Surabaya, radar96.com – Sebanyak 60 remaja masjid se-Jawa Timur yang tergabung dalam Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Jawa Timur berkumpul di Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Surabaya pada 25-26 April 2026, untuk dilatih manajemen dan menguasai teknologi digital.
“Kami yakin teman-teman yang hadir hari ini mungkin masih remaja, namun 5 hingga 10 tahun ke depan, adalah pemimpin masa depan, karena itu, kami ingin mengisi kekosongan ruang gerak di daerah agar aktivitas remaja masjid tidak sekadar berjalan, tapi memberikan dampak yang jelas dan nyata,” ujar Direktur Wilayah (Dirwil) Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Remaja Masjid (LPPRM) BKPRMI Jawa Timur, Ustadz M Abdul Rosyid.





Dalam pelatihan yang dibuka Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kabiro Kesra) Setda Provinsi Jawa Timur, Dr. Agung Subagyo, ia berharap para peserta tidak hanya membawa pulang sertifikat, tetapi juga membawa jejaring dan rencana aksi yang konkret. “Harapannya, setelah pulang ada gerakan yang terkumpul di daerah masing-masing. Kita berikan pengetahuan agar setiap pergerakan mereka berdampak bagi umat,” katanya.
Ustadz Rosyid juga berbagi kisah inspiratif dari pengalaman pribadinya. “20 tahun lalu, saya hanyalah seorang remaja masjid yang aktif mengikuti berbagai kegiatan. Ketekunan membawa saya menjadi takmir masjid hingga kini dipercaya menjabat sebagai Direktur Wilayah LPPRM BKPRMI Jawa Timur,” katanya.
Saat memberikan arahan, Kabiro Kesra SetdaProv Jatim Dr Agung Subagyo menekankan pentingnya penguasaan teknologi informasi dan media sosial menjadi kunci bagi remaja masjid untuk memperluas syiar di era modern.
“Ilmu manajemen dan administrasi masjid yang kita pelajari akan jauh lebih kuat jika didukung oleh semangat teknologi informasi. Publikasi kegiatan masjid saat ini tidak cukup hanya melalui pengumuman lisan atau papan tulis, tapi harus memanfaatkan media sosial agar jangkauan informasinya lebih luas,” ungkap Agung.
Pemilihan Pesantren Digipreneur Al Yasmin sebagai lokasi pelatihan pun dinilai sangat tepat. Menurutnya, pesantren ini memiliki domain khusus di bidang digital yang sejalan dengan semangat muda.
“Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah ritual, tapi masjid ke depan harus menjadi daya tarik sebagai pusat pengembangan sosial, ekonomi kreatif, hingga wisata religi yang nyaman, karena itu acara ini harus menjadi titik balik bagi kebangkitan manajemen masjid yang lebih modern, transparan, dan berdampak bagi kesejahteraan umat,” katanya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum DPW BKPRMI Jawa Timur, Ustadz Ahmad Bahrudin, juga menekankan bahwa tantangan remaja masjid saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan dengan generasi sebelumnya, karena pesatnya perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang kini mulai disalahgunakan.
“Hari ini kita menghadapi tantangan AI. Saya sendiri sudah mengalami bagaimana teknologi digunakan untuk modus penipuan. Ini menjadi pengingat bahwa remaja masjid harus melek digital agar tidak hanya menjadi objek, tetapi mampu mengendalikan teknologi untuk kemaslahatan,” tutur Ustadz Bahrudin.
Ia juga menyentil fenomena masjid yang mulai kehilangan generasi muda karena pola pengelolaan yang kurang ramah terhadap anak-anak dan remaja. Menurutnya, masjid seharusnya menjadi pusat peradaban dan komunitas, bukan sekadar tempat ritual ibadah semata.
“Bagaimana mungkin masjid kita menjadi ramai jika pemudanya tidak bergerak? Kita harus membudayakan masjid sebagai tempat yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, sesuai teladan Rasulullah SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” tegasnya.
Pelatihan ini menghadirkan berbagai materi strategis, termasuk pengembangan potensi digital yang dimentori langsung oleh pengasuh Pesantren Digipreneur Al Yasmin, H Helmy M Noor (26/4), yang menyampaikan materi tentang digitalisasi media remas dan manajemen remaja masjid. (*/alyasmin)



