By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Gus Muwafiq: Indonesia adalah negara paling Sunnah
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Nahdliyyin > Gus Muwafiq: Indonesia adalah negara paling Sunnah
Nahdliyyin

Gus Muwafiq: Indonesia adalah negara paling Sunnah

05/08/2023 Nahdliyyin
Ulama muda NU yang tinggal di Sleman, Yogyakarta, KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq), saat berbicara dalam 'Ngaji Kebangsaan/Peradaban' di Ruang Utama Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS), Sabtu (5/8/2023). (*/mas)
SHARE

Surabaya, Radar96.com – Ulama muda NU yang tinggal di Sleman, Yogyakarta, KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq), menyatakan Indonesia adalah negara paling Sunnah atau mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW, namun ajaran nabi itu diturunkan dalam sistem budaya hingga menjadi kebiasaan/keseharian masyarakat.

“Anak sekarang nggak belajar sejarah dan budaya, maka mereka membawa Ikhwanul Muslimin ala Mesir atau HTI ala Timur Tengah ke Indonesia, tapi gagal karena apa yang dibawa itu sebenarnya merupakan produk gagal di negara asalnya,” katanya dalam ‘Ngaji Kebangsaan/Peradaban’ di Ruang Utama Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS), Sabtu (5/8/2023).

Dalam acara yang diadakan Praktisi Hukum Muslim Indonesia (PHMI) dan Masjid Nasional Al Akbar Surabaya untuk Memperingati Tahun Baru Islam 1445 H Dan Mensyukuri 78 Tahun Indonesia Merdeka itu, Gus Muwafiq menjelaskan HTI dan Ikhwanul Muslimin itu hanya membawa kalimat Tauhid “Lailaha illallah” dalam bentuk bendera.

“Anak-anak yang mau menduplikasi Ikhwanul Muslimin dan HTI ke Indonesia itu merasa paling sunnah atau paling benar, padahal di negara asalnya justru gagal, tapi kok dibawa kesini? Faktanya, gagal juga, karena kalimat Tauhid di Indonesia bukan hanya bendera, tapi sudah menjadi dzikir dalam budaya Tahlilan,” katanya.

Dalam pengajian yang dihadiri pendiri PHMI Edy Torana SH MH, Kepala Badan Pengelola dan Pelaksana MAS DR KH Ahmad Sudjak, dan ribuan jamaah itu, Gus Muwafiq menyampaikan beberapa contoh ajaran Islam yang masuk menjadi sistem budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia.

“Ulama itu mestinya disebut syaikh/syaikhun atau ustadz, tapi di sini disebut kiai, padahal kiai di sini itu juga nama kerbau yakni kiai slamet. Ada juga nama senjata tombak, yakni kiai pleret, jadi grade nama kiai menjadi turun. Ada juga mushalla menjadi langgar, atau shalat menjadi semabhyang,” katanya.

Menurut mantan asisten pribadi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat menjadi Presiden itu, konsep menurunkan ajaran agama ke dalam sistem budaya itu merupakan inisiatif Raden Rahmat atau Sunan Ampel yang bertujuan menjadikan agama sebagai bagian dari proses apapun di masyarakat.

“Inisiatif Mbah Sunan Ampel itu dimaksudkan agar orang Islam bisa bertemu dengan orang Hindu, Budha, Kristen, dalam kehidupan bermasyarakat dalam Kerajaan Majapahit yang sama. Inisiatif ini kemudian dikembangkan santri-santri Sunan Ampel ke seluruh Nusantara,” katanya.

Misalnya, di Sulawesi oleh Datuk Ribadang, di Jateng oleh Kerajaan Demak atau Raden Patah, di Kalimantan oleh Kerajaan Banjar, di Sumatera atau Palembang oleh Aryo Damar. “Dengan memasukkan ajaran agama menjadi budaya, maka masyarakat menjadi santun, tidak mudah membid’ahkan, mengkafirkan, menyalahkan pihak lain, agama menjadi santun,” katanya.

Hasilnya, apa yang dilakukan Sunan Ampel dan para Wali di Nusantara justru menjadikan Islam berkembang subur. “Ajaran yang santun itu juga menjadi bibit cinta kepada Tanah Air, sehingga Islam di Indonesia kini justru tumbuh menjadi Islam terbesar di dunia. Buktinya, jamaah haji kita terbesar dan antre-nya puluhan tahun,” katanya.

Gus Muwafiq menambahkan apa yang terjadi di Indonesia dengan memasukkan Islam ke dalam budaya itu membuat “Islam Hidup Bersama Masyarakat” atau agama menjadi bagian dari kehidupan, yang dikenal dengan prinsip Roiyah (kerakyatan yang ber-Bhinneka Tunggal Ika).

“Hal itu akan berbeda kalau Islam masuk ke Indonesia bukan lewat para wali, tapi melalui pedagang, panglima perang/tentara, dan sebagainya. Kalau Islam masuk lewat wali/agamawan, maka menjadi indah, padahal masyarakat majemuk atau plural itu dimana-mana mudah sekali untuk pecah,” katanya. (*/mas)

Iklan.

You Might Also Like

Kritik Kapitalisme Global, ISNU Ingatkan Pentingnya Kemandirian Ekonomi Internasional

PBNU Segera Tetapkan Tuan Rumah Muktamar ke-35 dalam Munas-Konbes

Semarakkan Munas-Konbes NU, ISNU Jawa Timur Gelar Halaqoh Nasional di UIT

NBI Usulkan Duet Kiai Alim dan Intelektual Muda Pimpin PBNU 2026-2031 

PWNU Jatim Siap Sukseskan Munas-Konbes NU di Ploso, Kediri

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Gubernur Khofifah Raih Predikat Pemimpin Berdampak di Media Digital
Next Article DPN Perkasa: Penyedia dan Pengguna Jasa Konstruksi tidak gunakan Tenaga Kerja Konstruksi (Tukang) berSertifikat bisa terancam pidana korupsi

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Kepada GenZI Masjid Al-Akbar Surabaya, Ustadz Syam: Ikhlas Karena Cinta Itu Dimulai dari Menjaga Hati
Milenial
Kritik Kapitalisme Global, ISNU Ingatkan Pentingnya Kemandirian Ekonomi Internasional
Nahdliyyin
334 Lulusan MI At-Taqwa Bondowoso Raih Prestasi TKA di Atas Nasional dan Jatim
Milenial
PBNU Segera Tetapkan Tuan Rumah Muktamar ke-35 dalam Munas-Konbes
Nahdliyyin

You Might also Like

Nahdliyyin

Menjelang Muktamar, Forum Aktivis NU Jatim Serukan Ulama Kembali Menjadi Penunjuk Arah Organisasi

15/06/2026
Nahdliyyin

Relawan 33 LPBI PCNU se-Jatim dilatih SIG Pemetaan Bencana

14/06/2026
Nahdliyyin

Lesbumi PBNU Adakan Muktamar Kebudayaan Indonesia di UNWAHA Jombang, 12-14 Juni 2026

12/06/2026
Nahdliyyin

Mendesak, Literasi Digital Warga NU

11/06/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?