Ponorogo, radar96.com – Dr. Adnan Sohail, seorang pegiat kemanusiaan dari London turut menjadi salah satu pembicara dalam acara SIIR SANTREN 2 yang diselenggarakan oleh PC ISNU Ponorogo, Sabtu (5/10/2024).
Dr. Adnan Sohail sendiri adalah seorang Direktur Operasional di Minhaj Welfare Foundation di London.
Beliau aktif dalam inisiatif kemanusiaan yang bertujuan untuk mendukung masyarakat yang kurang mampu, baik secara lokal maupun global.
Dalam materi singkatnya via zoom pada acara 2nd SIIR SANTREN oleh PC ISNU Ponorogo di Pendopo Ponorogo, ia menyampaikan beberapa hal mengenai sejarah bagaimana Islam datang ke Inggris.
“Muslim di sana (Inggris) berasal dari Asia Tenggara dan sebagian lagi berasal dari Pakistan, Bangladesh, dan India,” terangnya
Dr. Sohail menuturkan bahwa masjid pertama di Inggris dibangun di Liu.
“Dulu, masjid di Inggris sangat sempit dan hanya cukup memuat sekitar 50 orang, sehingga orang-orang yang hendak berdoa mereka memilih di luar halaman yang luas,” imbuhnya.
Dalam perkembangannya, di Inggris akhirnya didirikan sekolah seperti madrasah guna meningkatkan pendidikan Islam.
“Sekarang, ketika umat Muslim datang ke Inggris mereka ingin meningkatkan pendidikan, maka mereka mendirikan sesuatu yang disebut sebagai madrasah malam,” pungkasnya.
Pesantren Malaysia
Sementara itu, Dekan Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia Prof. Ahmad Sunawari Long membahas problematika pendidikan pesantren saat menjadi spesial panel dalam 2nd Siir Santren 2024 PC ISNU Ponorogo yang bersinergi dengan ISNU Jatim itu (5/10/2024).
Di Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo, dia mengatakan setidaknya ada 3 problem utama yang harus dihadapi pendidikan berbasis Pondok (pesantren, red) yang dihadapi di negara Malaysia.
“Setidaknya di Malaysia, perspektif negatif yang berkembang ini diantaranya bahwa pondok (pesantren, red) ini diisi oleh anak yang tidak boleh (tidak mampu, red) masuk di sekolah yang lebih baik. Selanjutnya Pondok ini diisi oleh anak-anak yang sukar (susah) diatur oleh orang tua mereka. Dan yang terakhir ada Case (kasus, red) asusila yang berlaku (terjadi, red) di sekolah-sekolah Pondok,” ucapnya.
Meskipun demikian, Sebelum penjajah datang dia menyatakan anak-anak di Malaysia akan malu jika tidak bisa menulis aksara jawi (pegon, red) di umur 7 tahun.
“Sebelum dijajah, anak-anak di Malaysia malu jika di usia 7 tahun tidak bisa nulis aksara jawi (pegon, red),” lanjutnya.
Hingga saat ini, kata Prof. Ahmad Sunawari Long sudah ada lebih dari 100 buah pondok pesantren yang masih ada di Malaysia dan kebanyakan terletak di utara negara Malaysia itu di Kedah, Kelantan, dan Trengganu.
Lebih jauh, Sistem Pondok yang ada di Malaysia saat ini sudah hampir punah tergantikan Sekolah Tahfidz. Stigma yang berkembang adalah sekolah Pondok itu Kuno, tidak Modern, dan Tradisional.
Diapun menambahkan bahwa rakyat Indonesia beruntung hanya memiliki sekolah yang menggunakan 1 bahasa saja.
“Pada penjajahan, sekolah di Malaysia ada banyak sistem, Sekolah kebangsaan menggunakan bahasa melayu, sekolah Cina menggunakan bahasa Cina, dan sekolah tameang yang menggunakan bahasa tameang. Beruntunglah Indonesia karena hanya ada 1 sistem sekolah yang menggunakan 1 bahasa yaitu bahasa Indonesia,” ungkapnya.
Maka, Saat Malaysia merdeka, para orang tua disana mulai enggan menyekolahkan anaknya di Sekolah Pondok (Pesantren, red) karena ingin anaknya bisa berbahasa Inggris.
Menyikapi hal ini, Pemerintah Diraja Malaysia setelah mendapat kemerdekaan pada 1957 mulai menata ulang sistem pendidikan yang ada.
“Lepas (setelah, red) merdeka, Pemerintah membagi sistem pendidikan. Kalau mau belajar agama pergi ke sekolah agama, kalau mau belajar sains pergi ke sekolah bukan agama,” tuturnya.
Diapun memaparkan beberapa masalah lain yang dihadapi sekolah pondok di Malaysia.
“Kekurangan Infrastruktur, Tidak mempunyai perpustakaan dan jaringan Wifi, kekurangan dana, kekurangan tenaga pengajar,” paparnya.
Diapun memberi gagasan tentang pengembangan sistem pendidikan pondok yang ada di Malaysia.
“Ada beberapa yakni Meningkatkan kualitas dan image, meningkatkan infrastruktur, Akreditasi, dan audit seperti sekolah-sekolah yang lain,” tutupnya.
Kegiatan 2nd SIIR SANTREN PC ISNU Ponorogo dalam rangkaian Hari Santri Nasional 2024 bertajuk “Simposium Pemikiran Santri & Khazanah Pesantren Nusantara”.
Acara ini merupakan SIIR SANTREN kedua yang berhasil diselenggarakan oleh PC ISNU Ponorogo dan berkolaborasi dengan PW ISNU Jawa Timur. Sebelumnya, SIIR SANTREN pertama diselenggarakan tahun lalu pada 28-29 Oktober 2023.
Kali ini, acara 2nd SIIR SANTREN merupakan simposium internasional yang melibatkan pembicara luar biasa dan melibatkan panelis dari berbagai universitas ternama di dunia.
Melibatkan tokoh-tokoh ternama di antaranya Prof. (HC). Dr. Ali Masykur Musa, M.Si., M.Hum (Ketua PP ISNU), Prof. M. Mas’ud Sa’id, MM., Ph.D (Ketua PW ISNU Jawa Timur), dan Ir. Joko Irianto, M.Si (Pjs Bupati Ponorogo).
Serta para speaker spesial di antaranya Prof. Mag. Dr. Rudiger Lohlker (University of Viena-Austria), Dr. Adnan Sohail (Minhaj Welfare Foundation, London), dan Prof. Ahmad Sunawari Long (University Kebangsaan Malaysia).
Rangkaian acara 2nd SIIR SANTREN ini di antaranya yakni pelantikan pengurus PAC ISNU se-Kabupaten Ponorogo, panel session penulisan artikel ilmiah, serta launching buku Antologi ‘Trejectory Visi Kemanusiaan Sarjana NU’ dan ‘Resep Masakan Halal ala ISNU Ponorogo’. Semuanya tersusun rapi dalam satu rangkaian acara 2nd SIIR SANTREN ini.
Selanjutnya, Pengurus PAC ISNU se-Kabupaten Ponorogo dilantik langsung oleh PW ISNU Jawa Timur. Pelantikan pengurus ini menjadi ikhtiar PC ISNU Ponorogo dalam meneruskan jejak kepengurusan ISNU serta menggali potensi para sarjana Nahdlatul Ulama di Ponorogo.
Diharapkan atas dilantiknya PAC ISNU se-Kabupaten Ponorogo ini dapat bermanfaat bagi umat.
Prof. H.M. Mas’ud Sa’id, MM., Ph.D selaku ketua PW ISNU Jawa Timur dalam sambutannya mengatakan kebanggaan atas terselenggaranya acara ini.
“Saya bangga atas adanya pelantikan PAC ISNU se-Kabupaten Ponorogo, semoga semakin memperkuat kader-kader khususnya di Ponorogo. ISNU harus ditopang kader muda dengan berbagai potensinya, serta mampu menghadapi tantangan internal dan eksternal,” ungkapnya.
Selanjutnya, simposium internasional dengan tema “Simposium Pemikiran Santri & Khazanah Pesantren Nusantara” ini digelar untuk mewadahi potensi para santri dalam menuangkan pemikiran serta karya dalam bentuk artikel ilmiah.
“ISNU itu cendekiawan, ISNU itu pemikir, ISNU itu orang-orang hebat yang meneruskan dunia literasi di Indonesia,” pungkas Prof. Mas’ud Sa’id dalam .
Simposium Internasional 2nd SIIR SANTREN dibuka oleh speaker pertama yakni Prof. Ahmad Sunawari Long dari University Kebangsaan Malaysia yang mengangkat tema tentang ‘Pondok (Pesantren) dan Pendidikan Islam di Malaysia’
Dalam penjelasannya, disebutkan bahwa guru pondok di Malaysia menentang penjajah British dan menggerakkan perjuangan menentang kuasa kolonial. Meskipun dengan berbagai kekurangan seperti infrastruktur, dana hingga tenaga pengajar, namun tetap berusaha menyusun dengan rapi segala aspek yang menunjang kemajuan pondok di sana.
Speaker kedua yakni Dr. Adnan Sohail dari Minhaj Welfare Foundation, London dan dilanjutkan dengan speaker terakhir yakni Prof. Mag. Dr. Rudiger Lohlker dari University of Viena-Austria.
Kedua speaker ini hadir melalui via zoom yang bisa dilihat serta didengar oleh seluruh peserta di Pendopo Agung.
Seluruh rangkaian acara 2nd SIIR SANTREN ini bertajuk “Simposium Pemikiran Santri & Khazanah Pesantren Nusantara” ini berjalan dengan lancar dan sukses dari pagi hingga siang hari.
Setelah acara yang dilaksanakan di Pendopo Agung Ponorogo, masih akan dilanjutkan dengan diskusi panel pada siang hari setelah dzuhur, di mana 60 tulisan akan dipresentasikan di depan panelis dan berlokasi di Kampus INSURI Ponorogo. (*/isnu)
Sumber:
https://aswajanews.isnuponorogo.org/2024/10/05/terbang-dari-malaysia-prof-ahmad-sunawari-long-bicara-problematika-pendidikan-pesantren-saat-hadiri-2nd-siir-santren-2024-ponorogo/



