By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
  • Home
  • Nahdliyyin
  • Sospol
  • Milenial
  • Gus File
  • Warta DigitalNew
Search
MORE MENUS
  • Kultural
  • Kolom
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Tasawuf Urban
  • Berita Foto
  • Gus File
  • Inforial
  • Jatim Update
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
Reading: Cara menebus Dosa Ghibah
Share
Sign In
Font ResizerAa
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Font ResizerAa
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Search
  • Home
  • Warta DigitalNew
  • Nahdliyyin
  • Milenial
  • Kontrahoax
  • Ekraf
  • Sospol
  • Inforial
  • Kolom
  • Kultural
  • Gus File
  • Tasawuf Urban
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
radar96.com | Berkarakter dan Edukatif > Blog > Tasawuf Urban > Cara menebus Dosa Ghibah
Tasawuf Urban

Cara menebus Dosa Ghibah

04/02/2022 Tasawuf Urban
Ilustrasi - Ghibah (*/NUO)
SHARE

Ghibah adalah salah satu dosa besar dalam Islam. Ghibah mengandung daya rusak sosial luar biasa. Ghibah adalah membahas “negatif” tentang orang lain tapi benar, yang diibaratkan makan bangkai saudara sendiri. (Sebaliknya, Fitnah adalah membahas “negatif” tentang orang lain tapi salah, yang diibaratkan membunuh). Oleh karena itu, dosa ghibah mesti ditebus agar tidak menjadi tanggungan kelak di akhirat yang dapat menguras perbendaharaan pahala kita.

Imam Al-Ghazali menyebutkan sejumlah cara atau langkah yang harus ditempuh bagi orang yang terlanjur melakukan dosa ghibah.

اعلم أن الواجب على المغتاب أن يندم ويتوب ويتأسف على ما فعله ليخرج به من حق الله سبحانه ثم يستحل المغتاب ليحله فيخرج من مظلمته وينبغي أن يستحله وهو حزين متأسف نادم على فعله

Artinya: “Ketahuilah, orang yang melakukan ghibah wajib menyesal, bertobat, dan bersedih atas perbuatan ghibahnya agar ia dapat keluar dari hak Allah, kemudian ia meminta maaf kepada orang yang dighibahkan agar korban merelakannya sehingga ia dapat keluar dari dosa kezalimannya. Ia seyogianya meminta maaf kepada orang yang dighibahkan untuk merelakannya dengan keadaan bersedih dan menyesal atas perbuatannya”.
(Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439 H-1440 H], juz III, halaman 158).

Adapun permohonan ampun (istighfar) oleh pelaku ghibah untuk korban ghibah sangat dianjurkan sebagai kafarat atau penebus dosa ghibah. Mendoakan korban merupakan salah satu jalan kafarat sebagaimana hadits berikut ini:

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم كفارة من اغتبته أن تستغفر له

Artinya, “Rasulullah saw bersabda, ‘Kafarat (penebusan dosa) terhadap orang yang kau ghibahkan adalah kau memintakan ampunan Allah (istighfar) untuknya”.
(HR Ibnu Abid Duniya dan Musnad Harits bin Abi Usamah).

Orang yang membawa dosa ghibah tanpa penebusan akan diadili di akhirat. Pelaku kezaliman berupa ghibah salah satunya akan dituntut untuk membayar kezalimannya dengan pahala yang dia punya. Kelak ketika pahalanya habis dan tidak ada lagi pahala untuk menebus kezalimannya, dosa korban akan ditimpakan kepada pelaku.

Betapa malangnya nasib orang-orang zalim sebagaimana riwayat hadits berikut ini:

روي أنه صلى الله عليه و سلم قال من كانت لأخيه عنده مظلمة في عرض أو مال فليستحللها منه من قبل أن يأتي يوم ليس هناك دينار ولا درهم إنما يؤخذ من حسناته فإن لم يكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فزيدت على سيئاته

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa saja yang menyisakan kezaliman harga diri atau harta pada saudaranya, hendaklah ia meminta maaf kepada saudaranya sebelum tiba hari di mana tidak ada lagi dinar dan dirham. Kelak pahala pelaku ghibah akan diambil (untuk korban ghibahnya). Jika pelaku tidak lagi memiliki pahala, maka dosa korban akan diambil dan dipindahkan ke dalam catatan dosa pelaku”.
(HR Muttafaq alaih).

Adapun permohonan maaf (istihlal) kepada korban wajib dilakukan sekiranya ia mampu dan tidak menimbulkan respons negatif. Sekiranya korban akan naik pitam dan berbuat kalap, permohonan maaf sebaiknya tidak dilakukan. Tetapi ia harus mengkompensasinya dengan istighfar, doa, dan amal ibadah lain yang pahalanya dimaksudkan untuk korban.

فإذن لا بد من الاستحلال إن قدر عليه فإن كان غائبا أو ميتا فينبغي أن يكثر له الاستغفار والدعاء ويكثر من الحسنات

Artinya: “Kalau begitu, permintaan maaf pelaku (agar korban sudi merelakan ghibah terhadapnya) harus dilakukan jika mampu. Tetapi jika posisi korban entah di mana atau sudah meninggal, maka pelaku seharusnya memperbanyak istighfar, doa, dan kebaikan (yang pahalanya dimaksudkan) untuk korban ghibah”.
(Al-Ghazali, 2018 M/1439 H-1440 H: III/158).

Demikian cara atau langkah penebusan dosa ghibah dan kezaliman secara umum kepada orang lain. Sekiranya diperlukan pelaku juga harus mengklarifikasi di publik sekiranya ghibah itu merupakan informasi hoaks. Jadi, kita bicara yang positif-positif saja tentang siapapun, atau paling tidak ya diam. Wallahu a’lam. (*/NUO)

Sumber: https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/cara-menebus-dosa-ghibah-Jw8pM (Alhafiz Kurniawan)

Iklan.

You Might Also Like

Kecerdasan dan Ketaatan dalam Beragama

Bahaya Menebar Kebencian

Ibrahim Inspiring dan Moderasi Beragama

Ada yang Harus Disembelih dari Hati Kita

Menghidupkan Spiritualitas Thariqat Al Qadiriyah di Dunia Modern (Catatan Muhibbah ke Baghdad)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Copy Link Print
Previous Article Jurus Jatim hadapi Gelombang Ketiga Covid-19
Next Article Jatim sesuaikan PTM dengan SE Mendikbud-Ristek terkait tren COVID-19

Advertisement



Berita Terbaru

Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab: Haji itu soal Panggilan dan Mampu
Kultural
Pesantren se-Madura Raya Bergerak Bersama, Modernisasi Koperasi jadi Fokus Utama
Sospol
PWNU Jatim: Jangan Rekayasa Kasus Dugaan Pencabulan di Pesantren Pagerwojo-Sidoarjo yang sudah Vonis
Nahdliyyin
Dewan Kesenian Bagian Spesifik dari Kebudayaan 
Kolom

You Might also Like

Tasawuf Urban

4 golongan orang haji pada akhir Zaman

18/05/2024
Tasawuf Urban

Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 13: Larangan Membangga-banggakan Garis Keturunan

14/05/2024
Tasawuf Urban

Apa Sih Ruginya Beriman kepada Allah?

08/04/2024
Tasawuf Urban

Di KJRI Hamburg Jerman, Guru Besar UIN KHAS Jember Jelaskan 3 Manfaat Dzikir dalam Islam

25/03/2024
radar96.com | Berkarakter dan Edukatifradar96.com | Berkarakter dan Edukatif
Follow US
© 2024 radar96.com. All Rights Reserved.
  • Tentang Kami
  • Pasang Iklan di Radar96
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Susunan Redaksi
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?