By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Kesehatan adalah Angka Pengali: Pentingnya Moralitas dalam Pendidikan
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Kesehatan adalah Angka Pengali: Pentingnya Moralitas dalam Pendidikan
Kolom

Kesehatan adalah Angka Pengali: Pentingnya Moralitas dalam Pendidikan

27/08/2023 Kolom
Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag. / Ahmad Inung. (foto: iainkerinci.ac.id)
SHARE

Oleh Ahmad Inung *)

“Pendidikan itu bukan hanya tentang prestasi akademik.”

Bagi para guru atau orang-orang yang bergerak di bidang pendidikan, statemen tersebut tentu bukan barang baru. Dijamin mereka telah hapal di luar kepala. Bahkan saat tidur pun mereka bisa menggumamkannya.

Sayangnya, masalahnya bukan terletak pada seberapa nglonthok hapalan kita. Tapi, seberapa serius kita menurunkannya menjadi kebijakan dan program. Seberapa sungguh-sungguh kita membangun dunia pendidikan dengan kesadaran bahwa prestasi akademik bukanlah the ultimate goal.

Jika kita amati, pendidikan kita saat ini semakin terasa menempatkan prestasi akademik sebagai satu-satunya prestasi yang layak dibanggakan. Mari kita lihat pemujaan prestasi akademik mulai TK hingga perguruan tinggi. Seluruh gegap gempita selebrasi akademik adalah untuk merayakan capaian atau nilai akademik.

Saat duduk di bangku pertama sekolah dasar, tema dan standar perayaan akademik adalah kecakapan calistung. Di setiap awal tahun akademik, sekolah-sekolah mulai SD hingga SLTA memasang baliho besar-besar di depan sekolah yang bertuliskan nama-nama siswanya yang diterima di sekolah menengah pertama/atas/perguruan tinggi unggulan. Pamer baliho seperti ini sekarang seakan telah menjadi kewajiban. Tidak hanya di depan sekolah, bahkan di sudut-sudut jalan, persis baliho caleg atau parpol.

Sebegitu mainstream-nya hingga kita melupakan bahwa ada sisi lain dari diri peserta didik, siswa atau mahasiswa, yang juga perlu diperhatikan. Apa itu? Jawabnya adalah kesehatan.

Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) sekalgus Mensesneg, Pratikno, menegaskan bahwa kesehatan adalah angka pengali. Hal ini disampaikan di depan seluruh pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) dalam acara Rapat Koordinasi Pimpinan PTKN yang sengaja dikemas secara kasual dan “nyantai” (24/8/2023).
Menurutnya, seseorang boleh memiliki IPK 4, tapi jika nilai kesehatannya 0, maka 4 x 0 sama dengan 0. Namun, jika seseorang memiliki nilai akademik 2, tapi nilai kesehatannya 4, dia mendapatkan nilai 8 (2 × 4 = 8). Tetap lebih baik dari orang pertama. Tentu saja yang ideal adalah nilai akademik 4 dan kesehatan 4 sehingga nilai totalnya adalah 16.

Untuk lebih memahami kesehatan sebagai angka pengali, mari kita membayangkan seorang mahasiswa yang IPK-nya sempurna, tapi dia mengidap kanker ganas atau pecandu narkoba. Lalu, untuk apa kesempurnaan IPK-nya? Apa yang bisa dimanfaatkan masyarakat dari seorang sarjana ber-IPK 4 tapi pecandu narkoba? Nilai akademik sesempurna apapun tanpa didukung oleh tubuh yang memungkinkannya untuk memanfaatkan ilmunya hanya akan berakhir sia-sia.

Kesehatan di sini tentu saja tidak hanya kesehatan jasmani, tapi juga ruhani. Di sini aspek moral menjadi sangat penting dalam dunia pendidikan. Moralitas juga adalah angka pengali bagi prestasi akademik. Sehebat apapun seseorang dalam prestasi akademik, jika moralitasnya kosong (0), maka hasil akhirnya adalah nol.

Pada sebuah kesempatan, Menteri Agama, Gus Yaqut Cholil Qoumas, berkata dengan nada sedikit ironi, jika disuruh memilih antara mahasiswa pintar tapi tidak bermoral dengan mahasiswa bodoh tapi bermoral, dia akan memilih yang kedua. Tentu saja, beliau lebih memilih mahasiswa cerdas sekaligus bermoral. Yang terakhir ini tidak perlu dijelaskan lagi.

Alasan yang diberikan adalah karena jika mahasiswa itu bodoh tapi bermoral, dia tidak akan merusak orang lain. Moralitasnya akan menjaganya dari kemungkinan untuk melakukan tindakan-tindakan jahat. Sementara, kebodohannya akan menutupnya dari kemungkinan melakukan kejahatan yang canggih. Kalau pertahanan moralnya jebol, paling banter dia akan menjadi pencuri kelas teri yang mudah ditangkap.

Namun, jika seorang mahasiswa itu cerdas tapi tidak bermoral, daya rusaknya akan sangat dahsyat. Dia tidak memiliki pertahanan moral sehingga dia mudah melakukan tindakan-tindakan jahat. Kecerdasannya memungkinkannya mendapatkan kedudukan penting di masa depan, yang kewenangannya menyangkut kehidupan orang banyak. Jika orang bodoh yang jahat mungkin hanya akan menjadi pencuri kelas teri, orang cerdas tak bermoral akan menjadi koruptor kelas kakap. Kejahatannya memiliki daya rusak yang jauh melebihi orang bodoh yang tak bermoral.

Lalu, mari kita beralih pada isu radikalisme di kalangan siswa dan mahasiswa. Orang yang memiliki cara pandang, sikap, dan perilaku ekstrem pada dasarnya juga memiliki kesehatan ruhani nol, atau bahkan minus. Jika kita membiarkan ideologi radikalisme atau ekstremisme ini memasuki kepala dan hati para mahasiswa kita, seberhasil apapun kita dalam mentransfer pengetahuan ke mahasiswa hingga mereka mendapatkan IPK terbaik, kita sebetulnya tengah mempersiapkan malapetaka di masa depan.

Pengetahuan di tangan orang-orang bermoral akan melahirkan tindakan-tindakan mulia menyelamatkan kehidupan. Tapi, ilmu pengetahuan di tangan orang-orang ekstrem akan melahirkan pembodohan dan pembohongan yang disofistikasi, pencanggihan kebencian, permusuhan, penyebaran hoaks, konflik, bahkan pembunuhan massal.

Begitulah arti penting kesehatan dalam pendidikan. Sehebat apapun prestasi akademik, kebermanfaatannya bagi kemanusiaan mempersyaratkan kesehatan si pemilik pengetahuan. Bahkan, kesehatan bisa menjadi faktor yang sangat menentukan. Orang yang kesehatan ruhaninya minus (tak bermoral) tapi cerdas bisa lebih berbahaya dari orang bodoh sekalipun sama-sama tak bermoral. Orang bodoh yang bermoral lebih baik daripada orang pintar yang tak bermoral. Pada akhirnya, yang kita impikan adalah siswa atau mahasiswa dengan prestasi akademik membanggakan sekaligus kesehatan jasmani prima dan ruhani yang mulia. (*)

*) Penulis adalah Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag. *) Beliau adalah Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI.

Sumber:
https://arina.id/perspektif/ar-nusOk/kesehatan-adalah-angka-pengali–pentingnya-moralitas-dalam-pendidikan

Iklan.

You Might Also Like

NU DALAM AKAR TEOLOGI DAN JANGKAR IDEOLOGI QONUN ASASI

OTORITAS KEULAMAAN NAHDLATUL ULAMA

KEMBALI PADA QONUN ASASI, PULANG PADA MARWAH PESANTREN

APA JADINYA NU TANPA QONUN ASASI

Sudah Hilangkah Ketauladanan di Tubuh NU?

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Beri Kuliah Umum di Inggris, Gubernur Khofifah: Jatim jadi Pusat Gravitasi Indonesia
Next Article Lima Maskot Siap Meriahkan Porprov Jatim VIII

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

Cegah Diabetes dan Hipertensi, Mahasiswa KKN UIN KHAS Jember Gelar Pemeriksaan Kesehatan Lansia
Sospol
Nasim Khan DPR RI Minta Transformasi PTPN Berpihak pada Karyawan dan Industri Hilir
Sospol
Pengamanan Piodalan di Pura Mandara Giri Semeru Agung Berjalan Aman dan Lancar
Uncategorized
Sowan PCNU Kota Surabaya, PKS Siap Wujudkan Tokoh NU sebagai Nama Jalan di Surabaya
Nahdliyyin

You Might also Like

Kolom

BERKAH MUKTAMAR DAN MARWAH PESANTREN

24/06/2026
Kolom

WARGA NU DAN KUASA ALGORITMA

23/06/2026
Kolom

MUKTAMAR BERKAH TANPA RISYWAH HASANAH

19/06/2026
Kolom

Dibalik angka 6 + 10 = 17 di Ranah Geopolitik

17/06/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?