Surabaya, radar96.com – Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur) Riadi Ngasiran menilai penggerak akun di media sosial (medsos) saat ini masih asal “njeplak” (bicara tanpa kompetensi/data).
“Persoalan kita sekarang, orang yang bergerak di medsos belum semua melek media sehingga derajat kebenarannya meragukan, kalau istilah orang Surabaya itu masih asal njeplak, ngomong politik tanpa paham politik, nggak ekspert/kompeten, asal clomet/celoteh,” katanya di Surabaya, Sabtu (28/2) malam.

Saat berbicara dalam Ngaji Kentong Ramadhan 1447 H PWNU Jatim bertema “Literasi dan Kreativitas, Kontemplasi di Arus Deras Informasi” bersama Afif Hidayatul MH (aktivis Gerakan Literasi Lesbumi PWNU Jatim), Riadi menjelaskan
gaya bicara yang tidak kompeten itu cenderung olok-olok, bukan kritik.
“Untuk itu, kita sebagai manusia yang diberi kemampuan berpikir, mari kita manfaatkan Ramadhan untuk jeda dan melakukan kontemplasi di tengah arus informasi, kita teladani kiai-kiai yang sejak dulu suka menulis, karena itu jangan hanya mengonsumsi HP tanpa menulis yang kreatif,” katanya.
Ia mencontohkan Taman Bungkul di Surabaya bisa diceritakan dari banyak sisi, baik lokasinya maupun kuliner yang ada. “Cara paling mudah untuk kreatif dan bukan hanya konsumen adalah kembangkan imajinasi. Bisa juga dengan membuat catatan harian dan ikuti ruang diskusi, misalnya di kafe,” katanya.
Hal yang sama juga ditegaskan Afif Hidayatul MH selaku aktivis Gerakan Literasi Lesbumi PWNU Jatim. “Sebenarnya, anak-anak Gen Z atau Gen Alpha itu bukan malas baca tapi bacaannya hanya konten-konten singkat, karena itu perlu akses bacaan yang sesuai minat mereka, misalnya cerita yang diulas dengan kemasan gambar dan bahasa yang cocok,” katanya.
Ia menyarankan pola konsumsi media tanpa sadar dan kompetensi akan memudahkan terjebak hoaks. “Seperti soal mantan Menkeu Ibu Sri Mulyani yang sempat ramai, ternyata buatan AI. Ini tantangan, jangan telan mentah-mentah bacaan digital, mending bacaan fisik yang memiliki basis data,” katanya.
Dalam Ngaji Kentong Ramadhan 1447 H PWNU Jatim sebelumnya (27/2), Ketua Lembaga Wakaf dan Pertanahan (LWP) PWNU Jatim KH Shodiqun Karim SH MKn dan pengurus Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) PWNU Jatim DR Jamil SH MH juga menekankan bahwa dasar paling kuat secara hukum adalah bukti tertulis. (*/fpnu)



