By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Ibuku tersayang
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Kolom > Ibuku tersayang
Kolom

Ibuku tersayang

23/12/2023 Kolom
SHARE

Oleh Ahmad Inung

Ibuku tersayang,

Hari ini mereka bicara tentang gerakan perempuan. Biarlah! Aku tak memiliki bayangan perempuan tak bersosok. Perempuan yang ada di benakku adalah engkau, Ibu. Tak perlu berteriak agar tercatat dalam sejarah. Tak perlu mengepalkan tangan karena engkaulah sang Gerakan.

Ibuku tersayang,

Aku punya bayangan kecantikan, dan maaf, sejujurnya engkau tak masuk dalam kriteriaku. Apalagi kini engkau telah renta. Gigimu yang tinggal satu dua membuat wajahmu tidak lagi layak untuk dipuja seorang pria. Dua kali stroke membuat jalanmu tak seanggun para jelita. Dari mana aku bisa berdendang tentang kecantikan perempuan jika sejak dulu tak pernah kuingat engkau berdandan walau sekedar mengoles bedak tipis di wajah.

Tapi sungguh ibu, engkau tak perlu semua itu untuk membuatku selalu memujamu. Membayangkan wajahmu yang keriput itu membuat rinduku selalu tak tertahankan. Seperti perjaka yang tengah jatuh cinta, aku membayangkanmu setiap malam. Mengirimmu doa-doa bukan karena aku meragukan engkau disayang Tuhan, tapi lebih karena kecemburuanku jika ada detik di mana hatimu tidak mencintaiku.

Ibuku tersayang,

Aku ingat ketika kenakalan-kenakalanku membuatmu marah. Saat engkau mengajariku mengaji dan mengeja, karena kebodohanku terkadang membuatmu kecewa. Aku sungguh ketakutan di depanmu, Ibu. Tapi seberapa lama aku sanggup menjauh darimu? Kepada siapa aku harus berlindung dari kemarahanmu? Aku tidak memiliki langit selain engkau, Ibu. Aku hanya terpaku di depanmu sekeras apa pun aku menangis, karena kutahu, sedetik kemudian engkau akan memelukku. Suaramu melembut sambil mengusap-usap kepalaku dengan kasih seorang bidadari.

Ibuku tersayang,

Jika bukan engkau, aku tak akan mengerti makna cinta. Jika bukan engkau, aku tak akan mengerti rasa hormat terhadap perempuan. Jika bukan engkau, aku tak akan mengerti bahwa dunia ini harus kita hias dengan kasih sayang. Jika bukan engkau, Ibu, aku hanyalah remah-remah di antara kotoran jalanan. Ibu, aku tak pernah risau dengan makian jika cintamu kepadaku tak pernah henti engkau curahkan.

*) Penulis adalah Direktur Pendidikan Tinggu Keagamaan Islam pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI

*) Sumber: https://arina.id/mozaik/ar-QGWwc/ibuku-tersayang

Iklan.

You Might Also Like

Dewan Kesenian Bagian Spesifik dari Kebudayaan 

Konversi Energi Kedua Republik Indonesia: Amanat Penderitaan Rakyat Madura

Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar NU ke-35

Evaluasi Tanpa Intervensi: Ujian Kemandirian Muktamar NU

PERANG HORMUZ

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Wapres: Tugas Besar NU ada di pundak ISNU
Next Article Dies Natalis ke-54, SMKN 3 Surabaya Ajak Millenial Wayangan dan Kidungan dengan Cak Kartolo

Advertisement

Iklan.

Iklan.

Iklan.

Berita Terbaru

Pesantren Bayt Al-Hikmah dan Al Yasmin Siapkan Kolaborasi Program Penguatan Kompetensi Digital Santri
Milenial
MUI Jatim Kolaborasi dengan Pemkot Madiun, Kembangkan Ekonomi Kreatif Santri
Sospol
30 Mahasiswa UINSA Ikuti Lakmud Komisariat IPNU-IPPNU
Nahdliyyin
Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab: Haji itu soal Panggilan dan Mampu
Kultural

You Might also Like

KolomOpini

Mencari Isyarah Langit (Ketum PBNU)

25/04/2026
KolomNahdliyyin

KH Mutawakkil Mengundurkan Diri Dari MUI Jatim

24/04/2026
Kolom

Hardiknas dan Kebangkitan Intelektual Profesor Muslimat NU

24/04/2026
Kolom

Muktamar NU: ABUKTOR—Asal Bukan Koruptor

23/04/2026
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?