Surabaya (Radar96.com) – Sosok Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari bukan semata tokoh panutan untuk orang NU, tapi juga panutan untuk seluruh kaum muslimin Indonesia. Hal itu terjadi karena kealiman dan keilmuan yang dimiliki oleh ulama pendiri Jamiyah NU itu benar-benar mumpuni. Sebagai contoh, beliau adalah pemegang sanad ke-24 Shahih Bukhari dari KH Mahfudz At-Turmusi dan Syaikh Abu Bakar Syatha’.
“Beliau inilah bapak umat Islam Indonesia yang sejati,” kata Dr H Muhibbin Zuhri, MAg, tokoh intelektual muda NU Kota Surabaya.
Pernyataan dosen UIN Sunan Ampel Surabaya itu disampaikan dalam acara dialog Harlah NU kontekstualisasi pemikiran dan nilai-nilai perjuangan Hadratus Syaikh KHM Hasyim Asy’ari oleh PAC Pergunu Waru di Masjid Besar Janti, Waru, Sidoarjo pada Ahad (06/02/22) siang tadi.
Selain hafal Kitab Shahih Bukhori dan pemegang sanadnya secara legal, Hadratus Syaikh juga pernah menjadi penasehat utama Lajnah Ahli-Ahli Hadis Indonesia yang beranggotakan para ulama dari seluruh Ormas Islam dan aliran yang ada di negeri ini pada awal abad 20.
“Banyak ulama lain mengambil rujukan dari beliau, tapi ya itu, kadang ada yang kurang jujur,” jelas alumnus Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang itu. Sebagai contoh, ada penceramah dari ibukota yang menukil pendapat beliau tentang kritik beliau pada ajaran Syiah Rafidlah. Penceramah itu mengutip kalimat tersebut, tapi berhenti sampai di situ. Padahal sejatinya belum selesai. Hadratus Syaikh juga mengkritik ajaran yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahab (Wahabi), Rasyid Ridho dan Muhammad Abduh.
Ketika masa akhir penjajahan Belanda umat Islam membentuk satu wadah bernama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang beranggotakan 13 organisasi Islam, Hadratus Syaikh dipercaya sebagai Ketua Badan Legislatif lembaga tersebut.
Ketika masa penjajahan Jepang MIAI dibubarkan dan diganti Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Hadratus Syaikh dipercaya sebagai pemimpin tertingginya.
Selain ahli Hadis, Hadratus Syaikh juga seorang yang alim fikih. Hal itu dapat dilihat dari keputusan beliau tentang fatwa jihad yang dikeluarkan di Tebuireng pada Oktober 1945. Betapa dasar fatwa itu sebenarnya sangat pelik. Membuat keputusan perang jihad fi sabilillah, seluruh kaum muslimin yang berada dalam radius 94 kilometer fardlu ain untuk ikut berperang, dan yang berada di luar itu dihukumi fardlu kifayah, padahal nash fikihnya belum ada. Termasuk ketika utusan Presiden Soekarno menanyakan bagaimana hukum berperang melawan Belanda (bukan orang kafir), yang dijawab fardlu ain, dan jawaban itu dijadikan dasar oleh sang Presiden.
“Itu rentetan fikihnya njelimet. Dari bab shalat ditarik ke bab jihad. Kalau tidak benar-benar alim dan arif, tidak akan bisa itu,” lanjut Muhibbin Zuhri.



