By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: DPD RI: Pesantren adalah “prototipe” dari “Civil Society”
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kultural > DPD RI: Pesantren adalah “prototipe” dari “Civil Society”
Kultural

DPD RI: Pesantren adalah “prototipe” dari “Civil Society”

13/03/2021 Kultural
Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti
SHARE

Bandarlampung (Radar96.com) – Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengatakan pondok pesantren (ponpes) adalah “prototipe” dari dari masyarakat madani atau “civil society”, karena ponpes sejak dulu selalu bercirikan mandiri dan menjadi solusi bagi masyarakat sekitar dan memberi kontribusi bagi bangsa dan negara.

“Di zaman sebelum kemerdekaan, ponpes sudah menjadi institusi civil society,” katanya dalam silaturahim ke Pondok Pesantren Wali Songo di Abung Selatan, Lampung Utara, setelah sebelumnya hadir di Ponpes Wali Songo di Lampung Tengah, dalam keterangan pers yang diterima, Jumat.

Dalam kunjungan itu, ia didampingi Ketua DPD, empat Senator asal Lampung, Ahmad Bastian, Bustami Zainudin, Abdul Hakim dan dr Jihan Nurlela. Acara juga dihadiri Bupati Lampung Utara, Budi Utomo serta Ketua Yayasan Ponpes Wali Songo, HM Abu Noer Choiri dan Pengasuh Ponpes Wali Songo, KH Noer Qomaruddin.

“Dulu, ponpes tidak hidup dari dana atau santunan yang diberikan oleh penjajah Belanda, tetapi hidup mandiri dari cocok tanam dan semangat gotong royong santri bersama masyarakat sekitar. Pondok juga jadi solusi bagi masyarakat sekitar. Ada yang sakit, minta doa ke kiai. Ada yang tidak punya beras, datang ke pondok. Ada yang punya masalah, minta nasehat kiai, dan seterusnya,” katanya.

Artinya, sambung LaNyalla, pondok benar-benar menjadi institusi masyarakat madani. Karena itu, peran ulama dan kiai-kiai pengasuh pondok pesantren saat itu juga tidak bisa dihapus dari sejarah kemerdekaan Indonesia, termasuk peran para ulama dan kiai se-Nusantara dalam memberikan pendapat dan masukan kepada BPUPKI atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, yang kemudian menjadi PPKI atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

“Juga sikap legowo para ulama dan kiai, yang demi keberagaman, setuju mengganti dan menghapus anak kalimat “Piagam Jakarta” yang menjadi pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, diganti dengan kalimat; “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Puncak dari perjuangan di masa itu, adalah lahirnya Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari di Surabaya,” katanya.

Artinya, kata mantan ketua umum PSSI itu, para ulama dan kiai serta santri dalam wajah Indonesia bukan hanya perintis kemerdekaan, tetapi juga pemilik saham mayoritas. “Negara ini sudah mengakui dengan memberikan gelar pahlawan nasional kepada banyak tokoh ulama dan kiai di negara ini, termasuk pengakuan terhadap kontribusi Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 di Surabaya, dimana pada 22 Oktober ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo menjadi Hari Santri, dan masuk dalam kalender hari besar yang diperingati,” katanya.

Kini pun, cinta bangsa tersebut tetap ditunjukkan dengan peran pondok pesantren sebagai penjaga nilai-nilai moral atau akhlak warga bangsa. (*/my)

Iklan.

You Might Also Like

30 Santri Tebuireng Tembus Universitas Al-Azhar Mesir

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab: Haji itu soal Panggilan dan Mampu

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab Ungkap 3 Alasan “Lailatulqadar” Dirahasiakan

KH A Muzakky Al Hafidz: Jika Diuji Allah Berarti Disayangi

Gus Mujab Jelaskan Lima Indikator “Kebahagiaan Sejati”

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Gubernur Khofifah minta Bronjong/Plengsengan permanen atasi banjir Kedunggaleng-Probolinggo
Next Article Gubernur Khofifah dan Panglima TNI tinjau Vaksinasi Covid-19 bagi TNI Se-Malang Raya

Advertisement

Iklan.
Iklan.

Berita Terbaru

SPPG se-Grujugan, Bondowoso Manfaatkan Masa Jeda Operasional MBG untuk Tingkatkan Kualitas Pelayanan
Sospol
Lintas Parpol di Surabaya Beri Sinyal Penambahan Dapil, KPU Pastikan Proses Terbuka dan Proporsional
Sospol
Sudah Hilangkah Ketauladanan di Tubuh NU?
Kolom
BERKAH MUKTAMAR DAN MARWAH PESANTREN
Kolom

You Might also Like

Kultural

KHA Muzakky Al-Hafidz: Hidup/Umur Itu Yang Penting Bukan Panjang/Pendek, tapi Berkah dan Manfaat

29/01/2026
Kultural

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab: QS Ad-Dhuha Ajarkan Tiga Pilar Optimisme

22/01/2026
Kultural

Kajian Senja Al-Yasmin, Prof Ali Aziz: “Al ‘Ashr” Ajarkan 4 Spirit Terbaik Isi Waktu

08/01/2026
Kultural

KH Muhammad Imam Aziz: Penerus Api Perjuangan HAM Dan Keadilan, Meskipun Sudah Tiada

16/12/2025
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?