Oleh: Gus HM. Nasruddin Anshoriy Ch *)
Nahdlatul Ulama (NU) adalah bentangan sajadah Panjang dan luas yang selalu hangat dan terbuka bagi siapa saja. Di atas sajadah panjang ini, jutaan jiwa berhimpun membawa getar kalbu, ingatan sejarah, serta jalan pengabdian yang beragam. Namun, keanekaragaman itu bukanlah sumber perpecahan, melainkan hamparan taman spiritual yang disirami oleh telaga rasa kasih sayang (rahmah) dan persaudaraan (ukhuwah).
Untuk menyelami kedalaman rumah spiritual ini, kita dapat menghayati dua jalan kebudayaan yang akrab dalam kehidupan sehari-hari: NU Gorengan dan NU Garingan. Kedua istilah ini bukanlah sekat yang memisahkan, melainkan kiasan indah tentang dua helai napas spiritual yang saling melengkapi—sebuah tarian antara kehangatan cinta yang meluap dan kejernihan akal yang berdzikir. “NU Gorengan”: Kehangatan Kerakyatan dan Ketulusan Zikir di Akar Rumput
Keheningan Cinta dan Kepasrahan Jiwa
NU Gorengan menggambarkan getar jiwa jamaah di akar rumput yang menyelami agama melalui pintu rasa (dzawq). Metafora “gorengan”—yang menyerap minyak, hangat, dan disajikan untuk dinikmati bersama—mencerminkan sebuah jalan spiritual yang hidup dari leburnya ego diri (fana’) ke dalam samudera kebersamaan.
Di sini, hubungan dengan Yang Maha Kuasa tidak dibangun melalui rumitnya dalil akademis, melainkan melalui kepasrahan yang polos (tawakal al-‘awam). Allah SWT dihayati bukan sebagai Zat yang jauh dan mengadili dengan dingin, melainkan sebagai Ar-Rahman yang hadir dalam setiap hela napas, tiap usapan tangan kiai, dan tiap kepulan asap teh hangat di majelis zikir.
Dalam kehidupan sehari-warisannya, NU Gorengan merayakan keagamaan secara riil dan menyentuh pancaindra. Di serambi-serambi pesantren, di pelataran makam-makam wali, serta di atas tikar-tikar pandan rumah warga, ritus keagamaan menjadi muara dahaga jiwa. Tradisi tahlilan, manaqiban, dan ngalap berkah adalah perwujudan dari rasa dahaganya hati akan persambungan rohani (itishal).
Tidak ada jarak hierarki antara yang kaya dan yang miskin; ketika lantunan shalawat Diba’ dibawakan bersama, semua suara melebur dalam satu kerinduan kepada Rasulullah SAW. Bau minyak gorengan yang menyatu dengan aroma minyak wangi non-alkohol dan kepulan asap rokok santri menjadi saksi bisu bagaimana yang profan dan yang sakral menyatu tanpa kecanggungan.
Kepasrahan spiritual ini melahirkan ketahanan jiwa yang amat kokoh dalam menghadapi derita hidup. Rakyat kecil yang terhimpit ekonomi menemukan penawar duka bukan dari ruang seminar, melainkan dari dawuh (nasihat) peneduh para kiai sepuh. Nasihat kiai menjadi embun pagi yang menyegarkan jiwa yang lelah. Ketundukan mereka kepada kiai bukanlah bentuk keterbelakangan, melainkan rasa takzim kepada warisan sanad rohani yang menyambung hingga kepada Nabi.
Kepolosan yang penuh keikhlasan ini pernah disentil dengan jenaka oleh komedian legendaris Asmuni (Srimulat): “Hilang keteoriannya, timbul konyolnya… Hilang rasionalnya, timbul barokahnya!”.
Sentilan Asmuni ini menyingkapkan kebenaran spiritual yang dalam: bahwa sering kali, ketika manusia terlalu sibuk dengan teori dan keakuan pikirannya, ia justru kehilangan keheningan rasa. Di dalam kepolosan NU Gorengan, teori-teori duniawi dilepaskan agar keberkahan Ilahi yang tak terduga dapat masuk mengalir memenuhi relung jiwa.
“NU Garingan”: Kejernihan Akal, Tapa Rame, dan Kedisiplinan Kritis
Di seberang hamparan rasa itu, hadir NU Garingan. Jika NU Gorengan melarutkan diri dalam luapan emosi keagamaan, maka NU Garingan meniti jalan ketakwaan melalui kejernihan akal (‘aql) dan pendisiplinan batin. Ini adalah jalan spiritualitas Sahw—kesadaran rohani yang jernih dan terjaga. Bagi NU Garingan, berpikir kritis, menjaga kerapian ajaran, dan memperjuangkan keadilan sosial adalah bentuk ibadah yang setara tingginya dengan zikir lisan. Mereka menghayati bahwa akal adalah karunia transendental yang harus disucikan untuk membaca ayat-ayat Allah yang tersebar di lembaran kitab (tanziliyyah) maupun di dalam realitas masyarakat (kauniyyah).
Sikap NU Garingan ditandai oleh kesadaran untuk mengambil jarak sejenak dari emosi massa demi melakukan refleksi yang mendalam. Para cendekiawan, peneliti, dan aktivis jam’iyyah ini melakoni tradisi Bahtsul Masail bukan sekadar sebagai ajang berdebat, melainkan sebagai upaya pencarian kebenaran. Mereka meneliti teks-teks klasik (turats) dengan pisau analisis modern untuk menemukan maslahah (kebaikan bersama). Di ruang-ruang diskusi, perpustakaan, dan naskah kebijakan, mereka melakukan tapa rame—melayani umat melalui kerja-kerja pemikiran yang rapi, garing dari sentimentalisme, namun sarat akan tanggung jawab moral.
Warga NU Garingan bertindak sebagai penjaga batas-batas ajaran agar kehangatan tradisi tidak tergelincir menjadi takhayul atau populisme yang menyesatkan. Mereka menerjemahkan kasih sayang keagamaan menjadi sistem yang melindungi yang lemah: merumuskan fiqh kewargaan (fiqh al-muwatanah), memperjuangkan hak-hak kemanusiaan, dan menyusun tata kelola organisasi yang transparan. Bagi mereka, memperjuangkan tata kelola yang adil adalah wujud nyata dari kecintaan kepada Allah dan sesama.
Sastrawan dan kolomnis Mahbub Junaidi menggambarkan pentingnya kejernihan akal dalam beragama melalui sindirannya yang tajam namun sejuk: “Pikiran kalau sudah terlalu lama dipanaskan di panci kekuasaan tanpa akal sehat, nanti malah jadi gosong dan baunya tidak enak.”
Pesan spiritual di balik seloroh Mahbub Junaidi ini sangat jelas: akal manusia adalah amanah yang harus dijaga dari ketamakan dan emosi buta. Tanpa kejernihan akal NU Garingan, niat baik dan kehangatan keagamaan dapat hangus terbakar oleh Manipulasi kekuasaan.
Literasi Politik Kebudayaan: Tarian Cinta dan Kebijaksanaan
Dalam panggung sejarah bangsa, perjumpaan antara NU Gorengan dan NU Garingan melahirkan tarian spiritual politik yang sangat indah. Literasi politik kebudayaan NU tidak dibangun atas dasar syahwat kekuasaan, melainkan atas dasar penataan kemaslahatan umat (tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manutun bil maslahah).
Penyatuan Energi dan Penunjuk Arah: NU Gorengan adalah samudera energi rohani yang tak pernah kering. Ketulusan jamaah, doa-doa di sepertiga malam, serta keikhlasan para kiai kampung adalah fondasi batin yang menjaga negeri ini dari kehancuran. Namun, samudera energi yang melimpah ini membutuhkan dermaga dan peta jalan yang digambar oleh NU Garingan. Tanpa arsitektur pemikiran NU Garingan, energi besar ini rentan diombang-ambingkan oleh arus politik praktis. Sebaliknya, tanpa ketulusan rohani NU Gorengan, pemikiran NU Garingan hanya akan menjadi menara gading yang dingin dan tidak menggetarkan jiwa rakyat.
Melindungi Kebhinnekaan dengan Kasih Sayang: Ketika NU Gorengan membawa keramahan tradisi lokal dan NU Garingan merumuskan argumen kebangsaan yang rasional, lahirlah kesepakatan agung seperti Pancasila dan NKRI. Ini adalah buah dari politik kebudayaan yang mendinginkan—sebuah kemampuan merangkul perbedaan tanpa harus kehilangan jati diri.
Keindahan kompromi yang sarat kehalusan jiwa ini pernah diringkas dengan sangat jenaka oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur): “Bangsa ini bisa damai karena orang NU itu pandai bergaul dan kompromi. Saking pandainya bergaul, kalau ada masalah berat pun diselesaikannya sambil minum teh hangat dan bilang: Gitu aja kok repot!”.
Ungkapan “Gitu aja kok repot” dari Gus Dur bukanlah sikap meremehkan, melainkan puncak dari kearifan spiritual (makrifat). Ketika seseorang telah memahami bahwa segala urusan pada akhirnya kembali kepada Allah, masalah seberat apa pun dalam politik dan kebudayaan dapat dihadapi dengan senyuman, dada yang lapang, dan secangkir teh hangat di tengah saudaranya.
Menyatu dalam Samudera Kasih Sayang Ilahi
Pada akhirnya, perjalanan spiritual kebudayaan Nahdlatul Ulama adalah upaya tiada henti untuk mempraktikkan kaidah mulia para pendahulu:
المُحَافَظَةُ عَلَى القَدِيمِ الصَّالِحِ وَالأَخْذُ بِالجَدِيدِ الأَصْلَحِ
(Memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik).
NU Gorengan menjaga “tradisi lama yang baik” dengan merawat matarantai kasih sayang, kehangatan silaturahmi, dan ketulusan doa rakyat kecil. Sementara NU Garingan membawa “hal baru yang lebih baik” dengan menyumbangkan ketajaman analisis, kerapian tata kelola, dan keadilan struktural bagi kemajuan zaman.
Ketika kehangatan gorengan yang penuh berkah menyatu dengan kejernihan garingan yang penuh kebijaksanaan, lahirlah insan Nahdliyin yang sejati: manusia yang hatinya senantiasa tenggelam dalam samudera zikir dan cinta sesama, namun langkah kakinya mantap, pikirannya jernih, dan kehadirannya menjadi peneduh rahmatan lil ‘alamin bagi seluruh alam. (*)
*) Penulis adalah budayawan dan kolomnis



