Surabaya, radar96.com – Ketua Badan Pelaksana Pengelola (BPP) Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) Dr KHM Sudjak MAg menegaskan bahwa kunjungan ke China atas undangan Konsulat Jenderal (Konjen) China di Surabaya untuk melakukan “religion and cultural exchange” pada 23-29 September 2026 mengajarkan pentingnya sejarah/museum.
“Sejarah itu penting untuk generasi yang akan datang agar tahu bahwa leluhurnya berjuang sesuai zamannya yang sangat tradisional dan manual yang harus menyatu dengan perjuangan saat ini yang serba teknologi dan digital,” katanya di Surabaya, Kamis, ketika ditanya tentang pelajaran penting dari kunjungan tiga pengurus MAS ke China.

Dalam kunjungan pertukaran budaya dan tradisi keagamaan bersama Kabid Riayah BPP MAS, HM Qoderi dan Staf Administrasi BPP MAS M Tantowi itu, Sudjak menjelaskan Masjid Al-Akbar perlu memaknai pentingnya sejarah itu dengan mewujudkan ruangan museum untuk memamerkan benda bersejarah dan dokumen masjid yang penting untuk diketahui/dipelajari generasi baru.
“Tentunya, terpadunya museum dengan model manual berupa benda dengan model digital berupa dokumen digital itu akan membuat generasi mendatang tidak tercerabut dari akar sejarah generasi masa lalu, sehingga Masjid Al-Akbar akan terpelihara dari generasi ke generasi,” katanya.
Pelajaran tentang pentingnya sejarah/museum itu diperoleh Tim MAS sejak agenda hari pertama (23/9/2026) ketika mengunjungi Masjid Huaisheng di Guangzhou yang merupakan salah satu masjid tertua di Tiongkok dan dunia, yang diperkirakan telah berdiri sejak lebih dari 1.300 tahun lalu pada masa Dinasti Tang.
Pada kunjungan hari kedua (24/9/2026), Tim MAS mengunjungi Masjid Xianxian atau Masjid Para Leluhur, yang merupakan salah satu masjid terbesar dan menjadi situs bersejarah penting yang terletak di Distrik Yuexiu, Guangzhou, Provinsi Guangdong, China.
“Kompleks masjid ini lebih luas daripada Masjid Huaisheng dan berisi makam Sa’ad bin Abi Waqqas (paman dan sekaligus sahabat Nabi Muhammad SAW yang membawa misi dakwah awal Islam ke Tiongkok), meski ada yang meyakini makam Abi Waqqas ada di Baqi’ Madinah, mungkin makam di China itu masih dzurriyah/keturunan Abi Waqqas,” katanya.
Pada hari berikutnya, Tim MAS juga sempat mengunjungi Masjid Fuzhou, Museum Budaya Pelayaran Tiongkok (sejarah kapal), Museum Peringatan Lin Zexu, dan Kawasan Budaya Bersejarah (Sanfang Qixiang/Tiga Alur dan Tujuh Gang). Pihaknya juga sempat mengunjungi Taman Yuexiu, yang merupakan taman komprehensif tertua dan terbesar di Guangzhou.
“Di Fuzhou, kami sempat menghadiri pertemuan dengan pimpinan Asosiasi Islam di Fuzhou yang bertempat di Masjid Kota Fujian, lalu bertemu dengan pimpinan Kantor Urusan Luar Negeri Provinsi (Pemprov Fujian). Kami juga sempat menghadiri resepsi hari kemerdekaan 77 RRT/Tiongkok di Provinsi Fujian (28/9/2026),” katanya.
Selain sejarah/museum, pelajaran penting lainnya dari kunjungan Tim MAS ke China adalah pentingnya budaya/tradisi dan lingkungan/kebersihan. “Pemerintah dan masyarakat sangat peduli dengan kebersihan dan keindahan, sehingga mereka tidak membuang sampah makanan di sembarang tempat,” katanya.
Ia menambahkan budaya yang tetap dipelihara adalah budaya minum teh, karena budaya teh dianggap menyehatkan, baik teh hijau maupun hitam, termasuk wisata perkebunan/ gunung teh. “Untuk pemeliharaan lingkungan ada wisata perahu bambu di Sungai Jiuqu, Nanping, yang airnya bersih, tebingnya besar, ikannya kelihatan dan dilarang ambil,” katanya. (*/mas)



