Oleh Nonot S mono *)
Dewan Kesenian lebih spesifik dari Dewan Kebudayaan karena “kesenian” itu irisan kecil dari “kebudayaan”. Dewan Kesenian adalah “jantung” kreativitas estetika, sedangkan Dewan Kebudayaan adalah “kepala” yang mengatur seluruh ekosistem kebudayaan yang lebih luas.
Gampangnya begini:
1. Beda Cakupan: Kolam vs Samudra
| Dewan Kesenian | Dewan Kebudayaan |
| Fokus: Produk ekspresi estetik | Fokus: Seluruh cara hidup manusia |
| Urusannya: Teater, tari, musik, sastra, film, seni rupa, ludruk, wayang | Urusannya: Kesenian,bahasa, adat, kuliner, cagar budaya, museum,tradisi lisan, pakaian, arsitektur, nilai Arek, manuskrip, komunitas adat |
| Target: Seniman dan karya seni | Target: Seniman, budayawan, arkeolog, koki, empu batik,juru kunci, warga biasa |
| Analogi: DK itu ngurusi “ikan” di kolam | Analogi: Dewan Kebudayaan ngurusi “seluruh ekosistem laut” dari ikan, karang, arus, sampai nelayannya. |
2. Beda “Ruh” dan Cara Kerja
– Dewan Kesenian itu spesifik karena:
1. Kerjanya kuratorial: Tugasnya milih, ngebina, mengkritik karya seni. Ada dewan juri, ada diskusi sastra, ada workshop naskah. Ukurannya mutu estetik.
2. Basisnya seniman: Anggota DK harusnya seniman aktif. Mereka ngerti panggung butuh lampu berapa watt, naskah bagus itu kayak apa, kenapa ludruk pakemnya gini.
3. Outputnya karya: Tolak ukurnya lahir pentas bagus, buku keren, film juara, maestro baru.
– Dewan Kebudayaan itu luas karena:
1. Kerjanya manajerial: Ngurus pendataan cagar budaya, revitalisasi kampung lawas,festival kuliner, promosi wisata. Ukurannya dampak ekonomi & pelestarian.
2. Basisnya banyak pihak: Isinya campuran seniman, akademisi, birokrat, pengusaha wisata, tokoh adat. Rawan rebutan suara.
3. Outputnya ekosistem: Tolak ukurnya indeks kebudayaan, jumlah kunjungan museum,PAD dari sektor budaya.
3. Kenapa Spesifik Itu Penting?
Ini nyambung sama “kemunduran fisik” yang kamu takutin tadi.
Kalau DK dilebur jadi Dewan Kebudayaan tanpa pengaman, risikonya:
1. Seniman kelelep: Anggaran & perhatian ketarik buat urus cagar budaya & kuliner karena KPI-nya lebih gampang. Bikin festival rujak cingur lebih gampang viral daripada biayain riset naskah teater 1 tahun.
2. Standar mutu kabur: Dewan Y nggak bisa sedetail DKS buat bedain mana tari Remo yang pakem, mana yang cuma buat TikTok. Akhirnya semua dianggap “budaya”. Good art vs bad art jadi nggak penting.
3. Rumah seniman hilang: DK itu tempat seniman ngadu, berantem gagasan, minta rekomendasi. Kalau dilebur, seniman teater harus antre bareng pedagang semanggi buat ngomong sama “Dewan”.
Renaissance Eropa dulu lahir dari spesialisasi. Ada Academy of Art, ada Guild of Writers, Nggak dilebur jadi “Dewan Peradaban” saja. Karena ngurus pelukis beda skill-nya sama ngurus tukang batu.
Jadi bukan berarti Dewan Kebudayaan buruk.Tapi kalau mau bener, strukturnya harus gini: Dewan Kebudayaan Payung gede, di dalamnya tetap ada Dewan Kesenian yang otonom ngurus seniman. Ada juga Dewan Warisan, Dewan Bahasa, Dewan Kuliner, dll.
Seperti di tubuh manusia: Ada kepala, tapi jantung, paru, lambung kerjanya spesifik sendiri-sendiri. Nggak bisa semua dicampur jadi “Dewan Organ”.
Kalau cuma “ditransformasi Dewan Kesenian dibubarkan terus semua ditangani satu dewan, ya itu biar keliatan gede, tapi jantungnya malah dicabut.
*) Penulis adalah Seniman, Praktisi Pendidikan, Budayawan.



