By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Lesbumi NU Jatim adakan Simposium Sastra Pesantren di Tebuireng-Jombang
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Nahdliyyin > Lesbumi NU Jatim adakan Simposium Sastra Pesantren di Tebuireng-Jombang
Nahdliyyin

Lesbumi NU Jatim adakan Simposium Sastra Pesantren di Tebuireng-Jombang

01/12/2022 Nahdliyyin
SHARE

Surabaya, Radar96.com – Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) NU Jawa Timur akan mengadakan “Simposium Sastra Pesantren” bertajuk “Merumuskan ulang sastra pesantren dalam konteks kekinian” di Pesantren Tebuireng, Jombang,Jatim pada 2-4 Desember 2022.

Ketua Lesbumi NU Jawa Timur Nonot Sukrasmono yang sering dipanggil Ki Nonot menjelaskan bahwa diskursus sastra pesantren tersebut penting di kalangan sastrawan dan pemerhati sastra di Indonesia.

Dalam dunia akademik, istilah sastra pesantren masyhur dalam tradisi sastra lama, baik itu dalam dunia filologi atau naskah kuno maupun dalam tradisi lisan. Bahkan, dalam tradisi naskah kuno terdapat beberapa terma yang mengarah pada kekhususasn sastra yang berbasis di pesantren, seperti genre santri kelana, santri lelana dan sebagainya.

Bahkan dengan tegas purbacaraka menandaskan sebuah genre dalam tradisi pernaskahan di Nusantara bernama sastra pesantren. Namun, dalam jagat sastra modern, belum dirumuskan sastra pesantren yang dapat dijadikan pijakan dalam memahami keberadaan sastra yang berkembang dan berbasis di pesantren.

Simposium ini dilaksanakan karena beberapa pertimbangan yaitu; Pesantren sangat dekat dengan sastra, sastra Pesantren belum terumuskan dengan jelas dalam bingkai filsafat ilmu, baik dari segi ontology, epistemologi, aksiologi, dan lainnya.

Dibutuhkan batasan yang jelas terkait dengan sastra pesantren baik dari sisi kesuastraannya yang mencakup aspek objektif, ekspresif, mimesis dan pembaca, juga dari sisi religio-kulturalnya dalam diskursus sastra modern.

“Terdapat beberapa pokok pikiran yang melandasi dipilihnya tema tersebut sehingga diadakan kegiatan simposium, diantaranya: sastra pesantren di Indonesia potensial untuk berkembang dan mewarnai pentas sastra nasional, maraknya kegiatan sastra di berbagai pesantren perlu diimbangi dengan pergulatan diskursus sehingga karya-karya yang dihasilkan lebih berbobot dan khas, diperlukan rumusan tentang capaian sastra pesantren berbagai ahli dan kalangan”.

Simposium itu dikomandani wakil ketua bidang sastra, Mashuri atau cak Huri. Cak Huri menyampaikan, “simposium ini salahsatunya adalah untuk mengukur kesinambungan generasi dalam kehidupan sastra di pesantren sehingga muncul bibit-bibit sastrawan baru dan karya-karya yang dapat berbicara di level yang lebih luas”.

Cak Huri juga menambahkan bahwa hasil dan tujuan diadakannya simposium ini adalah untuk merumuskan ulang gagasan sastra pesantren yang pernah ada dalam tradisi lama. Mengungkap perubahan-perubahan dalam sastra pesantren sesuai dengan semangat zaman, menyemarakkan wacana sastra di kalangan masyarakat, dan mendorong terciptanya iklim kreatif yang dinamis dan inovatif, serta menciptakan ruang baru bagi para sastrawan, pemerhati dan masyarakat untuk meningkatkan intelektualitas sastra.

Panitia penyelenggara menjelaskan acara ini akan diikuti oleh sekitar 50 peserta yang ahli dan khusus menekuni kesusastraan di Pondok Pesantren se-Jawa. Ada 12 pemateri yang handal dan kompeten akan ikut serta menyampaikan banyak pemikiran dan kajian di acara ini, dari berbagai profesi dan perguruan tinggi.

Nama-nama pemateri; yaitu Prof. Dr. Faruk Tripoli, S.U. (Universitas Gadjah Mada), Prof. Dr. Djoko Saryono (Universitas Negeri Malang), Bramantio. M.Hum (Universitas Airlangga), Muhammad Nizam As-Shofa (Sastrawan/PP. Ahlus Shofa Wal Wafa), Acep Zamzam Noor (Penyair/Lesbumi PBNU), dan Dr. M. Adib Misbachul Islam M.Hum (UIN Jakarta).

Selanjutnya; Prof. Dr. Oman Fathurrahman, M.Hum (UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamidiyah, Depok), Prof. Dr. Mujahirin Thohir (Universitas Diponegoro), Dr. Aguk Irawan, M.N. (UNU Yogyakarta), KH. Lukman Hakim (Pengasuh Ponpes Ma’had Aly Raudhatul Muhibbin/Alumni Ponpes Tebuireng), Dr. M. Faishal Aminuddin (Universitas Brawijaya), dan Nor Ismah, Ph.D. (Komunitas Sastra Pesantren Mata Pena). (*/pna)

Iklan.

You Might Also Like

Perkuat Hubungan Antar-Pesantren, Gus Kikin Silaturahim ke Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo

Selama Muktamar 35 NU, MWCNU Mulyorejo-Surabaya Buka Posko Kesehatan Gratis di Tambakberas

PWNU Sumbar Apresiasi Gus Kikin soal Revitalisasi Qanun Asasi dan Program Pendidikan-Ekonomi

Jelang Muktamar NU di Tambakberas, Mbah Wahab Dianugerahi Gelar Bapak ISHARI

Dzurriyah Hasan Gipo: Muktamar Tambakberas Simbol Ajakan Pulang ke Muassis

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Ketahanan Ekonomi Indonesia Jadi Daya Tarik Bagi Investor
Next Article Jatim gerakkan “Anti Korupsi” dengan pengamanan aset daerah senilai Rp1,2 triliun

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Dari Nasi hingga Apel Hijau, Menu MBG SPPG Grujugan Kidul 01 Bondowoso
Sospol
Menegakkan Panji NU di Muktamar ke-35: Belajar dari Hajar Aswad Memasuki Abad Kedua NU
Kolom
‘Haramkah’ NU Berpolitik?
Kolom
Perkuat Hubungan Antar-Pesantren, Gus Kikin Silaturahim ke Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo
Nahdliyyin

You Might also Like

Nahdliyyin

Dari Pesantren ke Guru Besar, Prof Hamdanah Utsman Dorong Wajah Baru Pendidikan Islam di Era Digital

17/08/2026
Nahdliyyin

Gus Ipang: Kiai Imjaz Tokoh Transformatif Pesantren dan Pemimpin Masa Depan NU

17/08/2026
Nahdliyyin

Di Makassar, Gus Kikin Serukan Pentingnya Qanun Asasi untuk NU

15/08/2026
Nahdliyyin

LPTNU Jatim Rumuskan Enam Rekomendasi untuk Muktamar ke-35 NU

14/08/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?