Davos. Radar96.com. Pertumbuhan perekonomian Indonesia yang kian menunjukkan sinyal positif turut
berpotensi mendorong pulihnya tingkat kepercayaan konsumen dalam melakukan kegiatan
belanja barang dan jasa. Dalam masa pandemi, konsumsi masyarakat kelas menengah
mengalami tekanan, sehingga pulihnya daya beli konsumen tersebut akan mendongkrak
pemulihan sektor lain.
Hingga saat ini, tercatat konsumsi masyarakat kelas menengah telah meningkat cukup
signifikan. Hal tersebut dibuktikan dengan meningkatnya jumlah kelas menengah di
Indonesia, yang pada 2002 hanya berjumlah 7% dari total populasi atau setara dengan 14,1
juta orang, menjadi 57,3 juta orang pada 2019. Angka tersebut juga diprediksi masih akan
terus meningkat mengingat demographic dividend atau bonus demografi yang akan dilalui
Indonesia pada 2045 mendatang.
Potensi konsumsi masyarakat yang besar menjadi peluang yang baik bagi perusahaan
swasta dalam membangun dan memasarkan produknya di Indonesia. Salah satunya adalah
Coca Cola yang telah memiliki jumlah konsumen cukup besar di Indonesia.
“Indonesia merupakan pasar dan hubungan potensial bagi Coca Cola di regional Asia Tenggara, mengingat Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, dan negara dengan populasi terbanyak di kawasan Asia Tenggara,” ujar Menteri Koordinator
Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pertemuan dengan CEO dan Chairman
the Coca Cola Company James Quincey, di Davos-Swiss, Selasa (24/05/22).
Potensi pasar yang besar tersebut perlu didukung sektor lainnya. Airlangga
menyampaikan, saat ini Indonesia telah melakukan reformasi struktural melalui UU Cipta
Kerja. Tujuannya mengurangi jumlah perizinan dan memudahkan calon investor untuk
membangun usahanya di Indonesia, salah satunya melalui mekanisme perizinan berusaha
berbasis risiko.
Dukungan lain yang diberikan pemerintah yaitu dengan menetapkan Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK) yang meliputi pergudangan, distribusi, teknologi informasi, dan sumber daya
manusia, serta menawarkan insentif tax allowance untuk mendorong investasi. Hal itu
menjadikan Indonesia bukan hanya menarik dari segi pemasaran, karena demografi yang
muda dan produktif, tetapi juga karena infrastruktur pendukung yang semakin siap dalam
mempermudah operasional perusahaan di Indonesia.
Selain itu, saat ini Indonesia juga tengah melakukan transisi energi guna mendukung
terciptanya industri hijau dan terpenuhinya target net zero emission pada 2060. Salah satu
implementasi dalam transisi energi dengan semakin memperluas penggunaan panel surya
untuk pembangkit listrik dan sumber energi baru terbarukan lainnya.
Airlangga turut menyampaikan pandangannya agar Coca Cola dapat melakukan
diversifikasi usaha terkait dengan pengembangan produk berbahan baku buah kelapa,
mengingat Indonesia juga memiliki potensi yang besar dalam menghasilkan buah kelapa
serta luas lahan untuk perkebunan juga tersedia dalam jumlah yang besar.
Di sisi lain, diversifikasi tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan pekebun kelapa yang mayoritas adalah pekebun kecil atau smallholder farmer, dan memberikan multiplier effect yang besar



