Ber-NU 95 Tahun dan NU Milenial

M. Rikza Chamami
M. Rikza Chamami
Bagikan yuk..!

Oleh M. Rikza Chamami *)

Usia Nahdlatul Ulama (NU) dalam penghitungan kalender miladiyah sudah 95 tahun. Usia ini sudah tua dan matang. Kiprah NU sangat dinamis. Ketuaan usia organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini menjadikan wajah NU santun. Kematangan NU di usia 95 tahun membuatnya moderat.

Kesantunan dalam bingkai NU disematkan dengan berbagai dasar ideologis Ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja). Garis keilmuan NU nyata-nyata bersambung hingga Rasulullah SAW dan kemudian dilanjutkan oleh ulama. Sumber referensi keilmuan terstruktur rapi dari tingkat dasar hingga tingkat khos.

Oleh karenanya, prinsip santun selalu dipegang teguh dalam NU. Takdzim kepada dawuh Kyai menjadi karakter ber-NU. Standar ini yang kemudian disebut sebagai “jalan lurus”. Bahwa NU itu lahir dari ulama, maka generasi penerusnya memakai “jalan lurus” yang sesuai pedoman ber-NU itu.

Lalu bagaimana dengan pola kematangan berNU? Disinilah tantangan hari ini dan proyeksi di masa depan. Ketika memakai GPS “jalan lurus” tentu akan mengalami kendala faktual, sebab hari ini peta jalan selalu berubah, maka wujud kematangan itu dapat dilahirkan “jalan alternatif”.

Artinya bahwa ada “update” peta jalan yang membuat NU tidak terhenti. NU harus dinamis dan terus berjalan. Simbol kematangan dengan “jalan alternatif” tetap pada manhaj “jalan lurus” yang menjadi rujukan utamanya. Dengan demikian, maka akan menjadikan prinsip moderat NU terjaga dengan baik.

Milenial NU

Bicara masa kini, maka tidak akan bisa menutup masa lalu. Disinilah NU sangat piawai dalam menyikapi. Masa lalu selalu dipegang oleh NU. Sejarah, sanad keilmuan, ideologi hingga sikap politik selalu menjadi rujukan NU, maka akar tradisi di NU tidak mudah dihilangkan.

Dengan pegangan teguh tradisi itu, akan lunak memahami masa kini. NU tidak tergopoh-gopoh dalam mengambil sikapnya dalam semua hal. Soal hukum agama, NU memiliki basis referensi yang sangat kuat. Dalam bermasyarakat, basis antropologis NU sangat mengakar. Bahkan dalam menentukan sikap politik, NU punya jalan istikharah dan strategi.

Salah satu tugas NU hari ini adalah mengkader generasi penerusnya. Basis kaderisasi yang sudah tertata dari IPNU, IPPNU, GP Ansor dan Fatayat NU (termasuk kaderisasi PMII) harus dilihat dengan cermat. Visi milenial yang ada, tetap dikuatkan akar tradisi “jalan lurus”, sebab itulah ruh NU. Tidak boleh ditinggalkan.

Jangan sampai, generasi milenial NU hanya memakai “jalan alternatif” saja. Sebab ini akan merusak tatanan NU di masa mendatang. Meyakinkan generasi muda dengan dasar ideologis NU tetap dengan bahasa anak muda. Maka disinilah muncul tantangan-tantangan kaderisasi yang harus dihadapi.

Kita mencoba melihat peristiwa persemon restu mendirikan NU dari KH Kholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy’ari yang disimbolkan dengan tongkat dan tasbih yang dibawa santri muda As’ad (sekarang jadi KH As’ad Syamsul Arifin) pada tahun 1924 dan 1925.

Tongkat dengan pesan ayat Al-Qur’an Surat Toha ayat 17-23 mempunyai makna filosofis tentang keteguhan sikap dan mukjizat. NU lahir dengan semangat tongkat Nabi Musa yang menjadi identitas tentang perjuangan meletakkan dasar-dasar keislaman dan dakwah keagamaan.

Demikian juga tasbih yang dibacakan asmaul husna Ya Jabbar (Yang Memiliki Mutlak Kegagahan) dan Ya Qahhar (Yang Maha Mengalahkan) –menjadi pesan tentang semangat berjuang dan waspada dalam setiap melangkah meraih kemenangan.

Dua pesan simbolik ini perlu menjadi pegangan para generasi muda NU agar tetap mempunyai bekal tongkat dan tasbih. Tongkat dan tasbih dalam gerakan milenial ini dapat dilakukan dengan empat pola gerakan:

Pertama, kaderisasi ulama tanpa henti. Generasi muda NU perlu meneguhkan dengan melakukan kaderisasi ulama, jangan tergiur dengan pola-pola arus modern yang akhirnya kaderisasi ini terhenti. Setiap keturunan warga NU perlu kiranya dikader menjadi ulama –dan masyarakat nanti akan melihat kekhidmatannya. Disinilah kekuatan pondok pesantren, madrasah diniyyah, madrasah formal, musholla dan masjid akan menjadi semakin kuat basis keNUannya.

Kedua, menghidupkan karya-karya ulama dengan bahasa anak muda. Sudah waktunya, kitab-kitab rujukan pesantren dibahasakan secara milenial. Akar tradisi kitab kuning dengan kekhasan pesantren utawi iki iku tetap dipertahankan. Publikasinya yang diatur dengan gaya anak muda: diterjemahkan Indonesia dan bila perlu dengan bahasa Inggris. Perlu juga publikasi kitab kuning dengan pengembangan Android dan memvideokan khazanah kitab pesantren.

Ketiga, mendidik kader NU menjadi kader bangsa di semua lini. Keluasan basis pendidikan generasi muda NU sekarang ini menjadi kekuatan baru. Maka sudah waktunya mendistribusikan kader muda ini di semua lini: Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, Perusahaan dan Dunia Internasional. Tidak ada kata tertinggal, tapi waktunya untuk melangkah maju. Dengan pola ini, maka menjadikan NKRI tetap utuh dan dunia damai akan terwujud dengan kontribusi generasi NU.

Keempat, mencintai jam’iyyah NU lahir batin. Kenapa ini harus ada? Ada sebagian “pihak” yang cinta jam’iyyah NU hanya ketika mau menuju kepentingan saja. Ketika kepentingan tergapai, ia lari dari jam’iyyah. Ini memalukan. Maka NU perlu selektif dalam melakukan ikhtiyar filterisasi loyalitas.

Pola yang keempat ini juga butuh kesinambungan dari petinggi NU yang juga perlu mengarahkan anak turunnya agar tetap berjam’iyyah NU sejak muda. Tiak elok, jika orang tuanya petinggi jam’iyyah NU bisa mengajak anak orang lain berjam’iyyah, tapi anaknya tidak ikut berlayar. Termasuk pula, pentingnya tidak adalagi dikotomi NU struktural dan NU kultural. (*)

*) Penulis adalah pengurus PW Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah dan Kepala Pusat PPM LP2M UIN Walisongo

Komentar Facebook

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *