Oleh: M. Subhan *)
Sekitar tahun 2009 Pak Anton Bahrul Alam meninggalkan Mapolda Kalsel lalu menjabat Kapolda Jatim.
Posisinya di Kalsel digantikan Pak Untung S Radjab yg geser dr Mapolda Yogyakarta.
Pada masa itu sy sebagai anggota Panwaslu Sidoarjo dan sudah kenal baik dg Pak Untung.
Sebelum menjabat Kapolda Jogja, orang dekat Gus Miek ini menjabat Karo Renmin Bareskrim Mabes Polri. Sudah bintang satu.
Nah, saat di jabatan itulah sy pernah ke kantornya. Bisa ngobrol dan guyon berdua dg bebas di kantornya.
Sy lihat sajadah sdh standby dlm posisi menghadap kiblat dan selalu siaga melayani juragannya di belakang meja kerja.
Sy mengenal Pak Untung karena dikenalkan oleh Habib Muhammad Baharun dr Malang.
Pak Anton, Kapolda Jatim yg baru, bikin gebrakan luar biasa di Surabaya. Setiap waktu shalat ia hadir di masjid dan shalat berjamaah.
Tidak hanya itu, ia sering blusukan menjelang subuh ke masjid2 untuk iktikaf dan shalat subuh.
Tidak berseragam polisi, tapi memakai jubah dan sorban putih di kepala.
Masjid-masjid pun semarak dg shalat berjamaah di masa Pak Anton menjabat Kapolda Jatim.
Begitu pula dg anak buahnya, banyak yang saba masjid mengikuti langkah sang komandan.
Tapi di sisi lain, banyak yg mengatakan Pak Anton ini pengikut Jaula alias jamaah tabligh yg berpusat di Temboro Magetan.
Nun jauh di sana, Pak Untung juga menjadi Kapolda baru di Kalsel.
Suatu ketika, ada kegiatan Panwaslu di Banjarmasin, untuk daerah-daerah yg akan melaksanakan Pilkada. Sidoarjo di antaranya. Sy termasuk peserta acara itu.
Teryata jarak hotel tempat acaranya berdekatan dg Mapolda Kalsel.
Usai acara sy naik becak ke Mapolda, sekitar pukul 12:00 untuk menemui Pak Untung.
Masuk ruang Kapolda ketika usai shalat dzuhur dan memasuki jam makan siang.
Kami diajak makan siang bersama Waka Polda dan para Direktur.
Usai makan siang kami ngobrol2.
Sebagai pembuka suasana, saya pancing dengan perkiraan program kerja yg akan dilakukan Pak Untung.
Dalam benak sy kala itu, Pak Untung tidak jauh berbeda dengan Pak Anton. Sama2 alim, sama2 dekat kiai. Tentunya akan sama2 dekat masjid.
“Nanti di sini melanjutkan program Pak Anton, yang suka datang dari masjid ke masjid?” pancing saya.
Rupanya sy salah duga.
Bukannya Pak Untung senang, tapi menanggapinya dg nada tinggi, yg bisa juga dikatakan marah. Dialegnya pun berubah menjadi Suroboyoan.
“Ngawur ae!!
Kalau ada anggota yg kayak gitu, tambah tak sel!
Sopo sing kate ngeloni bojone nang omah?
(Siapa yg akan meniduri istrinya di rumah?”
kata Pak Untung dg nada tinggi.
Nyali saya langsung mengkeret.
Lalu sy lebih banyak sebagai pendengar saja. Lebih aman.
Sampai akhirnya sy baru menyadari, kedua polisi santri itu sama-sama baiknya, tapi beda jalan.
Pak Anton lbh suka jalan formal: memakai jubah dan sorban, lalu iktikaf di masjid2.
Jadinya masjid makin semarak dan banyak polisi yg rajin berjamaah di masjid.
Sebaliknya, Pak Untung lebih suka memilih jalur non formal.
Ia lebih suka mendatangi tempat2 hiburan malam, dunia gemerlap dan dunia hitam. Tapi tetap tidak pernah jauh dari kiai.
Meski dikenal berwatak keras dan tegaan, tapi dia mudah menangis. Inilah yg saya kagumi.
Pernah suatu ketika ada pertemuan Semaan Al-Qur’an di kediamannya, Gayungan, tapi dlm sekala kecil. Pesertanya hanya beberapa orang (sepertinya) Kapolres. Gus Farid Wajdi hadir dr Jember.
Sy lihat Pak Untung bisa menangis ketika menyampaikan sambutan.
Kesan itu begitu mendalam bagi saya, meski belum bisa meniru hingga sekarang.
*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi Radar96.com.



