Surabaya, radar96.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Airlangga (UNAIR) memperkuat kolaborasi riset di bidang kesehatan, khususnya penelitian penyakit infeksi tropis, pengembangan vaksin, obat, hingga bioproduk kesehatan. Penguatan kerja sama tersebut menjadi fokus dalam kunjungan Institut of Tropical Disease (ITD) dan Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) UNAIR ke Organisasi Riset (OR) Kesehatan BRIN di Cibinong, Kamis (30/7/2026).
Kunjungan ini merupakan tindak lanjut atas lawatan BRIN ke ITD UNAIR pada April lalu sekaligus menjadi momentum memperluas kolaborasi kelembagaan di bidang riset kesehatan nasional.

Rombongan UNAIR dipimpin oleh perwakilan ITD, dr. Priyo Budi Purwono, M.Si., Sp.MK., Ph.D., bersama sejumlah peneliti, antara lain Laura Navika Yamani, S.Si., M.Si., Ph.D., Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam, dr. Khanisyah Erza Gumilar, Sp.OG., Subsp.K.Fm., Ph.D., Zayyin Dinana, drh., M.Si., serta jajaran Direktorat Riset dan Inovasi.
Mereka disambut Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Prof. Dr. drh. NLP Indi Dharmayanti, M.Si., beserta para kepala pusat riset di bawah OR Kesehatan, mulai dari Pusat Riset Biomedis, Kedokteran Preklinis dan Klinis, Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional, Biologi Molekuler Eijkman, hingga Pusat Riset Veteriner.
Dalam keterangannya kepada awak media, Minggu (2/8/2026), Prof. Indi menyatakan kerja sama antara BRIN dan UNAIR sebenarnya telah berlangsung cukup lama, namun sebagian besar masih bersifat kolaborasi antarpeneliti. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi langkah penting untuk meningkatkan kemitraan pada level institusi.
“Kami berharap hubungan BRIN dan UNAIR semakin erat sehingga lahir lebih banyak riset kolaboratif dengan dukungan pendanaan, baik dari BRIN maupun sumber eksternal. Selain itu, terbuka pula peluang pengembangan sumber daya manusia, termasuk program pendidikan doktor bagi peneliti kedua institusi,” ujarnya.
Sementara itu, dr. Priyo menjelaskan ITD UNAIR selama dua dekade terakhir berfokus pada penelitian berbagai penyakit infeksi tropis yang masih menjadi tantangan kesehatan Indonesia, seperti tuberkulosis, malaria, hepatitis, serta berbagai penyakit zoonosis.
Menurutnya, arah riset ITD kini tidak lagi terbatas pada penelitian dasar, tetapi telah berkembang menuju riset surveilans, pengembangan bioproduk berupa obat, vaksin, dan kit diagnostik, hingga pelaksanaan uji klinis bekerja sama dengan Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA).
“Komitmen kami adalah menghasilkan riset yang mampu memberikan solusi nyata bagi persoalan penyakit infeksi tropis di Indonesia. Karena itu, kolaborasi dengan BRIN menjadi sangat strategis untuk mempercepat hilirisasi hasil penelitian,” kata dr. Priyo.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Riset dan Inovasi UNAIR Dr. Purwo Sri Rejeki, dr., M.Kes., menegaskan pihaknya terus mendorong para peneliti memperluas kolaborasi nasional maupun internasional melalui skema pendanaan riset yang kompetitif.
Ia menyebut UNAIR saat ini memiliki berbagai research group, pusat riset, serta Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI-PT) yang dapat disinergikan dengan kapasitas riset BRIN.
“BRIN memiliki berbagai peluang pendanaan riset setiap tahun. Kami berharap peneliti UNAIR dapat memanfaatkan peluang tersebut sekaligus membangun kolaborasi yang lebih kuat dalam mendukung kemandirian kesehatan nasional,” ujarnya.
Purwo juga mengungkapkan adanya sejumlah topik riset strategis yang tengah dikembangkan UNAIR dan berpotensi menjadi dasar pembentukan konsorsium pusat riset bersama antara UNAIR dan BRIN.
Selain forum diskusi, rombongan UNAIR meninjau sejumlah fasilitas riset unggulan milik BRIN, termasuk laboratorium genomik dan fasilitas Cryogenic Electron Microscopy (Cryo-EM) yang merupakan salah satu fasilitas paling canggih di kawasan Asia Tenggara.
Pemanfaatan bersama infrastruktur riset tersebut diharapkan mampu mempercepat lahirnya inovasi di bidang kesehatan sekaligus memperkuat ekosistem riset nasional yang lebih terintegrasi antara perguruan tinggi dan lembaga penelitian pemerintah.(*/ITD Unair)



