Surabaya, radar96.com – Pengasuh Pesantren Al-Azhar Mojokerto, Ning Uswah Syauqie, yang juga penulis buku “Jodoh Di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian” mengungkap cara “lobi” (lobby/lobian/merayu) Tuhan terkait takdir dalam persoalan jodoh. Hal itu diungkap dalam Bedah Buku karyanya itu di Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya (24/1).
“Buya saya hanya minta calon suami saya dari kalangan pesantren, tapi beliau pasrah ke Ibu. Nah, ibu yang agak detail terkait pekerjaan, keluarga, dan lainnya, lalu Buya menyarankan saya istikhoroh, tapi akhirnya saya lobi Tuhan lewat Sholat Hajat,” katanya dalam bedah buku yang diselenggarakan Departemen Pemberdayaan Pemuda dan Remaja PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jatim pada akhir pekan itu.
Dalam acara yang dibuka Ketua PW DMI Jatim DR KHM Sudjak MAg dan dihadiri Sekretaris PW DMI Jatim H Suhadi serta DR Ahmad Fauzi Palestin dari Departemen Kepemudaan DMI Jatim, Ning Uswah Syauqie sebagai penulis buku dan aktivis literasi itu menjelaskan jodoh itu takdir yang sudah ditentukan Tuhan seperti rezeki dan umur.




“Tapi, takdir yang sudah ditentukan itu juga masih ditentukan ikhtiar juga. Bisa saja, Tuhan memberi kita jodoh ABCDE, nah kita bisa memilih sesuai jalan yang kita pilih, apakah lewat hobi, lewat aktivitas organisasi, lewat KKN di kampus, atau lainnya. Bisa juga kita dijodohkan dengan A, tapi caranya bisa seperti kita ditakdirkan rezeki Rp100 ribu, yang bisa lewat usaha, utang, atau menemukan uang tersisa di baju cucian,” katanya.
Alumni S1 UINSA, S2 Unsuri, dan S3 Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto itu menyebut ikhtiar sebagai jalur “lobian” (lobby), yang bisa merupakan jalur yang baik dan diridhai Tuhan, tapi bisa juga jalur yang tidak baik. “Hasilnya bisa sempurna dengan ikhtiar penuh perjuangan, jadi Tuhan itu menghargai ikhtiar kita. Kita kan penganut Al Asy’ariyah wal Maturidiyah, nggak terlalu pasrah kayak Jabariyah, tapi juga nggak terlalu berusaha kayak Qodariyah, kita tetap moderat, percaya takdir dan juga ikhtiar. Tuhan Maha Demokratis,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Ning Uswah mencontohkan pengalaman pribadi sebagai keluarga besar pesantren di Sidoresmo, Surabaya, atau Bani Basyaiban. “Keluarga Sidoresmo itu kental dengan adat tahun 1960-an, meski sekarang sudah tahun 2000-an, terutama adat dijodohkan, apakah dengan saudara sepupu atau dua pupu, untuk mempertahankan darah biru,” katanya.
Namun, dirinya mungkin agak “gila”, karena itu dirinya sempat mencegah perjodohan kakaknya. “Sidoresmo itu terlalu banyak macan, tapi lahan sempit, sehingga sulit berkembang. Perjodohan itu sebenarnya nggak salah kalau orang tua mencari menantu yang sekufu, tapi bisa salah kalau orang tua ada kepentingan benefit/utang. Akhirnya, saya tawarkan teman kuliah untuk kakak saya dan diterima,” katanya.
Namun, dirinya juga dijodohkan dengan yang sekufu, tapi dirinya menolak. “Saya nemu jodoh di warkop, bukan di pesantren. Saya antre di warkop, saya nggak dilayani. Ada cowok yang datang langsung dilayani. Saya tarik kopi, lalu saya seruput. Lho ini, pas saya datang ke warkop lagi, cowok itu langsung menyebut kalau saya adalah cewek yang minum kopinya, akhirnya kenalan, lalu jadian,” katanya.
Selanjutnya, dirinya mencoba menawarkan ke orang tua. “Buya tanya, dia lulusan pondok mana? Ibu juga tanya, kerja dimana? Setelah saya tanyakan, ternyata dia alumni Tambakberas dan Grobogan. Buya langsung bilang agar calon menantu itu disuruh ke rumah. Soal kerja, ibu agak berat menerima karena hanya jualan sepatu dan pulsa, sehingga baru gol dengan ibu setelah dua tahunan. Akhirnya, Buya bilang agar saya istikhoroh, saya justru memilih lobi Tuhan lewat Sholat Hajat, bukan istikhoroh,” katanya.
Ketika menikah, ia mengaku mendapat bonus banyak, karena ternyata sang suami itu putera kiai di Mojokerto. “Ketika kita fokus ke karakter seseorang, maka kita mendapat bonus banyak. Jadi,saya keluar dari zona nyaman di Sidoresmo, karena banyak guru-guru saya saat muda, sehingga saya keluar justru cari zona nyaman lain yang membuat saya tidak segan dengan guru-guru saya semasa muda. Kalau saya tetap di Sidoresmo, saya nggak bisa berkembang, jago kandang, karena harokah/Gerak, maka saya berkembang dan bisa bikin buku,” katanya.
Namun, ia menegaskan bahwa isi buku karyanya yang mengungkapkan proses pra-nikah hanya 30-40 persen, sedangkan sisanya justru banyak tentang saat menikah hingga pasca-nikah, karena menikah itu bukan menyatukan dua sosok tapi menyatukan dua keluarga, sehingga bisa saja rumah tangga menjadi rumah duka, karena suami utamakan ibu/keluarga.
“ Tujuan menikah itu sakinah/tenang, Mawaddah/support, dan Rohmah/kasih sayang. Sakinah itu biasanya pada awal menikah, sedang Mawaddah itu wujud cinta dengan saling support, termasuk mencintai kekurangan dan mencintai kelebihan tanpa merasa kalah saingan. Yang paling bagus adalah Rohmah atau kasih sayang, karena rohmah itu empati yang bisa menjadikan pernikahan awet hingga surga. Empati itu terwujud karena menikah dijadikan sarana ibadah, sehingga ada barokah dan berlanjut ke Jannah/surga,” katanya. (*/dmi)



