Surabaya, radar96.com – Imam Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) KHA Muzakky Al-Hafidz menegaskan bahwa haji adalah miniatur kehidupan, karena hidup memang ibarat haji atau menjadi tamu Allah.
“Yang namanya tamu itu ya tidak bisa minta apa-apa, tamu itu ya menerima apa yang disajikan tuan rumah dan tuan rumah kita di dunia adalah Allah,” katanya dalam Kajian Senja di Ballroom Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya (29/4/2026).

KHA Muzakky Al-Hafidz yang juga Dewan Pembina di pesantren itu menjelaskan haji merupakan ibadah yang paling berat. “Karena berat itulah, maka Allah meletakkan Haji sebagai Rukun Islam yang paling bontot/akhir. Itu sama dengan Rukun Iman yang paling bontot adalah percaya pada qodo dan qodar Allah, itu paling berat, karena taruhannya sabar dan ikhlas,” katanya.
Sebagai ibadah paling akhir, maka Haji itu bisa dijalani dengan sempurna bila syahadatnya, sholatnya, zakatnya, juga sudah sempurna. “Syahadat yang sempurna itu maksudnya, hati yang bersih, haji karena Allah, bukan karena ingin dipanggil Pak Haji dan Bu Hajjah, bukan haji mardut (ditolak/mabur), tapi haji mabrur (diterima), bukan niat haji karena selain Allah.
“Haji itu tamu Allah, tamu itu pasti ada sajian/hidangan, kadang sajian itu cocok, kadang nggak cocok. Saya ingat pertama kali membimbing Haji Plus pada tahun 2006. Haji reguler itu relatif patuh, kalau Haji Plus itu suka sok. Saat maskapai memberitahu kalau pesawat itu delay 8 jam, maka ada yang marah, protes, banting tas, banting koper, padahal itu hidangan Allah. Kalau mau mabrur ya jadilah tamu Allah yang baik, sajian apapun diterima. Jadi, kita harus menata hati, banyak zikir dan baca Qur’an yang ada di airport/bandara,” katanya.
Saat di pesawat pun ada hidangan lagi. Panitia berusaha agar suami-isteri bisa duduk berdampingan, tapi komputer juga ada error, sehingga ada data suami-istri yang tak berdampingan. “Saya minta maaf, tapi dia marah karena dirinya merasa harus terbang bersama suami. Ini miniatur kehidupan. Hidup itu sesungguhnya menikmati sajian Allah. Kalau ikhlas karena Allah ya berhasil. Itulah hidup. Niat harus suci. Syahadat harus suci,” katanya.
Kedua, sholatnya harus sempurna. “Sholat itu apa, sholat itu dzikir/doa. Dimensi haji itu doa, di Arofah, di Mina, di Masjidilharam. Ada sajian tempat paling mustajabah, yakni Padang Arofah. Semua permintaan yang dipanjatkan di Padang Arofah itu pasti dikabulkan. Itu jaminan. Ada yang berdoa sampai nangis. Doa apa kok nangis? Ia bilang minta ampun dan rohmat dan jodoh, boleh? Semua doa itu boleh, asal nggak doa putus silaturahmi dan menjelekkan orang lain. Doa itu kembali ke kita, jangan doa tok, apakah kita sudah perbaiki diri ya. Yang mahal dari haji itu bukan biaya, tapi takdir-Nya kepada kita, maka perbanyak doa,” katanya.
Berikutnya, tawaf di Masjidilharam. Ada multazam (pintu ka’bah), apa yang diminta? Minta ketetapan iman kita dan anak-anak. Geser sedikit ke kanan ada makam Ibrahim yang merupakan bekas pijakan tapak kaki Nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah (doa minta keluarga sakinah). Geser lagi ada Hijr Ismail (kamar kecil), disunnahkan tempelkan perut. Selanjutnya, geser ke kanan, ada rukun Yamani (pojok Yamani), baca doa ‘Robbana atina fid-dunya… (kenaikan dunia-akhirat), lalu ada Sumur Zamzam yang bisa diminum, baca doa minta ilmu manfaat, rezeki yang lapang, dan sembuh dari segala penyakit. Jadi, semua kebutuhan kita tercover di pelataran Ka’bah, di Padang Arofah. Itu yang mahal dari haji.
“Karena itu, saya mikir, kenapa orang haji harus menangis dan yang ditinggal juga menangis? Saya teliti, ternyata haji itu sama dengan mati atau menikah. Mati/menikah itu membutuhkan doa. Kok haji ditangisi? Rasulullah itu haji sekali seumur hidup. Haji Wada. Nabi umroh 4 kali dan haji seumur sekali. Haji wada’, haji pamitan, haji perpisahan. Dua bulan pulang dari haji, Nabi wafat. Haji itu klimaks/puncak ibadah. Jadi, haji yang mahal itu bukan biaya-nya, tapi takdir Allah. Allah mengajari kita dengan haji.
“Kita belajar akhlak kehidupan dari Haji. Haji itu Miniatur Kehidupan. Ada tiga larangan saat haji yakni jangan rofas (merayu/pendorong timbulnya hubungan suami-istri yang membatalkan haji hingga harus bayar dam dan menunda haji — hubungan suami-istri itu tidak boleh saat masih pakai ihram, tapi setelah ihram/tahallul ya boleh, haji cuma 5 hari/tanggal 8-12). Larangan kedua, fusuko (jangan fasik/ melanggar agama/dzalim). Ketiga, jangan jidala (berbantah-bantahan). Maksudnya, dalam hidup itu kita harus tawadhu, meski beda, jangan bantah-bantahan, agar nggak ada permusuhan….,” katanya. (*/yasmin)



