Surabaya, radar96.com – Di sebuah ruang pertemuan Hotel Santika Surabaya, Hj Indah membuka kalimatnya dengan sederhana: “Dari Jawa Timur untuk Indonesia. Sebuah wadah bersinergi terbentuk.” Kalimat itu menjadi penanda lahirnya sebuah wadah baru: Asosiasi MBG Indonesia.
Wadah ini bukan sekadar forum. Ia adalah jembatan. Tempat yayasan dan mitra dapur MBG bertemu, berbicara, dan mencari solusi. “Jika selama ini koordinasi masih tersendat, maka asosiasi ini hadir untuk membantu,” ujar Indah.
Halal bihalal yang digelar pada Senin (6/4/26) menjadi saksi. Ketua Umum, M Turino Junaidy, menegaskan komitmennya. Ia tidak ingin asosiasi itu menjadi ruang penghakiman, tidak pula tempat saling menyalahkan. “Saya siap menjadi jembatan yayasan atau mitra,” katanya. Kalimat itu singkat, tapi tegas.

Junaidy menambahkan, aturan tanpa kebersamaan akan kering. Kebersamaan tanpa aturan akan berantakan. Maka keduanya harus bertemu di titik tengah. Disiplin dalam bersinergi. Insya Allah, semua ada solusi.
Di sisi lain, Kepala KPPG Wilayah 1 Surabaya, Kusmayanti memberi dukungan agar wadah itu mampu memberi solusi.
Demikian pula Kepala KPPG Wilayah 2 Jember, Said Karim, memberi penjelasan lebih teknis. Aturan baru, katanya, sederhana saja. Supplier kini dibatasi lima. Tidak lebih, tidak kurang. Semua usulan datang dari yayasan atau mitra. Kasatpel hanya dilapori. Kepala SPPG tidak perlu ikut campur dalam pengadaan. Ringkasnya: wewenang pengadaan bahan ada di yayasan atau mitra.
Acara ditutup dengan makan siang bersama, lalu foto bersama. Dilanjut bersalaman untuk halal bihalal. Terwujud kebersamaan. Sinergi Dapur MBG telah menemukan bentuk paling sederhana. Saking ta’aruf dan saling memberi. Mereka duduk satu meja, menyantap hidangan, lalu saling membantu. Semoga segera berkiprah untuk kebaikan bersama.



