By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Lesbumi PBNU Adakan Muktamar Kebudayaan Indonesia di UNWAHA Jombang, 12-14 Juni 2026
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Nahdliyyin > Lesbumi PBNU Adakan Muktamar Kebudayaan Indonesia di UNWAHA Jombang, 12-14 Juni 2026
Nahdliyyin

Lesbumi PBNU Adakan Muktamar Kebudayaan Indonesia di UNWAHA Jombang, 12-14 Juni 2026

12/06/2026 Nahdliyyin
SHARE

Surabaya, radar96.com –
Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU mengadakan Muktamar Kebudayaan Indonesia di Universitas Wahab Hasbullah (UNWAHA) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur pada 12-14 Juni 2026.

“Sejauh ini, politik mendominasi kehidupan masyarakat kita. Politik praktis telah menjebak generasi muda bersikap dan berpikir pragmatis, jauh dari pemikiran ideal untuk perbaikan-perbaikan dan kemajuan bangsa. LESBUMI NU mencoba untuk merebut kembali kebudayaan sebagai panglima. Bukan politik sebagai panglima atau ekonomi sebagai panglima, seperti masa Orde Baru,” kata Ketua LESBUMI PWNU Jawa Timur, Riadi Ngasiran, dalam keterangan di Surabaya, Jumat (12/6).

Oleh karena itu, penyelenggaraan acara yang dihadiri seluruh aktivis LESBUMI NU, mulai cabang, wilayah hingga pusat itu akan menjadi momentum penting dalam menggeser posisi politik sebagai panglima sejak reformasi, menjadi kebudayaan sebagai panglima untuk memperbaiki arah bangsa di tengah krisis moral serta krisis multidimensional.

“Terbukti, makin merajalelanya kasus korupsi dan perilaku tak mengindahkan adab menjangkiti kehidupan kita,” tutur Riadi, yang pengamat kebudayaan yang juga penulis buku-buku Sejarah Pergerakan dan Sejarah NU itu.

“Makna kembali ke akar menjadi penting karena ada fenomena sosial, terutama generasi muda yang tercerabut dari akar-akar dan nilai budaya bangsanya. Alangkah eloknya kita mempertimbangkan kearifan yang dibangun para leluhur,” katanya.

Menurut Riadi, Islam tak terpisah dari Kejawaan, Islam erat dan identik dengan Kemelayuan, dan erat denga tradisi-tradisi masyarakat kita, seperti Sunda, Bugis Makassar, Banjar, dan lainnya.

“Memperbaiki nasib bangsa demi kemajuan, dengan mudah dilakukan, karena kita kaya akan khazanah tradisi budaya di masyarakat,” kata penulis esai Patung-patung Impian, Mitos Kebudayaan.

Ada momentum penting yang sebelumnya digelar LESBUMI NU kerja sama Lembaga Ta’lif wa-Nasyr PWNU Jatim dan TV9, yakni Muktamar Sastra Indonesia di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo Situbondo pada 2018. Ketika itu, tampil KH Ahmad Mustofa Bisri, KH D Zawawi Imron, KHR Achmad Azaim Ibrahimy, H Lukman Hakim Saifuddin (saat itu Menteri Agama).

“Ketika itu, menjadi forum terbuka bagi para seniman dan sastrawan dari pelbagai daerah, dan lintas etnis, lintas iman. Semoga Muktamar Kebudayaan Indonesia ini, menjadi forum bagi berkecambahnya pemikiran-pemikiran genial dan orisinal dan jernih untuk kemajuan bangsa dan negara kita,” kata Riadi Ngasiran.

Menurut rencana, Muktamar Kebudayaan Indonesia tersebut dibuka Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, dan menghadirkan sejumlah pembicara dari pelbagai kalangan: intelektual, agamawan, seniman dan bahkan politikus.

100 Tahun Asrul Sani

Sementara itu, Ketua Lesbumi PBNU KH Muhammad Jadul Maula menjelaskan, Muktamar Kebudayaan Indonesia menjadi momentum menjadi untuk menggali kembali akar pemikiran kebudayaan Asrul Sani.​

“Bukan semata-mata figurnya ya, tapi sebetulnya kita ingin, ingin coba menggali lagi pemikiran kebudayaan beliau, yang sampai sekarang sebetulnya masih relevan,” ungkapnya, pada kesempatan terpisah.

Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak, Bantul, Yogyakarta, tersebut lantas menyampaikan bahwa Asrul Sani pernah merumuskan perihal pengertian kebudayaan dalam NU.

“Dia mengatakan bahwa kebudayaan itu keseluruhan yang menjadi jalan, sarana untuk mendidik manusia, yang pilarnya itu ada tiga: agama, ilmu pengetahuan, dan seni,” terangnya.

Kiai Jadul lantas menegaskan bahwa tiga pilar penting tersebut harus berjalan bersama. Sebab menurutnya, dari garis tersebut sudut pandang kebudayaan NU dapat dilihat.​

“Ini ketiganya harus berjalan bersama, selaras, seimbang, tidak saling meniadakan, tidak saling menafikan, ya,” ujarnya.

Pada Rabu (10/6/2026), dunia kebudayaan Indonesia memperingati satu abad lahirnya salah satu pemikir kebudayaan terpenting sekaligus tokoh muassis (pendiri) Lesbumi, yaitu Asrul Sani.​

“Nah, ini momentum Muktamar 2026 ini juga persis, karena kan 100 tahunnya Asrul Sani itu kan 10 Juni 2026,” ujar Kiai Jadul.

Kiai Jadul mengatakan, Asrul Sani merupakan tokoh pemikir kebudayaan terpenting mungkin dalam sejarah Indonesia yang dimiliki NU dan warga Indonesia.

Panitia lokal, Ki Wasis, menyebut muktamar 3 hari ini dirancang terbuka. Tujuannya mempertemukan tokoh, ulama, seniman, budayawan, akademisi, hingga pelaku ekonomi kreatif.

“Di tengah kondisi ekonomi yang sumpek, muktamar ini diharapkan menyegarkan lewat gagasan seni-budaya yang mengakar tradisi tapi punya nilai ekonomi kreatif,” kata Ki Wasis.

Acaranya bukan sekadar seminar. Ada pameran pusaka, karya seni, kaligrafi, pertunjukan ludruk, tari topeng, macapatan, kerajinan, hingga orasi kebudayaan. Semua untuk menunjukkan bahwa seni-budaya Islam Nusantara yang ramah, yang maslahat, global, dan membumi.

“LESBUMI sejak awal kemerdekaan hingga kini membuktikan peran besarnya. Kini saatnya ruh tradisi itu dikuatkan lagi agar Indonesia jadi mercusuar peradaban dunia,” tambah Kiai Jadul Maula.

LESBUMI berharap Muktamar Kebudayaan ini melahirkan rumusan genius. Rumusan itu kemudian bisa jadi pegangan umat Islam untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar lewat seni-budaya, menjaga etika, moral, dan akhlak mulia.

Muktamar Kebudayaan Indonesia 2026 bukan sekadar seremoni. Ini ikhtiar NU memastikan, jelang Indonesia Emas, seni dan budaya tetap jadi benteng jati diri bangsa yang majemuk dan beradab.

“Semoga rekomendasi yang lahir dari Muktamar Kebudayaan Indonesia di Jombang benar-benar membawa NU “kembali ke akar” khidmah untuk umat. Merawat jagad dan peradaban dunia,” kata Kiai Jadul Maula. (*/lesbumi-rdng)

TEKS FOTO:

Riadi Ngasiran (Ketua Lesbumi PWNU Jatim) bersama KH Muhammad Jadul Maula (Ketua Lesbumi PBNU).

Iklan.

You Might Also Like

Mendesak, Literasi Digital Warga NU

Ratusan Mahasiswa-Santri PWNU-PTN-PTNU dari Surabaya Ikuti “Daurah Aswaja 2026”

MDS Rijalul Ansor dan Pesantren Al Yasmin Lestarikan Ngaji Kitab Kuning ala Anak Muda

41 Mahasiswa Prodi Sejarah UIN KHAS Jember Kunjungi PWNU Jatim

OPOP Jatim Hadiri Silaturahmi dan Temu NU Sedunia, Dorong Penguatan Ekonomi Warga Nahdliyin

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab Kupas Empat Level Manusia (Muslim, Mukmin, Arif, Ulul Albab)

Advertisement


Iklan.

Berita Terbaru

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab Kupas Empat Level Manusia (Muslim, Mukmin, Arif, Ulul Albab)
Sospol
Mendesak, Literasi Digital Warga NU
Nahdliyyin
Pengelola Masjid Islamic Center Pemprov Kaltim Lakukan “Studi Banding” ke Masjid Al-Akbar
Sospol
Dalam Research Week, Dosen FISIP UNAIR Ingatkan Bahaya Kekuasaan Algoritma
Sospol

You Might also Like

Nahdliyyin

PBNU “Roadshow” 4 Provinsi, Gaungkan Gerakan Nasional “Pesantren Ramah Anak”

01/06/2026
Nahdliyyin

Luncurkan GISNU, LAZISNU PCNU Sidoarjo Targetkan Manfaat Lebih Luas dan Merata

01/06/2026
Nahdliyyin

603 Siswa Ikuti Seleksi Beasiswa PWNU Jatim bersama 17 PTN/PTS/PTNU

31/05/2026
Nahdliyyin

PWNU Jatim Distribusikan 1.439 Paket Daging Kurban

28/05/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?