Surabaya, radar96.com – Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW DMI) Jawa Timur terus memacu program modernisasi tata kelola rumah ibadah lewat percepatan digitalisasi sistem informasi dan sistem dakwah bagi ribuan masjid di kabupaten/kota se-Jawa Timur.
“Langkah strategis di era digital itu kami wujudkan melalui pelatihan sistem informasi digital secara berkala yang melibatkan takmir, pengurus daerah, hingga elemen remaja masjid,” kata Ketua PW DMI Jawa Timur, Dr. KH. M. Sudjak, M.Ag., saat membuka pelatihan di Surabaya, Sabtu.

Ia menegaskan bahwa transformasi digital merupakan langkah mutlak agar masjid dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Data yang presisi akan menjadi fondasi utama dalam merancang program pemberdayaan masyarakat yang tepat sasaran.
“Masjid tidak boleh tertinggal oleh kemajuan teknologi. Melalui pelatihan digitalisasi sistem informasi ini, kita ingin membangun sistem manajemen masjid yang transparan, akuntabel, dan terintegrasi secara nasional. Jika datanya akurat, kita bisa memetakan potensi umat dengan jauh lebih baik,” ujarnya.
Program sistem informasi kemasjidan itu menguatkan tiga produk unggulan DMI Jatim, yakni produk unggulan untuk imam masjid, untuk masjid-nya, dan jamaah masjid. Program unggulan untuk imam masjid adalah UKIM atau uang kehormatan imam masjid sejak 2019, sedang program unggulan untuk masjid-nya adalah Masjid Award.
“Untuk program unggulan untuk jamaah adalah Halal Center untuk UMKM sekitar masjid yang sudah mencetak 200 pendamping UMKM Industri Halal, juga untuk jamaah muda adalah pelatihan sistem informasi kemasjidan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Sekretaris Departemen IPTEK dan Kebudayaan PW DMI JATIM, Muhammad Iqbal, S.Ag, M.Si mengingatkan integrasi sistem informasi digital juga menuntut ketertiban tata kelola organisasi di tingkat paling bawah.
Menurutnya, pemutakhiran data yang rapi dan mandiri oleh masing-masing takmir itu sangat krusial, karena digitalisasi itu bukan sekadar memindahkan data ke aplikasi, melainkan tentang membangun kedisiplinan administrasi di tingkat takmir.
“Setiap masjid harus mandiri dan tertib dalam mengelola data serta pelaporan administrasinya. Jangan sampai ada kesamaan dokumen atau duplikasi administrasi antarwilayah karena itu berisiko memicu teguran sistem,” tegas Iqbal yang juga Kepala SMA Khodijah Surabaya itu.
Selain pembenahan sisi administrasi, DMI Jatim juga menggandeng generasi muda dan remaja masjid untuk mengelola media sosial masjid secara produktif agar mampu memproduksi konten dakwah yang kreatif, moderat, dan inklusif.
Hal itu juga ditegaskan oleh Ketua Departemen IPTEK dan Kebudayaan PW DMI Jatim, Munawwir. “Pemanfaatan IPTEK di lingkungan masjid adalah budaya baru yang harus kita adopsi bersama secara bijak. Lewat integrasi data digital, kita sedang membentuk kebudayaan takmir modern yang bekerja lebih cepat dan efisien,” katanya.
Ia menambahkan DMI ingin membuktikan bahwa masjid sanggup mengawinkan nilai-nilai luhur keagamaan dengan kemudahan teknologi masa kini, sehingga masjid tidak sekadar menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga bertransformasi sebagai pusat informasi, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi umat yang modern. (*/dmi)



