Yogyakarta (Radar96.com) – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) untuk berpartisipasi mengentaskan angka kemiskinan di Tanah Air melalui pemberdayaan dan pendampingan UMKM dan wirausahawan.
Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kabiro Bina Mental dan Spiritual Setda DIY, Jarot Margiantoro, dalam pembukaan Konfernas II HPN, di Yogaykarta, Kamis (2/6/2022), Sri Sultan menilai HPN memiliki peran penting dalam masyarakat dan negara.
“Sebagai komunitas pengusaha, semoga HPN dapat memperjuangkan kewirausahan dan memberikan advokasi kepada pelaku UMKM, sehingga, dapat mengentaskan kemiskinan. Dengan begitu, peran Himpunan Pengusaha Nahdliyin dapat dirasakan oleh masyarakat,” katanya.
Selain itu, Sri Sultan optimistis Himpunan Pengusaha Nahdliyin mampu menjalankan berbagai pekerjaan yang ada di pemerintahan dan swasta, sebab dalam HPN ada banyak jenis usaha dan keterampilan yang dimiliki para pengusaha.
Pembukaan Konfernas II HPN ditandai dengan pemukulan gong oleh Kabiro Bina Mental dan Spiritual Setda DIY, Jarot Margiantoro, dan penyerahan lukisan bergambar Sultan HB X oleh PW Himpunan Pengusaha Nahdliyin Jawa Barat kepada Jarot mewakili Sultan HB X.
Dalam kesempatan itu, Ketua Umum PP HPN Abdul Kholik mengatakan organisasi yang besar adalah organisasi yang tahan menghadapi badai. Pesan ini seolah menjadi pengingat kepada pengurus dan anggota HPN, terkait dengan adanya isu perpecahan pada organisasi Himpunan Pengusaha Nahdliyin.
“Semoga Himpunan Pengusaha Nahdliyin dapat melalui berbagai rintangan. Semoga pada Konfernas inj tidak sampai ada kursi yang melayang,” tandas Abdul Kholik.
Kholik mengingatkan, keberadaan Himpunan Pengusaha Nahdliyin sebagai ajang silaturahmi dan sinergi antar warga nahdliyin. Sebab, dengan adanya wadah ini, warga nahliyin dapat memperluas jejaring dan saling membangun kolaborasi.
“Dengan begitu, Himpunan Pengusaha Nahdliyin dapat ikut mengurangi angka kemiskinan dan kesenjangan ekonomi,” terang Kholik.
Tiga Pilar NU
Sementara itu, pelaku UMKM yang hadir dalam Konfernas II HPN itu, Ichsan, mengatakan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) sejak berdirinya hingga kini senantiasa turut aktif memikirkan memberikan solusi positif atas berbagai persoalan bangsa, baik masalah keagamaan (diniyah) maupun kemasyarakatan (sosiality).
“Ada tiga pilar utama sebagai pondasi organisasi NU yaitu, Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar dan Nahdlatut Tujjar. Ketiga pilar ini menjadi bagian terpenting dalam perjalanan NU membangun bangsa ini. Ketiga pilar ini pada mulanya adalah sebuah organisasi yang masing-masing didirikan oleh ulama-ulama NU sendiri,” katanya.
Tiga pilar ini sebagai cikal bakal NU memiliki segmen yang berbeda, Tashwirul Afkar fokus pada segmen keilmuan dan pemikiran. Nahdlatul Wathan fokus pada segmen pemupukan dakwah kebangsaan, sedangkan Nahdlatut Tujjar memilih fokus pada dakwah ekonomi.
“Dalam bidang ekonomi, pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari juga menyerukan ‘Wahai pemuda putera bangsa yang cerdas pandai dan para ustadz yang mulia, mengapa kalian tidak mendirikan saja suatu badan ekonomi yang beroperasi, dimana setiap kota terdapat satu badan usaha yang otonom’,” katanya.
Bahkan, dalam Statuen NU juga termaktub pada Fatsal 3 poin f: “Mendirikan badan-badan oentoek memadjoekan oeroesan pertanian, perniagaan dan peroesahaan jang tiada dilarang oleh sjara’ Agama Islam”.
“Ini artinya sangat jelas bahwa NU memiliki mandat agar lebih memperhatikan sektor-sektor penggerak ekonomi keumatan. Sejak awal, peran Nahdlatut Tujjar dalam memberdayakan ekonomi umat mendapat dukungan dari para pendiri NU. Mereka adalah para pedagang atau sekurang-kurangnya mempunyai unit produksi yang membuat mereka bisa mandiri secara ekonomi,” katanya.
Diakui atau tidak, mayoritas penduduk Indonesia berada dalam kemiskinan dan mayoritas dari itu adalah warga Nahdiyyin yang berada di pedesaan. Ini adalah tantangan bagi NU untuk menancapkan peranannya dalam pemberdayaan ekonomi umat.
“Dalam kondisi masyarakat seperti ini, pengembangan ekonomi menjadi satu hal terpenting. Karena sabda Rasul SAW yang artinya ‘Kefakiran akan mendekatkan pada kekufuran’ mencerminkan bahwa dalam ekonomi islam, pemenuhan kebutuhan dasar (basic needs) akan sangat mempengaruhi keimanan dan keislaman seseorang,” katanya.
Mengutip berbagai sumber, ia menambahkan ikhtiar memberdayakan ekonomi ummat sangat penting, apalagi untuk organisasi seperti NU yang mempunyai massa sangat besar dan berbasis pesantren dan pedesaan.
“Pesantren menjadi aset besar bagi NU dalam rangka membangun ekonomi umat yang kuat tak mudah tergoyah oleh pengaruh global, sekaligus sebagai jawaban untuk tantangan ekonomi global. Begitu juga dengan masyarakat pedesaan. Dimana terdapat petani, nelayan, peternak dan lainnya yang manjadi sebuah aset tak ternilai,” katanya. (*/pna)



