Bondowoso, radar96.com – Ada hal yang tidak tercantum dalam lembar penilaian akademik ketika mahasiswa menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN): pengalaman berhadapan langsung dengan kehidupan masyarakat. Hal tersebut menjadi bagian dari perjalanan mahasiswa Universitas Bondowoso (UNIBO) selama melaksanakan KKN di Kecamatan Tlogosari, Kabupaten Bondowoso.
Setelah menjalani rangkaian pengabdian di tengah masyarakat, mahasiswa KKN UNIBO resmi ditarik pada Selasa (8/9/2026). Prosesi penarikan berlangsung di Pendopo Kecamatan Tlogosari dan dihadiri perwakilan Pemerintah Kecamatan Tlogosari, jajaran Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bondowoso serta perwakilan mahasiswa.
Bagi mahasiswa, berakhirnya KKN bukan sekadar waktunya kembali ke lingkungan kampus. Selama berada di desa, mereka belajar bahwa persoalan masyarakat memiliki karakter yang jauh lebih kompleks dibandingkan persoalan yang dibahas di ruang perkuliahan.
Mahasiswa harus berkomunikasi dengan berbagai kalangan, memahami kebutuhan warga, berkoordinasi dengan pemerintah desa hingga mencari cara agar program yang dirancang dapat benar-benar diterima dan dimanfaatkan masyarakat.
Salah satu pendekatan yang dibawa dalam KKN UNIBO 2026 adalah pemanfaatan teknologi digital. Namun, teknologi tersebut tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk membantu masyarakat menyelesaikan kebutuhan tertentu.
Ketua LPPM Universitas Bondowoso, Mohammad Haris Taufiqur Rahman, menjelaskan bahwa sejumlah program digital telah dijalankan mahasiswa selama berada di lokasi KKN.
“Peserta KKN sudah menyelesaikan beberapa program kerja yang tentu mendorong tema KKN tahun 2026 ini, yakni digitalisasi. Seperti pembuatan website di Desa Jebung Kidul, pembuatan QRIS di beberapa UMKM, pendaftaran BPJS melalui Mobile JKN, penambahan titik koordinat Google Maps bagi pelaku UMKM, workshop literasi digital, pendampingan pembuatan akun media sosial UMKM, dan beberapa kegiatan lainnya yang menjadi kegiatan penunjang,” jelasnya.
Program tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan masyarakat menjadi titik penting dalam menentukan bentuk pengabdian.
Pelaku UMKM didampingi agar lebih mengenal transaksi dan promosi digital. Masyarakat diperkenalkan dengan akses layanan publik melalui aplikasi. Sementara pemerintah desa mendapatkan dukungan dalam pemanfaatan media digital untuk penyebaran informasi.
Mewakili Camat Tlogosari, Ibu Yayuk menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa selama menjalankan KKN.
“Terima kasih sudah menjadikan Kecamatan Tlogosari sebagai tempat pelaksanaan KKN. Semoga apa yang telah dikerjakan bermanfaat untuk masyarakat dan menjadi keberkahan bagi semuanya,” tuturnya.
Ucapan tersebut menjadi bagian dari pesan bahwa keberadaan mahasiswa di desa diharapkan tidak hanya meninggalkan kegiatan, tetapi juga memberikan pengalaman dan pengetahuan yang dapat terus dimanfaatkan.
Dosen Pembimbing Lapangan, Yuda Yuliyanto, juga menekankan bahwa KKN merupakan bagian dari proses pendidikan mahasiswa di luar ruang kelas.
“KKN bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar dari masyarakat sekaligus memberikan kontribusi nyata. Jadikan pengalaman selama KKN sebagai bekal untuk terus membangun kepedulian sosial dan tanggung jawab sebagai insan akademik,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi penting karena mahasiswa tidak hanya dituntut mengetahui teori, tetapi juga belajar bagaimana sebuah gagasan diterapkan dalam situasi nyata.
Di lapangan, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan pendekatan yang sama. Mahasiswa harus belajar menyesuaikan diri, mendengar, berdialog dan bekerja bersama masyarakat.
Proses tersebut menjadi pembelajaran tersendiri mengenai arti pengabdian.
Sebab, masyarakat bukan sekadar objek program. Masyarakat merupakan mitra yang memiliki pengalaman, pengetahuan lokal dan kebutuhan yang harus dipahami sebelum sebuah program dijalankan.
Karena itu, keberhasilan KKN tidak semata-mata diukur dari jumlah program yang berhasil dilaksanakan. Lebih penting dari itu adalah apakah program tersebut mampu memberikan manfaat dan membuka kemampuan baru bagi masyarakat.
Hal tersebut juga berlaku pada program digitalisasi. Website desa, QRIS, media sosial, Google Maps maupun layanan digital lainnya baru memiliki arti apabila masyarakat mampu menggunakan dan mengembangkannya secara mandiri.
Dengan demikian, kepulangan mahasiswa bukan berarti seluruh proses pengabdian selesai.
Mahasiswa membawa pulang pengalaman sosial dari desa, sedangkan masyarakat diharapkan membawa pulang pengetahuan baru yang diperoleh selama berinteraksi dengan mahasiswa.
Pertemuan keduanya menjadi inti dari KKN: perguruan tinggi hadir membawa pengetahuan, sementara masyarakat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji sekaligus memperkaya pengetahuan tersebut melalui pengalaman nyata.
Kecamatan Tlogosari menjadi salah satu ruang pembelajaran itu.
Berbagai program yang dilaksanakan menunjukkan bahwa pengabdian perguruan tinggi dapat dilakukan melalui hal-hal yang dekat dengan kebutuhan masyarakat, termasuk membantu pelaku usaha beradaptasi dengan teknologi, memperkenalkan layanan digital dan memperkuat literasi masyarakat.
Penarikan mahasiswa KKN UNIBO akhirnya menjadi penanda berakhirnya satu fase pengabdian, tetapi bukan berarti hubungan antara kampus dan masyarakat harus berhenti.
Program yang telah dimulai dapat terus dikembangkan, sementara pengalaman mahasiswa selama berada di tengah masyarakat dapat menjadi bekal ketika mereka kembali menjalani kehidupan akademik maupun memasuki dunia profesional.
Karena pada akhirnya, KKN bukan tentang berapa lama mahasiswa tinggal di desa, melainkan tentang apa yang mereka pelajari, apa yang mereka berikan, dan apa yang masih dapat tumbuh setelah mereka pergi.
Dari Tlogosari, mahasiswa UNIBO kembali ke kampus membawa cerita tentang masyarakat. Dan masyarakat membawa harapan agar pengetahuan serta program yang telah diperkenalkan dapat terus memberikan manfaat. (*/Rif)



