Sidoarjo, radar96.com – Empat anggota Forum Alumni (FA) Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Jawa Timur menghadiri Sarasehan dan Rembuk Majelis Alumni (MA) IPNU se-Jatim di Sidoarjo (4/5) yakni Hj Liliana Agustin, Hj Anik Maslachah, Yulia Istianah (Ketua FA IPPN Jatim) dan dua orang rekanita lainnya.
“Kader NU ke depan harus memperkuat ideologisasi, sinergi/jejaring dengan berbagai pihak, dan profesionalitas program, apalagi ada sinergi jejaring antara alumni IPNU dan IPPNU. Semoga,” kata alumni IPPNU Jatim Hj Anik Maslachah yang juga Ketua Komisi B DPRD Jatim dalam sambutan mewakili FA IPPNU Jatim pada Rembuk Alumni IPNU se-Jatim itu.

Hadir dalam rembuk alumni IPNU Jatim yang berlangsung meriah dan penuh keakraban itu antara lain Wakil Sekjen PBNU H Nur Hidayat, Sekjen Presidium MA IPNU Pusat Prof Dr KH Asrorun Ni’am Sholeh, Ketua MA IPNU Jatim KH Abdul Hamid Wahid MAg yang juga Bupati Bondowoso, Bupati Blora Dr H Arief Rahman, Komisaris Chatour Travel Muhibbin Billah, seratusan pengurus dan anggota dari berbagai daerah.
Dalam rembuk tersebut, Prof Ni’am banyak menceritakan tentang pentingnya majelis alumni sebagai sarana penyambung silaturahim bagi sesama mantan pengurus. Apalagi, data MA IPNU Jatim mencatat saat ini ada 47 anggota MA yang menjadi anggota DPRD dan 6 orang menjadi pimpinan daerah di Jatim.
“Dengan bertemu, akan ada obrolan dan dari obrolan akan ada ide. Kalau tidak pernah bertemu lalu ada isu dan tidak terklarifikasi, bisa pecah kongsi, teman dekat sesama pengurus pun bisa saling bermusuhan,” kata kata Kiai Ni’am yang juga Ketua MUI Pusat Bidang Fatwa itu.
Menurut Kiai Ni’am, meski sudah di zaman era digital canggih seperti sekarang, pertemuan fisik tetaplah penting. Teknologi belum dapat menggantikan rasa. Seperti orang yang mengirim gambar orang sedang ngopi bersama, maka gambarnya memang bisa diterima, tapi rasa ngopinya belum bisa didapatkan.
“Jadi pertemuan fisik tetaplah sangat penting dan belum tergantikan oleh teknologi, karena dari ketemu fisik akan ketemu hati. Ada sambung ruhaniyah. Dari silaturahim akan ada tawasul (persambungan), dari tawasul akan ada taakhi (persaudaraan), dari taakhi akan ada tanasur (saling menolong), dan dari tanasur akan jadi takaful dan tadlamun (saling menanggung),” katanya.
Dalam rembuk itu juga diluncurkan program Umroh Bareng Alumni IPNU pada Hari Santri Nasional (HSN) 2025 dan juga buku obituari “Sholihun Hayat, Sholihun Mamat – Teladan Kesalehan KH Sholeh Hayat” yang ditulis Tim Penulis PWNU Jatim. Rencananya, edisi revisi buku obituari itu akan diterbitkan MA IPNU Jatim. (*/fa)



