jika nama Gombloh disetujui, idealnya pemerintah kota tidak berhenti di satu nama. Berikut adalah beberapa formula dan alternatif kebijakan untuk memberikan penghormatan yang setara bagi tokoh musik lainnya:

1. Pembuatan “Klaster Jalan Tokoh Seni”.
Dibandingkan menyebar nama tokoh di lokasi yang acak, pemerintah kota dapat membuat sebuah kawasan khusus atau klaster perumahan/jalan baru yang didedikasikan sepenuhnya untuk para maestro musik.

  • Jalan Abdul Sukur (pelopor musik keroncong modern/Keroncong Tanah Air).
  • Jalan Buby Chen (maestro jazz legendaris Asia).
  • Jalan Gombloh (legenda musik pop ballad dan nasionalis).
  • Jalan Leo Kristi atau Mus Mulyadi (tokoh musik Surabaya lainnya).

2. Pemanfaatan Ruang Publik Non-Jalan
Mengubah nama jalan utama sering kali terkendala masalah administratif birokrasi, karena mengharuskan ribuan warga mengubah dokumen kependudukan (KTP, KK, Sertifikat Tanah). Sebagai alternatif, nama tokoh musik lain bisa diabadikan pada fasilitas publik yang relevan:

  • Gedung Pertunjukan atau Studio: Menamai aula konser, gedung teater di kompleks Balai Pemuda, atau pusat kesenian dengan nama Auditorium Buby Chen atau Gedung Abdul Sukur.
  • Taman Tematik Musik: Membuat ruang terbuka hijau (taman kota) yang dilengkapi dengan patung, relief sejarah, atau instalasi audio interaktif yang memainkan karya-karya mereka.

3. Standarisasi dan Regulasi Resmi (Sistem Antrean)
Dewan Kesenian bersama Pemerintah Kota perlu menyusun database resmi atau Indeks Tokoh Budaya Legendaris. Dengan adanya daftar ini, setiap kali ada proyek pembangunan infrastruktur baru (seperti jalan lingkar luar baru, jembatan, atau gedung pemerintahan), nama-nama yang berkontribusi besar seperti Abdul Sukur dan Buby Chen otomatis masuk ke dalam prioritas utama tanpa harus menunggu desakan komunitas terlebih dahulu.

4. Festival dan Penghargaan Seni Tahunan
Jika ruang fisik terbatas, penghormatan dapat diwujudkan dalam bentuk ruang non-fisik yang dinamis, seperti mengabadikan nama mereka sebagai nama penghargaan atau festival tahunan (misalnya: Abdul Sukur Keroncong Festival atau Buby Chen Jazz Award untuk musisi muda berbakat).
Bagaimana, apakah pengabadian nama tokoh musik ini lebih efektif diterapkan pada nama jalan di area kelahiran mereka masing-masing, atau dipusatkan dalam satu kompleks kawasan seni khusus?
Silahkan direnungkan kembali.

*) Penulis adalah Pendidik, Pelukis dan Budayawan Jatim

Iklan.

You Might Also Like

Kader Intelektual Muslim ala Khofifah Indar Parawansa Panen Prestasi di Kampus Al Azhar Kairo Mesir

Fenomena Lilur dan Ujian Etika Komunikasi Nahdliyyin

Sekjend Dari Unsur Perempuan Sebagai Titik Temu

Adab Berbeda Pendapat Menjelang Muktamar ke-35 NU

Qanun Asasi: Khazanah Keulamaan yang menjadi Fondasi Kebangsaan

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Ansor Bondowoso Dorong Kemandirian Petani Muda Lewat Pelatihan Pupuk Organik Cair

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Ansor Bondowoso Dorong Kemandirian Petani Muda Lewat Pelatihan Pupuk Organik Cair
Nahdliyyin
IPPNU Jatim Perkuat Kolaborasi Pemberdayaan Pelajar dengan BAZNAS Jatim
Nahdliyyin
Ribuan orang ikuti “nobar” Timnas Indonesia vs Thailand di Masjid Al-Akbar Surabaya
Sospol
Kampus Harus Jadi Tempat Paling Aman dan Tepercaya bagi Mahasiswa
Sospol

You Might also Like

KolomOpini

Relevansi Qanun Asasi di Era Kini dan Masa Depan

09/08/2026
KolomOpini

NU Gorengan dan NU Garingan (Dua Wajah Saling Melengkapi dalam Rumah Spiritual NU)

02/08/2026
KolomOpini

Kepemimpinan Profetik untuk Abad Kedua NU

01/08/2026
KolomOpini

Politik Kebangsaan: Warisan Para Muassis NU

09/07/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?