Oleh Nonot S mono
Jika disetujui nama jalan Gombloh, bagaimana tokoh lainnya yang punya kontribusi di dunia musik seperti Slamet Abdul Sukur, Buby Chen dan seterusnya?
Pertanyaan kritis ini sangat valid dan sering menjadi bahan diskusi hangat dalam tata kota dan pengelolaan warisan budaya. Usulan penyematan nama Jalan Gombloh oleh komunitas Memories of Gombloh (Mogers) di Surabaya memang memicu diskusi tentang keadilan bagi maestro musik legendaris lainnya asal Kota Pahlawan, seperti Slamet Abdul Sukur dan Buby Chen.
Jika nama Gombloh disetujui, idealnya pemerintah kota tidak berhenti di satu nama. Berikut adalah beberapa formula dan alternatif kebijakan untuk memberikan penghormatan yang setara bagi tokoh musik lainnya:
1. Pembuatan “Klaster Jalan Tokoh Seni”.
Dibandingkan menyebar nama tokoh di lokasi yang acak, pemerintah kota dapat membuat sebuah kawasan khusus atau klaster perumahan/jalan baru yang didedikasikan sepenuhnya untuk para maestro musik.
- Jalan Abdul Sukur (pelopor musik keroncong modern/Keroncong Tanah Air).
- Jalan Buby Chen (maestro jazz legendaris Asia).
- Jalan Gombloh (legenda musik pop ballad dan nasionalis).
- Jalan Leo Kristi atau Mus Mulyadi (tokoh musik Surabaya lainnya).
2. Pemanfaatan Ruang Publik Non-Jalan
Mengubah nama jalan utama sering kali terkendala masalah administratif birokrasi, karena mengharuskan ribuan warga mengubah dokumen kependudukan (KTP, KK, Sertifikat Tanah). Sebagai alternatif, nama tokoh musik lain bisa diabadikan pada fasilitas publik yang relevan:
- Gedung Pertunjukan atau Studio: Menamai aula konser, gedung teater di kompleks Balai Pemuda, atau pusat kesenian dengan nama Auditorium Buby Chen atau Gedung Abdul Sukur.
- Taman Tematik Musik: Membuat ruang terbuka hijau (taman kota) yang dilengkapi dengan patung, relief sejarah, atau instalasi audio interaktif yang memainkan karya-karya mereka.
3. Standarisasi dan Regulasi Resmi (Sistem Antrean)
Dewan Kesenian bersama Pemerintah Kota perlu menyusun database resmi atau Indeks Tokoh Budaya Legendaris. Dengan adanya daftar ini, setiap kali ada proyek pembangunan infrastruktur baru (seperti jalan lingkar luar baru, jembatan, atau gedung pemerintahan), nama-nama yang berkontribusi besar seperti Abdul Sukur dan Buby Chen otomatis masuk ke dalam prioritas utama tanpa harus menunggu desakan komunitas terlebih dahulu.
4. Festival dan Penghargaan Seni Tahunan
Jika ruang fisik terbatas, penghormatan dapat diwujudkan dalam bentuk ruang non-fisik yang dinamis, seperti mengabadikan nama mereka sebagai nama penghargaan atau festival tahunan (misalnya: Abdul Sukur Keroncong Festival atau Buby Chen Jazz Award untuk musisi muda berbakat).
Bagaimana, apakah pengabadian nama tokoh musik ini lebih efektif diterapkan pada nama jalan di area kelahiran mereka masing-masing, atau dipusatkan dalam satu kompleks kawasan seni khusus?
Silahkan direnungkan kembali.
*) Penulis adalah Pendidik, Pelukis dan Budayawan Jatim



