Magelang, Radar96.com – Jejaring bisnis digital “Nusa Mart” bersama Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Subanul Wathon Magelang melakukan sosialisasi bisnis digital yang diikuti sekitar 100-an mahasiswa, para dosesn, dan segenap pimpinan kampus “santripreneur” di kampus itu, Sabtu (10/12/2022), untuk melakukan kolaborasi bergerak ke warung-warung di Jateng.
Peserta serta seminar bisnis Nusa Mart tampak antusias guna melakukan upaya link and mact antara dunia usaha dan dunia kampus ini. “Acara ini untuk mendidik mahasiswa bisa praktek dan mengalami langsung kerja-kerja industry online,” kata wakil rektor bidang kerja sama dan umum, Dr Muhammad Musthofa dalam sambutan pembukaan seminar tersebut.
Dalam kolaborasi itu, para mahasiswa akan belajar dan sekaligus mempraktekkan bisnis online dengan menjadi seller-seller di Nusa Mart, belajar tentang marketing digital, suplai change, distribusi produk hingga presentasi-presentasi pemasaran untuk bernegosiasi dan meyakinkan para pelanggan-pelanggannya.
“Itu semua tidak diajarkan di kelas-kelas perkuliahan yang hanya cenderung literal dan teks book, namun semuanya itu hanya bisa didapat lewat pengalaman langsung yang akan dibimbing oleh para profesional dari Nusa Mart,” katanya sambil mewanti-wanti mahasiswanya agar mengikuti acara seminar bisnis ini sampai selesai dan bahkan ‘mengharuskan’ semua yang hadir bisa terlibat dalam tindaklanjut yang akan didampingi oleh mentor-mentor dan praktisi bisnis dari Nusa Mart.
Nusa Mart bersepakat akan berkolaborasi dengan STAI Subbanul Wathon Magelang membentuk tim founder yang terdiri dari 50 mahasiswa. Mereka akan dilatih secara khusus untuk melakukan pemberdayaan ekonomi umat berupa upaya bersama mengedukasi para pelaku bisnis UMKM di Magelang, Jawa Tengah dalam melakukan transformasi bisnis dari bisnis manual ke bisnis digital.
Peserta yang lulus dari pelatihan khusus tersebut nantinya akan melakukan kontrak kerja dengan manajemen Nusa Mart dan akan diberi insentif gaji bulanan sesuai dengan kinerjanya. Banyak warung sembako, toko barang-barang kebutuhan sehari-hari, dan berbagai bisnis UMKM lainnya yang selama ini berjualan secara offline, maka kedepannya semuanya secara gradual akan diedukai oleh para tim founder Nusa Mart yang bekerja sama dengan kampus Santripreneur STAI milik Yayasan Subanul Wathon Magelang, agar berjualan secara online.
“Proses migrasi dan transformasi inilah yang akan melibatkan kampus ini untuk mengedukasi publik agar pelaku bisnis di masyarakat, selain berjualan secara offline, namun di saat bersamaan kedepannya harus berjalan secara online,” kata A.Khoerussalim Ikhs, founder dan inisiator bisnis Nusa Mart, saat memaparkan presentasinya di hadapan peserta seminar yang sangat antusias itu.
Tujuan edukasi ke para pelaku bisnis UMKM tersebut agar mereka berubah cara bisnisnya dari manual ke digital. Mereka akan diedukasi untuk berbisnis menggunakan market place Nusa Mart sehingga bisnis mereka bisa naik kelas karena akses pasarnya yang kian luas dan tidak lagi terbatas oleh teritori atas wilayah pemasaran yang sempit. Walau bisnis mereka ada di desa dan di kampung-kampung namun dengan market place ini mereka bisa mengakses pasar ke seluruh nusantara dan bahkan dunia internasional.
Diharapkan, ke depan, bisnis mereka berkembang karena pelanggannya bisa dari mana saja dan dari kalangan apa saja. Pemasaran bisnis mereka kian bisa menjangkau pasar yang lebih luas ke seluruh pelosok negeri sehingga pelangggan mereka pun kian terus bertambah banyak.
Pemahaman literasi digital untuk bisnis ini akan diajarkan ke masyarakat agar mereka tidak ketinggalan zaman walau mereka bisnisnya ada di desa-desa. Masyarakat kita yang belum familier dengan bisnis digital kelak pelan tapi pasti harus terus diedukasi agar pemahaman dan cara-cara bisnis mereka juga mengikuti perkembangan zaman. Karena jika mereka tidak diedukasi maka akan tertinggal oleh perkembangan zaman yang kian pesat.
Bisnis menggunakan teknologi digital ke depan tidak bisa tidak harus dilakukan oleh para pelaku bisnis, karena kalau tidak menggunakan cara-cara bisnis kekinian tersebut maka bisnis akan punah tertinggal oleh pesatnya perkembangan teknologi.
“Suka tidak suka, masyarakat bisnis kita harus mau belajar dan harus terus diajarkan agar wawasan bisnis mereka juga tidak stagnan, ide-ide bisnis mereka harus berkembang luas dengan cara pandang bisnisnya yang mutakhir, sehingga pada akhirnya akan menuntut bisnis-bisnis kita yang lebih kreatif dengen teknologi digital. Bisnis kita akan bangkrut dan perlahan punah kalau kita tidak mau belajar dan berubah menggunakan cara-cara bisnis yang kekinian. Maka itu wawasan bisnis para pelaku bisnis UMKM kita yang di desa-desa sekalipun harus terus diedukasi dan diberi wawasan-wawasan baru,” katanya.
Di STIA Subanul Wathon Magelang ini merupakan kota terakhir yang dikunjungi Nusa Mart dalam perjalanan seri roadshow kali ini, sekaligus menutup perjalanan roadshow bisnis di akhir tahun 2022. Satu bulan terakhir ini tim Nusa Mart sudah roadshow seminar sosialisasi di Kab.Lampung Tengah, Kab. Tanggamus, Kota Malang, Kab. Ngawi, Kab. Mojokerto, Kab. Tuban, Kota Blitar, Kab. Jombang, Kab. Nganjuk, Kab Lamongan dan Yogyakarta. (*/nusamart)



