Oleh Emye *)
Menjelang Kongres XX IPNU dan Kongres XIX IPPNU di NTB pada 23-26 Juni 2022, eksistensi IPNU-IPPNU di perguruan tinggi melalui PKPT (pimpinan komisariat perguruan tinggi) pun dipersoalkan, karena dianggap IPNU-IPPNU tidak fokus ke dunia pelajar, sehingga radikalisme di kalangan pelajar pun marak.
Dalam Debat Kandidat Calon Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) di Gedung PBNU Jakarta Pusat (14/4/2022), Wakil Ketua Umum PBNU, H. Nusron Wahid menyampaikan bahwa PBNU ingin IPNU-IPPNU fokus pada pelajar, tidak perlu ada komisariat di kampus.
Benarkah demikian? Pernyataan PBNU itu sangat positif, karena PBNU akhirnya menunjukkan perhatian pada segmen pelajar. Namun, benarkah IPNU tidak memiliki perhatian kepada kalangan pelajar dan hanya membidik dunia kampus? Lantas, radikalisme di kalangan pelajar itu kesalahan IPNU?
Realitasnya, IPNU sudah memiliki lembaga/departemen yang menaungi segmen IPNU yaitu Departemen Jaringan Sekolah dan Pesantren serta ada Lembaga Komunikasi Perguruan Tinggi (LKPT), sehingga tidak benar bila dianggap IPNU tidak fokus pada dunia pelajar dan hanya fokus ke dunia kampus.
Dengan departemen/lembaga itu di IPNU berarti IPNU memiliki tiga segmen, yakni pelajar sekolah (siswa-siswi), pelajar Perguruan Tinggi (Mahasiswa), dan pelajar Pondok Pesantren (Santri), jadi IPNU secara kelembagaan tetap punya fokus di dunia sekolah, atau salah satu dari tiga fokus garapan IPNU-IPPNU.
Bahkan, faktanya, Pimpinan Wilayah (PW) IPNU Jawa Timur sangat serius menggarap segmen pelajar dengan memperkuat 254 Komisariat Sekolah yang sudah dikembangkan melalui MoU (nota kesepahaman) bersama LP Ma’arif NU, Kemenag, dan Dinas Pendidikan.
“Alhamdulillah, keseriusan kami dalam menggarap segmen pelajar di sekolah swasta maupun negeri yang ada di Jawa Timur ini sudah mencapai titik serius dan maksimal,” kata Wakil Ketua Bidang Jaringan Sekolah PW IPNU Jatim, Aan Andri Ardiyansah, di Surabaya, Ahad (17/04/2022).
Informasi itu dibenarkan seorang pengurus LP Ma’arif NU Jatim yang juga mantan aktivis IPNU bahwa LP Ma’arif sudah mendampingi Komisariat Sekolah dengan PW IPNU dan PW IPPNU yang sekarang tercatat ada 254 Komisariat binaan yang akan terus dikembangkan melalui Instruksi LP Ma’arif NU dan dinas terkait dengan target 2.000 komisariat.
Menurut Wakil Ketua Bidang Jaringan Sekolah PW IPNU Jatim, Aan Andri Ardiyansah, pelajar merupakan wahana untuk menyelami segala bentuk potensi diri yang ada di setiap individu dan pelajar juga merupakan manifestasi pemimpin bangsa di masa yang akan datang.
“Untuk menumbuhkan kreativitas, inovasi, dan progresivitas pelajar Nahdlatul Ulama (NU) di masa yang akan datang, maka kami mengembangkan komisariat, baik di sekolah, kampus, maupun pesantren, baik sekolah dalam naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Kementerian Agama, atau Dinas Pendidikan, melalui MoU,” katanya.
Pelajar asal Babat itu juga memaparkan bukti lain dari keseriusan PW IPNU Jatim adalah menerbitkan buku pedoman komisariat sebagai bukti keseriusan untuk menggarap segmen pelajar. (https://ipnujatim.or.id/ipnu-jatim-serius-garap-pimpinan-komisariat-sekolah-bahkan-telah-mou-dengan-dinas-terkait/)
“Kami juga sudah membuat gerakan pendamping belajar bagi para pelajar dengan program ‘IPNU EDUCARE’ dan berhasil membuat gerakan 2.000 Komisariat IPNU secara masif di sekolah swasta maupun negeri yang ada di Jawa Timur dengan gerakan IPNU back to school dan IPPNU back up school,” tandasnya.
Pimpinan Komisariat merupakan ujung tombak IPNU dalam sekolah formal. Bahkan, IPNU hadir sebagai wadah kaderisasi, sekaligus sebagai percepatan kreativitas dan inovasi untuk kadernya. “Departemen Jaringan Sekolah PW IPNU Jawa Timur berharap gerak IPNU di sekolah formal semakin masif. Itu sesuai amanah PBNU, jadi kami wajib serius,” jelasnya.
Bukan Abaikan Sekolah
Aan juga mengatakan bahwa IPNU di sekolah nantinya akan berorientasi untuk membantu sekolah dalam mengembangkan skill/keterampilan siswa. Selain itu, IPNU juga berorientasi untuk menyiapkan regenerasi kepemimpinan NU di masa depan.
“Kalau akhirnya IPNU juga mengembangkan Komisariat di Perguruan Tinggi/Universitas, bukan berarti IPNU mengabaikan Pelajar, karena data-data yang ada merupakan bukti keseriusan IPNU menggarap segmen pelajar. Kalau pun dikembangkan ke Universitas berarti IPNU juga mulai diminati pada segmen pelajar di universitas dan santri-santri di pesantren,” katanya.
Khusus komisariat sekolah, memang perlu ada penekanan dan instruksi yang kuat dari banom yang membawahi sekolah-sekolah Maarif, ataupun jika terkait pondok pesantren adalah RMI NU. Memang dari atas mungkin saja sudah ada kesepakatan dengan LP Maarif ataupun dengan RMI, tapi apakah kesepakatan itu sampai kebawah bahkan ditingkat cabang?
Jadi, persoalan sebenarnya bukan pada PKPT yang sekarang mulai naik daun, dan angin pun semakin kencang menerpa, namun bagaimana sinergi IPNU-IPPNU dengan LP Ma’arif, RMI, dan Diknas semakin diperkuat dari tingkat PBNU hingga PCNU untuk memperkuat komisariat di sekolah, bukan sekadar menyoal IPNU-IPPNU yang ada di kampus.
Apalagi, bila persoalannya dikaitkan dengan radikalisme justru apa yang dilakukan IPNU-IPPNU sekarang sudah tepat sasaran, karena radikalisme pelajar atau milenial itu sesungguhnya ada pada tiga titik yakni sekolah, kampus, dan dunia maya. Bukan hanya sekolah.
Jadi, IPNU-IPPNU pun sudah menyasar ketiganya dalam kaitan radikalisasi di kalangan milenial. Jika PKPT diberangus justru akan menumbuhkan radikalisme di dunia kampus, padahal kader-kader IPNU-IPPNU di kampus sudah memiliki nama yang dapat menangkal radikalisme di kampus.
Lebih dari itu, kader PKPT juga dapat mewarnai dan menjadi nyawa baru dalam pengembangan organisasi IPNU di tingkatan lain, khususnya di daerah, di sekolah, dan di pesantren. Jadi, persoalannya adalah optimalisasi apa yang sudah ada dan bukan memberangus apa yang ada, karena itulah peran NU di masyarakat.
Lebih dari itu, IPNU dan IPPNU itu sesungguhnya merupakan “organisasi kader” di lingkungan NU yang justru akan mewarnai “Satu Abad NU” (1926-2026). Buktinya, sebelum NU mencanangkan pendidikan kader (MKNU/PKPNU), IPNU dan IPPNU sudah menjalankan sistem dan pola kaderisasi berjenjang dari Makesta, Lakmud, Lakmad, Lakut, Latpim, Latpel, dan pelatihan/kaderisasi lainnya yang berkaitan dengan minat dan bakat.
Oleh karena itu, Konferensi Besar (Konbes) NU di Pasar Baru, Jakarta Pusat, 20-22 Mei 2022, menjadi pertemuan penting bagi IPNU dan IPNU, karena konbes itu mengagendakan pembahasan tentang sistem kaderisasi terbaru di tubuh NU.
Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PBNU) Ulil Abshar Abdalla menjelaskan bahwa salah satu kebijakan di dalam sistem kaderisasi baru di tubuh NU adalah penjenjangan dan penyetaraan. Sistem kaderisasi yang berjenjang ini tidak terdapat pada pengaderan sebelumnya yakni Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) dan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU).
“Pengaderan di masa lalu hanya satu jenjang saja, padahal sudah sejak lama ada tuntutan penjenjangan tetapi belum juga terlaksana, sehingga pada kepengurusan PBNU saat inilah sistem itu akan direalisasikan.
Jadi namanya masih melanjutkan pengaderan sebelumnya. Hanya saja, kita bubuhkan atau sisipkan nama yang menunjukkan jenjangnya. Jadi PD-PKPNU untuk dasar, PKMNU untuk menengah. Kemudian tingkat tinggi, AKN-NU yang nanti mencetak para kader yang bisa menjadi pengurus di tingkat wilayah atau pun pengurus besar,” ungkap Gus Ulil di Jakarta (17/5/2022).
Selain ada penjenjangan, kaderisasi NU yang baru ini akan menerapkan sistem muadalah atau penyetaraan. Dengan kata lain, tegas Gus Ulil, ada pengakuan terhadap semua pengaderan yang ada di badan otonom maupun lembaga-lembaga NU seperti pesantren. Bahkan, setelah sistem kaderisasi baru diluncurkan atau diputuskan di dalam Konbes NU 2022 pada akhir pekan ini, maka tidak lantas meniadakan para kader di seluruh Indonesia yang sudah mengikuti pengaderan di PKPNU dan MKNU.
Alhamdulillah, pengaderan yang telah ditempuh para kader NU yang sudah berlangsung pada masa lalu tidak menjadi sia-sia.
*) Penulis adalah kader IPNU Jatim yang alumni Diklat Pers IV IPNU Jatim



