Surabaya, radar96.com – PW LP Ma’arif NU Jawa Timur bekerja sama dengan BKD Surabaya menyiapkan Kepala Madrasah (Kamad) menjadi Pemimpin Perubahan di Era Digital melalui Diklat Peningkatan Kompetensi Kepala Madrasah “Batch 1” di Surabaya yang berakhir, Rabu (25/2) pukul 15.00 WIB.
Diklat ini diselenggarakan dengan 53 Jam Pelajaran yang tidak hanya memberi materi tentang leadership, tetapi juga menyiapkan kepala madrasah dalam menghadapi siswa-siswi yang saat ini merupakan generasi “digital native”.

Oleh karena itu, Kepala Madrasah dalam pelatihan itu juga diajak untuk merancang bangun pembelajaran dengan kultur akademik yang tinggi, me-rebradning madrasah agar memiliki distingsi. Juga, diberi muatan lokal dalam penanaman nilai Aswaja dan Ke-NU-an sebagai pondasi ajaran Nahdliyyin dan Pembelajaran Aswaja yang menyenagkan.
Dalam penutupan itu, Kepala MI dari Cabang Blitar Imron memberikan kesan selama menjadi peserta diklat. “Kegiatan ini sangat bermanfaat dalam menumbuhkan motivasi dalam memimpin Madrasah, Saya barusan dilantik 1 bulan menjadi Kepala Madrasah, dengan diklat ini akhirnya saya punya modal ide dan sikap dalam memimpin Madrasah,” tandasnya.
Merespons hal itu, Ketua Bidang 2 Diklat dan Penjaminan Mutu PWLP Maarif Jawa Timur Prof. Dr. Hj. Evi Fatimatur Rusydiyah, M.Ag, menegaskan bahwa dirinya sebagai Tim yang membidangi kegiatan diklat ini, tidak hanya membekali peserta dengan modal kognitif, namun menjadi modal spiritual dalam mengembangkan Madrasah.
“Madrasah tidak cukup hanya terdiri dari kelas-kelas, namun harus memiliki program inovatif dengan program unggulan yang menyesuiakan dengan tantangan era digital,” katanya.
Saat menutup diklat, Ketua PW LP Maarif NU Jatim Prof Masdar Hilmy, M.A Ph.D menekankan pentingnya Kamad menjadi faktor pengungkit atau menjadi duta besar dalam melakukan perubahan.
“Dengan demikian, Kamad harus memiliki motivasi dan mengembangkan program yang berdampak. Dengan demikian Kamad harus merumuskan baseline saat ini untuk diukur perubahannya. Dengan demikian program ini perlu dilakukan Monev bagaimana dampak dari pelaksanaan Diklat ini,” tegasnya.
Pada sesi penutupan ini juga dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementrian Agama Jawa Timur Bapak Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I. “Organisasi yang kuat dan sehat harus memiliki beberapa kriteria. Kriteria tersebut adalah memiliki visi-misi yang jelas, AD/ART, SDM yang kompeten, dan jobdesk,” katanya. (*/zi)



