PBNU apresiasi “Asosiasi YouTuber Santri Indonesia”

Haul ke-50 KH Abd Wahab Chasbullah yang juga dihadiri Presiden Joko Widodo (daring) dan Gubernur Jatim Khofifah (luring) serta Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Sirodj (daring) yang disiarkan dari Jombang, Jatim, Selasa (22/6) malam. (*/my)
Bagikan yuk..!

Jombang (Radar96.com) – Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Sirodj mengapresiasi peluncuran “Asosiasi YouTuber Santri Indonesia” (AYSI)
dalam Haul Ke-50 Virtual KH Abd Wahab Chasbullah di Jombang, Selasa (22/6) malam.

“Sekarang, kita memasuki era 5.0 atau era peradaban digital yang gaya hidupnya itu dengan ketergantungan terhadap teknologi, maka kita juga harus kejar. Alhamdulillah, ada peluncuran AYSI, saya terharu dan bersyukur, jadi kita nggak ketinggalan,” katanya.

Dalam Haul ke-50 KH Abd Wahab Chasbullah yang juga dihadiri Presiden Joko Widodo (daring) dan Gubernur Jatim Khofifah (luring) itu, KH Said Aqil Sirodj mengingatkan hal penting dalam era peradaban digital adalah menjaga karakter, karena masyarakat menghadapi tantangan “border less” (tanpa batas).

“Karakter itu penting, karena era peradaban digital itu dipenuhi dengan narasi radikalisme, liberalisme, sekulerisme, atheisme yang bisa masuk dengan berbagai platform dan kecanggihan. Itu perang peradaban yang bukan perang fisik, tapi kolonialisme baru yang harus dimenangkan dengan
digital talent dan cyber army serta karakter yang kuat,” katanya.

Era peradaban digital itu ditandai dengan perang kebudayaan pop (film, musik, game, animasi), perang digital (konten/database), perang biologis (perang vaksin), dan perang energi, makanan, air, dan sebagainya. “Itu sulit dilawan tanpa kesiapan karakter dan kemampuan digital agar NU dapat mengarahkan untuk kemenangan peradaban,” katanya.

Dalam Haul ke-50 KH Abd Wahab Chasbullah yang juga dihadiri Ketua PWNU Jatim KH Marzuqi Mustamar itu, pendakwah asal Yogyakarta H Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah) menyampaikan refleksi untuk meneladani pendiri NU dan pejuang NKRI KH Abd Wahab Chasbullah yang hikmadnya luar biasa kepada NU.

“Kita jangan meninggalkan tradisi lama yang masih baik di lingkungan NU, diantaranya madrasah diniyah (madin), ngaji Qur’an dengan Turutan, ziarah kubur, tahlil, dan sebagainya, kita harus malu kepada beliau, karena kita bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya. Untuk itu, kita pakai madin, kalau TPQ atau TPA milik orang lain. Juga Iqro. Ziarah atau tahlil itu khas, kalau wisata atau kalimah thoyyibah bisa macam-macam,” katanya.

Refleksi lain yang disampaikan Gus Miftah yang juga pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta adalah KH Abd Wahab Chasbullah itu kaya tapi dermawan karena hartanya untuk perjuangan NU. KH Wahab Chasbullah juga penggiat media.

“Beliau memiliki percetakan di Jalan Sasak 23, Surabaya yang diteruskan KH Mahfudz Shiddiq untuk menerbitkan “Berita NU”. Kiai Wahab juga mendirikan tashwirul afkar dan melibatkan orang lain dalam setiap tindakannya. Jadi, kalau generasi sekarang itu harus melibatkan diri dalam perang medsos,” katanya.

Haul Emas Virtual 50 Tahun KH Abd Wahab Chasbullah yang disiarkan langsung dari Masjid Jami’ Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur itu disiarkan juga oleh 250 channel YouTube dengan total subcribe mencapai 4 juta dan MAXstream Telkomsel, yang menyebar di berbagai provinsi dan luar negeri. (*/my)

Komentar Facebook

BeritaTerkait

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *