Oleh Yusuf Amrozi *)
Demikian ungkapan Sahabat H. Imam Nahrowi pada mauidhoh Silaturahim, Buka Puasa Bersama dan Santunan Anak Yatim yang digelar oleh PW Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKAPMII) Jawa Timur di Graha Pergerakan, kompleks Kampus Universitas Sunan Giri (UNSURI) pada Sabtu, 22-3-2025.
Hadir pada acara ini para pengurus IKAPMII Jatim maupun IKAPMII Cabang di Jatim serta sejumlah aktivis dan kader PMII. Yang saya kenal dan ingat, hadir pada kesempatan ini misalnya Ketum Thoriqul Haq, Sekum Ari Kusuma, Sahabat Muchit Effendi, Choliq Baya, Muslih Hasyim, Abid, Nuri, Fahrudin.
Sementara yang dari luar Surabaya misalnya Cak Din Tulungagung, Adib Makarim, Fajar, Taufiq Mbah, dan sahabat-sahabat yang lain. Acara begitu meriah dengan adanya santunan Anak Yatim ini. Kegiatan juga begitu gayeng seolah tidak ingin segera buyar sebagai petanda rasa kangen yang begitu mendalam antar sahabat-sahabat pergerakan ini.
Banyak untaian mutiara hikmah yang disampaikan oleh Sahabat Nahrowi. Ungkapan yang disampaikan begitu berbobot walaupun melalui bahasa yang ger-geran. Hal ini seolah menjadi pemikiran reflektif beliau selama di puncak kejayaan sebagai Menteri maupun pada titik nadir perjalanan hidup beliau.
Selepas “keluar” dari Bandung, beliau banyak keliling berkunjung ke sahabat dan kolega untuk menyambung tali silaturrahim. Dengan demikian, ungkapan beliau: “bahwa hidup masih koma, belum titik. Maka berusahalah…! Apapun itu. Entah belum sukses jadi bupati, gagal jadi dewan atau belum tercapai impian atau asanya, hal itu masih koma. Masih ada kesempatan asal terus mencoba. Kegagalan masa lalu menjadi media pembelajaran untuk bagaimana menentukan cara atau strategi untuk meraihnya kembali”, tegasnya.
Apa yang disampaikan oleh Mas Nahrowi ini saya jadi ingat dengan buku yang pernah dikarang oleh Prof. Dr. KH. Muhammad Ali Aziz, MAg (Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya) yang judulnya sama persis: “Hidup Masih Koma, Belum Titik”.
Prof. Ali Aziz dalam bukunya tersebut mewanti-wanti agar waspada. Walaupun tidak ada cahaya yang bisa menandingi cahaya matahari, namun jangan lengah, karena saatnya akan tiba saatnya malam hari. Tetapi tetap optimislah untuk esok hari yang lebih baik.
Ungkapan yang memotivasi kita dari Al-Qur’an cukup banyak, misalnya pada Surah Ar-Ra’d: 11 Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.
Di surah yang lain pada Surah Al-Insyirah: 6-7 disebutkan bahwa: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”.
Bahkan pada Surah Al-Baqarah:286; “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
Oleh sebab itu pilihannya sebenarnya ada pada kita, apakah kita tetap sabar dan tawakal dalam menghadapi hidup dengan segala romantika, suka dan dukanya, atau terus merasa terperangkap dalam lubang kesedihan manakala kita sedang dalam kondisi titik nadir yang dibawah.
Sekelam apapun, seyogyanya kita harus untuk bisa tampil tersenyum. Oleh karena itu diantara sahabat harus saling membahagiakan. Memang hal ini tidak mudah. Oleh sebab itu keluh kesah dengan sharing dengan sesama sahabat menjadi semangat untuk bangkit dari keterpurukan.
Ada seorang psikolog terkenal yang bernama Sheldon Cohen. Dia salah satu orang yang memunculkan Teori Dukungan Sosial. Teori Dukungan Sosial atau Social Support Theory yang berupa dukungan emosional, informasi, atau nasehat dari teman atau orang terdekat dapat memberikan motivasi untuk tetap survive. Hal ini adalah motivasi yang timbul dari rasa diterima dan dikuatkan oleh lingkungan sosial sekitar.
Cohen mendefinisikan itu sebagai bentuk dukungan sosial yang berupa sumberdaya yang disediakan oleh orang lain yang dapat memengaruhi semangat dan kinerja seseorang.
Maka dari apa yang disampaikan oleh Sahabat Imam Nahrowi diatas sudah sangat betul, termasuk forum-forum silaturahim, reuni, pertemuan antar sahabat dan kolega adalah dalam kerangka untuk memberi Social Support tersebut.
Bagi saya Mas Imam Nahrowi cukup spesial. Saat saya Ketua PMII Komisariat Universitas Islam Malang (UNISMA), beliau Ketua Umum Kordinator Cabang PMII Jawa Timur. Sekitar awal tahun 1998 menjelang reformasi itu, kami di Komisariat UNISMA mengadakan MAPABA (Masa Orientasi Anggota Baru). Dengan kesahajaannya, beliau berkenan hadir bersama Ketua Korp PMII Putri Jatim saat itu dan menjadi pembicara kegiatan MAPABA tersebut.
Yang saya ingat, panitia memberi transport yang mungkin sangat ngepres dengan ongkos bis Surabaya-Malang saat itu, hehe. Tetapi selepas itu saya menjadi sering bertandang ke Surabaya dari Malang, ke kantor PMII Korcab atau ke sahabat sahabat PMII Surabaya. Dan Mas Imam sering memberi sangu untuk tambahan pulang. Dari akibat pengalaman riwa riwi silaturrahim tersebut, singkat kata saya Alhamdulillah pernah menjadi Ketua 1 PMII Jawa Timur dan hari ini tinggal di Surabaya.
Garis takdir saya berkhidmah di UIN Sunan Ampel Surabaya. (*)
*) Penulis adalah Wakil Ketua LPTNU Jatim



